BERITA UTAMA

Antisipasi Tawuran yang Timbulkan Korban Jiwa, Ketua FWP-SB Minta Kepala Daerah Berlakukan Jam Malam

0
×

Antisipasi Tawuran yang Timbulkan Korban Jiwa, Ketua FWP-SB Minta Kepala Daerah Berlakukan Jam Malam

Sebarkan artikel ini
Ketua Forum Wartawan Parlemen Sumatra Barat (FWP-SB), Novrianto

Tawuran sangat meresahkan warga. Kian hari semakin banyak kor­ban berjatuhan karena keberi­nga­san remaja yang berstatus pelajar hingga putus sekolah yang terga­bung dalam berbagai kelompok atau geng khusus tawuran.

Baru-baru ini, dua pelajar tewas karena korban tawuran, namun itu tidak akan berhenti, kalau tidak ada tindakan tegas dari pengambil ke­bijakan didaerah masing-masing.

Sekaitan dengan makin marak­nya tawuran, Ketua Forum Warta­wan Parlemen Sumatra Barat (FWP-SB) Novrianto, SP, meminta pada pengambil kebijakan, ber­koordinasi dengan forum komunikasi pimpinan da­erah (Forkompinda) segera memberlakukan jam ma­lam bagi remaja, khu­sus­nya pelajar.

Selain berkordinasi de­ngan Forkompinda, pe­ngambil kebijakan di dae­rah yakni, Gubernur, Bupati dan walikota, juga mela­kukan kordinasi dengan berbagai organisasi kema­syarakatan , baik organi­sasi adat, agama, maupun so­sial, agar ikut mendukung kebijakan yang akan dibuat yakni pemberlakukan jam malam, serta sanksinya.

Menurut Novrianto, jika ada yang melanggar ke­ten­tuan tersebut, bukan hanya pelaku saja yang mendapat sanksi, tapi orang tua-nya juga harus mendapat sanksi, se­hing­ga bisa mengawasi anak-anak dengan ketat.

Ia juga meminta, ada­nya instruksi dari aparat keamanan pada masyara­kat untuk melakukan pam­swakarsa, dengan tidak memberikan peluang dae­rah mereka dijadikan tem­pat berkumpul dengan ke­giatan yang tidak jelas.

Baca Juga  Enam Pengedar Ganja Diciduk di Tanah Datar, Ada Kakak Beradik dan Remaja Bawah Umur

“Pengambil kebijakan, yakni kepala daerah se­mua tingkatan harus bera­ni memberlakukan jam malam pada remaja, khu­susnya pelajar, serta mela­ku­kan kordinasi dengan semua elemen, jika ada yang me­langgar, bukan hanya pelaku yang diberi sanksi, termasuk orang tua­nya juga dikenakan sank­si, sehingga penga­wa­san orang tua semakin ketat”, ungkap Novrianto yang kerap dipanggil Ucok, Ming­gu (13/9).

Ditambahkannya, se­lain sanksi terhadap pe­lang­garan jam malam, anak tersebut juga harus mendapat sanksi dari seko­lahnya, jika tidak lagi ber­sekolah maka sanksinya lebih keras lagi.

“Sanksi juga harus dite­rapkan oleh sekolah ma­sing-masing, jika siswanya melanggar jam malam dan tawuran, jika tidak lagi bersekolah sanksi harus lebih keras dan tegas, ka­rena itu buka lagi kena­kalan namun sudah keja­hatan,” tambahnya.

Dia juga menegaskan, adanya tawuran membuat masyarakat resah, takut untuk melakukan kegiatan, khususnya para pedagang yang menunju pasar pada duni hari, sehingga perlu tindakan tegas tanpa ada keraguan lagi.

Baca Juga  Pria Pengidap Epilepsi Ditemukan Tewas Mengambang

“Memang terkadang ada lembaga tertentu yang cari panggung jika pene­rapan jam malam dan sank­si keras diterpakan, dengan dalih HAM, se­mentara orang yang ce­mas karena ulah tawuran gak pernah difikirkan ke­lompok yang cari pang­gung itu,” tegas Novrianto lagi.

Ia juga menyebut, ada sebagian kelompok ma­syarakat meminta agar pelaku tawuran disamakan dengan penjahat, aparat Kepolisian diminta untuk lakukan tembak ditempat.

“Ada juga kelompok masyarakat yang resah meminta, agar aparat Ke­polisian lakukan tembak ditempat pelaku tawuran, jika melawan untuk dibu­barkan, biar masyarakat nyaman dan tidak ada rasa cemas,” tambah Ucok.

Dia juga menghimbau pada semua komponen masyarakat, agar bisa mem­berikan dukungan mo­ral pada pengambil kebija­kan untuk pemberlakuan jam malam, serta duku­ngan penuh pada aparat Kepolisian dalam mela­kukan tindakan terhadap pelaku tawuran.

“Saya juga menghim­bau agar semua kompo­nen mem­berikan duku­ngan moral pada pengam­bil kebijakan serta aparat Kepolisian dalam membe­rikan sanksi atau tindakan, agar tawuran bisa ditekan bahkan dihabiskan,” tu­tupnya. (*)