METRO BISNIS

Wajah Baru Nusakambangan, Warga Binaan Makin Berdaya dengan FABA

0
×

Wajah Baru Nusakambangan, Warga Binaan Makin Berdaya dengan FABA

Sebarkan artikel ini
Warga Binaan Makin Berdaya dengan FABA
MENGOLAH LIMBAH—Warga binaan Lapas Nusakambangan, Cilacap dibekali keterampilan mengolah abu sisa pembakaran batu bara PLTU menjadi produk seperti batako, paving block, roaster, hingga buis beton.

JATENG, METRO–Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, kini mampu menggerakkan roda pere­ko­nomian dengan keterampilan baru. Melalui pengelolaan abu sisa pembakaran batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Adipala berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), warga binaan mampu menghasilkan pro­duk konstruksi bernilai eko­nomi. FABA yang sebelumnya dipandang sebagai limbah tanpa nilai kini be­rubah menjadi sumber peng­hidupan baru.

Melalui workshop FABA yang memanfaatkan lahan tidur di Pulau Nusakambangan, warga binaan dibekali keterampilan mengolah limbah menjadi produk se­perti batako, paving block,­ roaster, hingga buis beton.

Kolaborasi Kementerian Imigrasi dan Pema­sya­rakatan (Imipas) dengan PT PLN (Persero) tersebut menjadi bagian dari transformasi lembaga pema­sya­rakatan, dari citra “penjara menakutkan” menjadi pusat pemberdayaan yang memberi bekal nyata untuk membangun kehidupan pro­duktif pascapembina­an.

Baca Juga  Melalui Srikandi Movement, Komunitas Perempuan PLN Hadirkan Listrik Gratis Bagi Warga Prasejahtera di Sepuluh Kota

Menteri Imipas, Agus Andrianto, menyampaikan apresiasi atas kontribusi PLN dalam program pelatihan yang berfokus pada pemberdayaan warga binaan.

“Program ini merupakan model pelatihan kerja yang sedang kami galakkan untuk mempersiapkan warga binaan agar siap kembali ke masyarakat,” ujarnya saat meninjau _Work­­shop_ Pengelolaan FABA di Lapas Nusakambangan, Selasa (9/9).

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa pemanfaatan FABA menjadi produk bernilai guna tinggi dapat menciptakan peluang eko­nomi sirkuler sekaligus menghadirkan solusi nyata bagi lingkungan.

“Kami bangga, warga binaan Lapas Nusakambangan berhasil memanfaatkan limbah menjadi komoditas produktif. Kegiatan ini juga menciptakan lapangan kerja, memberi dampak positif bagi ma­sya­rakat, serta menghasilkan produk berkualitas dengan harga kompetitif,” ujar Darmawan.

Saat ini, workshop FABA di Nusakambangan dilengkapi dua unit mesin yang mampu memproduksi hingga 2 juta paving block dan 1 juta batako setiap tahun. Jika kapasitas ini berjalan optimal dan pro­duk mulai dipasarkan, work­shop berpotensi meng­hasilkan omzet hingga Rp5,4 miliar per tahun.

Baca Juga  Sambut HUT ke-75, BNI Siap Tebar Kejutan Menarik

Darmawan menyampaikan bahwa sebanyak 30 warga binaan telah aktif dan terampil memproduksi olahan FABA. Ia optimistis jumlah tersebut akan terus bertambah seiring pendampingan dan bimbingan yang berkelanjutan.

“Kami sangat terkesan dengan kemampuan warga binaan yang luar biasa, kedisiplinan, dan etos kerja mereka, sehingga pro­duk yang dihasilkan me­mili­ki kualitas premium dan memiliki potensi pangsa pasar di industri,” tutur Darmawan.

Keberhasilan program ini menunjukkan peran lapas sebagai ruang pembinaan yang produktif dan berdaya guna.

“Ke depan, Nusakambangan akan menjadi percontohan nasional bagaimana sebuah lapas dapat berkembang menjadi epi­sen­trum kegiatan ekonomi sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat,” pung­kas Darmawan. (ped/rel)