OLAHRAGA

Formasi 4 Bek, Andalkan Penguasaan Bola

0
×

Formasi 4 Bek, Andalkan Penguasaan Bola

Sebarkan artikel ini
SELEBRASI— Pemain Timnas Indonesia Eliano Reijnders melakukan selebrasi usai menjebol gawang Chinase Taipei dalam International Friendly Match di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jumat (5/9) lalu. Skuad Garuda berhasil mengalahkan tamunya dengan skor 6-0.

TRANSFORMASI permainan tengah dibangun dalam tubuh Timnas Indonesia. Baik di level senior maupun kelompok usia, pola permainan Garuda kini mulai menampilkan identitas yang seragam: formasi empat bek, me­ngandalkan penguasaan bola, dan menekankan per­mainan menyerang.

Perubahan ini bukan kebetulan semata. PSSI telah merancang struktur kepelatihan yang lebih rapi untuk menopang pengembangan Timnas Indonesia.

Kehadiran Alexander Zwiers sebagai Direktur Teknis, menggantikan Indra Sjafri, melengkapi jajaran teknis yang sebelum­nya sudah diperkuat Jordi Cruyff sebagai Penasehat Teknis dan Simon Tahamata sebagai Kepala Peman­du Bakat.

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyebut filosofi baru ini akan menjadi pondasi jangka panjang. Saat menyaksikan langsung laga Timnas Indonesia U-23 melawan Laos, ia menegaskan bahwa pembentukan gaya bermain ini bukan sekadar proyek jangka pendek, melainkan bagian dari pem­bangunan sepak bola Indonesia secara menyeluruh.

Fondasi Baru Sepak Bola Indonesia

Erick Thohir menegaskan filosofi bermain baru Timnas Indonesia memiliki tiga kunci utama: formasi empat bek sejajar, ball possession, dan sepak bola menyerang. Menurutnya, perubahan yang terlalu sering justru akan menghambat proses pembentukan identitas sepak bola nasional.

”Saya rasa kan kita sudah bicara, kita sedang membangun strata kepelatihan bahwa sekarang kita sudah punya technical director. Kita kontrak 4 ta­hun,” ujar Erick.

”Kita perlu yang namanya tadi pembangunan secara menyeluruh. Kalau kita lihat juga sekarang formasi tim nasional U-23 kita dan senior sudah mulai bermain dengan posisi 4 bek dengan konsep ball poseison dan menyerang.”

Lebih jauh, Erick menegaskan filosofi ini harus dijaga konsistensinya. ”Ya, ini memang kalau diubah terus nanti akhirnya konsep daripada pembangu­nan formasi ke depan be­rubah-berubah lagi,” tegasnya.

Laboratorium Filosofi Baru

Filosofi baru Timnas Indonesia mulai terlihat jelas di skuad U-23 asuhan Ge­rald Vanenburg. Meski sem­pat gagal di Piala AFF U-23, Vanenburg tetap mempertahankan skema empat bek pada Kualifikasi Piala Asia U-23 2026.

Selain itu, gaya bermain berbasis ball possession dan menyerang juga mulai diterapkan. Bahkan, saat menghadapi lawan tangguh seperti Thailand dan Vietnam, Timnas Indonesia U-23 tetap berusaha memainkan sepak bola proaktif dengan penguasaan bola yang dominan.

Transformasi tidak berhenti di level U-23. Timnas Indonesia senior juga mulai menunjukkan wajah baru di bawah asuhan Patrick Kluivert. Pada uji coba melawan Chinese Taipei (5/9), untuk pertama kalinya Indonesia bermain dengan empat bek di era Kluivert.

Hal ini menjadi kontras karena dalam empat laga sebelumnya, Kluivert ma­sih memakai formasi tiga bek yang diwariskan Shin Tae-yong. Perubahan ter­sebut sekaligus menghadirkan corak baru, di mana Indonesia tampil lebih berani dalam menguasai bola dan menyerang lawan.

”Saya mau bermain seperti ini selama ini, tetapi Anda tahu pada pola sebelumnya sulit untuk me­ngubah sistemnya secara langsung karena para pemain datang dari berbagai negara,” kata Kluivert.

”Kami biasanya cuma memiliki satu sampai dua hari untuk beradaptasi, jadi sulit menerapkan sistem ini.”

Pelatih asal Belanda itu menegaskan perubahan ini adalah fondasi untuk masa depan. ”Yang jelas, sistem lama juga jangan dilupakan. Tapi ini adalah sistem baru yang ingin kami mainkan. Saya ingin terus me­nyempurnakannya,” tegasnya. (*/ren)