METRO PADANG

Perubahan Air Danau Diateh masih Misteri

0
×

Perubahan Air Danau Diateh masih Misteri

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Fenomena perubahan warna air di Danau Diateh, Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok menjadi warna coklat kemerahan dan mengeluarkan bau, sempat menjadi misteri beberapa waktu lalu. Pasalnya, air danau yang biasanya jernih mendadak berubah warna.
Sempat menjadi teka-teki, misteri perubahan warna air danau tersebut akhirnya bisa terpecahkan setelah dilakukan penelitian. Hingga kemarin, pihak terkait masih melakukan penelitian terhadap air danau yang merupakan salah icon wisata di Kabupaten Solok tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sumbar bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) V Sumatera, pada 28 Maret 2018 lalu telah melakukan pengambilan sampel air sebagai upaya untuk mengetahui kandungan kimia yang terkandung dalam air tersebut. Kemudian, pada 18 April 2019 hasil laboratorium sudah diterima pihak DLH dari Laboratorium Kesehatan secara lengkap, meliputi lokasi inlet danau outlet danau dan bak penampumgan intake PDAM.
Kepala DLH Sumbar Siti Aisyah menjelaskan, berdasarkan hasil laboratorium kesehatan menunjukkan beberapa parameter di atas ambang batas. Parameter yang sangat menonjol pada saar kejadian adalah Sulfida (H2S) yaitu, 0,1375 mg/l dibandingkan 0,002 mg/l atau 6675 persen.
Siti menyebutkan, setelah dua hari kemudian DLH mengambil sampel, namun hasil ini turun dratis menjadi 0,06 mg/l atau 2.900 persen. Sementara, parameter lain yang juga di atas ambang batas adalah COF, BOD dan Coliform tetapi angkanya tidak signifikan dibandingkan Sulfida.“Bila dibandingka data series sejak 2014 lalu, parameter sulfida berada dibawah ambang batas, tapi sejak tahun 2017 sulfida mulai diatas ambang batas yaitu, 0,03 dan 0,02 mg/l,” ungkap Siti Aisyah dalam keterangan tertulis yang diterima Posmetro, Minggu (21/4).
Akibat perubahan kualitas air dana yang berubah secara cepat dalam dua hari, Siti menduga, hal itu disebabkan terjadi karena pergerakan bumi akibat dampak dari pusat gempa di Solok Selatan. Selain itu, cuaca atau curah hujan juga menyebabkab arus bawah (up willing) sehingga terjadi perubahan warna air danau tersebut. “Jadi kita masih memerlukan dukungan data tambahan yaitu, frekuensi gempa dan curah hujan yang terjadi pada kisaran bulan Februari hingga Maret 2019,” ujar wanita yang akrab disapa Icha itu.
Siti memaparkan, warna kemerahan dapat disebabkan oleh adanya unsur besi ataupun alga yang mati akibat tidak resisten dengan meningkatnya unsur sulfida atau unsur pencemar lain. “Untuk unsur besi sudah dapat dipastikan masih dibawah ambang batas sesuai Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2010 tentang Baku Mitu Air Danau dan Telaga Provinsi Sumbar,” sebut Siti.
Selain itu, Siti juga mendapatkan infromasi lain dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Sumbar, bahwa di sekitar Danau Diateh terdapat pertambangan pasir (galian C), dan pengambilan tanah subur untuk dibawa ke Padanh dan dijual ke kebun atau penjual bunga.
“Hal ini bisa saja penyebab terjadinya perubahan kualitas air danau karena leaching dari areal tambang ini pada saat hujan,” ujar Siti.
Sementara untuk keamanan tanaman dan juga air PDAM, DLH mengklaim, kandungan H2S ini cepat menguap sehingga tidak membahayakan untuk produk pertanian dan air minum. Beberapa parameter air itu biasa dialam ditemukan di atas ambang batas karena faktor alam. “Namun menurut saya sejauh indeks kualitas airnya masih baik maka hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Tapi untuk parameter sulfida yang sangat tinggi ini dan berubah cepat tentu perlu dicermati apakah disebabkan fonomena alam (gempa) atau faktor masuknya zat pencemar akibat ulah manusia,” imbuh Siti.
Maka dari itu pula, DLH Sumbar akan mengumpulkan kembali data terkait gempa, curah hujan, serta melakukan survei lapangan kembali untuk menindaklanjuti informasi tentang keberadaan pertambangan galian tanah atau pasir serta pemanfaatan pestida serta akan mengkaji mengenai bentos atau alga.
“Himbau dari kita kepada semua pihak untuk tidak membuang limbah sayuran ke danau karena akan mencemari danau dan lebih,” imbau Siti.
Seperti diketahui, pada Maret 2019 lalu, air Danau Diateh mengalami perubahan warna. Dimana yang sebelumnya air danau tersebut jernih, mendadak berubah warna menjadi kemerahan dan juga memgerluarkan bau. (mil)

Baca Juga  Bantu Belajar Daring Siswa, Mushalla Ikhwanul Muslimin Karan Dipasangi Wifi