AGAM/BUKITTINGGI

Terapkan MEME, Kurikulum Sekolah Rakyat Seperti SKS di Kuliah

0
×

Terapkan MEME, Kurikulum Sekolah Rakyat Seperti SKS di Kuliah

Sebarkan artikel ini
TINJAU— Gubernur Khofifah saat saat meninjau hari pertama kegiatan belajar Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo, Senin (14/7).

JAKARTA, METRO–Penerapan kurikulum di Sekolah Rakyat memiliki pendekatan khusus, Multi-Entry Multi-Exit (MEME). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti me­nye­butnya seperti satuan kredit semester (SKS) di perguruan tinggi.

Mu’ti menjelaskan, pen­dekatan Multi-Entry Multi-Exit (MEME) ini secara sederhananya akan memberikan fleksibilitas bagi murid untuk memulai dan menyelesaikan studi sesuai dengan kemampuan mereka. Sehingga, tidak me­ng­ha­rus­kan murid menyelesaikan pelajaran secara bersama-sama.

Materi pelajaran dalam Sekolah Rakyat tetap disusun mengikuti pendidikan formal, akan tetapi dikemas dalam bentuk modul. Dengan begitu, murid memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan modul secara berbeda-beda sesuai dengan kapasitas mereka.

“Sistemnya kira-kira kalau secara sederhana itu seperti kuliah dengan sis­tem SKS, di mana murid tidak harus menempuh mata pelajaran dalam waktu yang sama. Tetapi mungkin berbeda-beda satu dengan yang lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya,” paparnya dalam keterangannya di­kutip Minggu (24/8).

Lebih lanjut, Mu’ti me­maparkan, bahwa kurikulum Sekolah Rakyat dirancang untuk memberikan kemampuan praktis dan keahlian yang disesuaikan dengan kondisi sosial maupun lingkungan tempat tinggal murid. Selain itu, mereka juga dapat mengasah kemampuan yang memungkinkan mereka melanjutkan studi atau bekerja setelah menye­lesai­kan pendidikan di Se­kolah Rakyat.

Selain itu, dia juga menekankan pentingnya hidden curriculum yang hadir melalui pengalaman belajar sehari-hari di lingkungan sekolah. Hidden curriculum ini dimaksudkan pada semua pengalaman yang diperoleh murid selama belajar di Sekolah Rakyat. Seperti, norma, nilai, kedisiplinan dan lainnya.

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Muhammad Nuh menambahkan, bahwa keberhasilan Se­kolah Rakyat tidak lepas dari dukungan kuat Kemendikdasmen. Termasuk dalam pemetaan talenta murid, guru, dan kepala sekolah.

“Ada korelasi yang sa­ngat kuat antara gaya belajar, guru, dan murid. Ada juga korelasi dengan latar belakang pendidikan. Ini menjadikan kita optimis untuk mengantarkan Se­kolah Rakyat jauh lebih suk­ses lagi,” tuturnya.

Dari sisi para pendidik, guru-guru Sekolah Rakyat juga menyampaikan harapannya. Guru Bimbingan dan Konseling SRMP 27 Banjarnegara, Fiatul Huu­riyyah mengungkapkan, bahwa kesiapan mental menjadi bekal utama da­lam mengajar anak-anak dengan latar belakang beragam. Karenanya, dia sangat berharap, kerja keras ini dapat membawa mereka ke masa depan yang lebih baik.

“Harapannya, Sekolah Rakyat ke depannya tepat sasaran untuk membantu anak-anak dari keluarga miskin menempuh pendidikan yang layak,” tuturnya.

Sekolah Rakyat sendiri dirumuskan sebagai satuan pendidikan berbasis asrama, dengan pendidikan karakter dan pendidikan formal jadi tumpuan utama. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Saat ini, ada 1.469 guru yang lolos seleksi untuk mengajar di Sekolah Rak­yat di tahap I a dan I b. Ke­mudian, pada tahap I c, ada 900-an guru ini disiapkan untuk 65 Sekolah Rak­yat di titik baru yang akan mulai beroperasi pada Sep­tember 2025. Dengan pe­nambahan 65 sekolah ini, maka ada tambahan sekitar 6.100 siswa yang terbagi dalam 248 rombongan belajar. (jpg)