HOP! Kepengurusan Roni Pahlawan berakhir. Berhenti di tengah jalan. Tiga bulan sebelum masa perpanjangan berakhir. Ada karteker menggantikannya.
Karteker ditugaskan untuk melaksanakan Musyorprov KONI Sumbar. Sebelumnya harus Rapat Kerja (Raker) dulu. Harus itu!
Berhentinya Roni Pahlawan dkk, punya kisah panjang dan berliku. Mungkin lebih panjang dari jalan lintas Aceh – Medan, arena yang mencatatkan prestasi terburuk kedua kontingen Sumbar di PON, dalam 25 tahun terakhir. Dua emas di bawah capaian PON tahun 2004, di Sumsel. Lebih baik dari PON di Jawa Timur, tahun 2000.
Ada banyak kisah di balik persiapan hingga kembali dari arena PON. Kisahnya bak cerita 1001 malam. Ragam kisahnya, diantara yang sempat dicatat, selama kepengurusan ini, tak pernah ada Porprov. Sejatinya, satu periode kepengurusan bisa melaksanakan dua kali Porprov. Atau, semati-mati angin, sekali.
Ketidakadaan Porprov pernah terjadi, semasa kepengurusan KONI 2005-2009. Dalam hitungan jam setelah Irwan Prayitno – Muslim Kasih dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, keduanya langsung mengadakan pertemuan dengan semua bupati/walikota se-Sumbar, membahas Porprov yang terkatung-katung.
Saat keduanya memimpin rapat didampingi Ketua KONI Sumbar Syahrial Bakhtiar, Irwan Prayitno – Muslim Kasim masih memakai kostum putih-putih ketika pelantikan.
Periode kepengurusan 2021-2025, tak ada Pelatda PON. Biasanya setahun sebelum PON, atau minimal enam bulan. Tanpa latihan gabungan semua atlet untuk menyatukan Chemistry (Kemistri) sebuah kontingen besar untuk multi ivent.
Kisah “drama” kepengurusan yang dipimpin Roni Pahlawan menjadi catatan tersendiri. Bermula dari terpilihnya Ronny Pahlawan sebagai Ketua Umum KONI Sumbar periode 2021-2025 dalam Musyawarah Olahraga Provinsi Luar Biasa (Musorprovlub) KONI Sumbar, di Padang, Juni 2022.
Kepengurusan baru bisa dilantik setahun kemudian. Perbedaan pendapat dan langkah tak seirama antara ketua terpilih dengan pemerintah provinsi disebut sebagai penyebab terkatung-katungnya proses. Tersiar juga kabar, ada komunikasi yang macet.
Terlepas hasil buruk di PON Aceh – Medan, disaat periode kepengurusan berakhir, tak ditindaklanjuti dengan Raker dan Musyorprov, tetapi pengurus mengajukan perpanjangan waktu. Alasannya, ada proses penyelesaian laporan keuangan.
KONI Pusat memperpanjang masa kepengurusan, enam bulan. Berakhir November 2025. Sejak itu, mulai muncul suara dari insan olahraga. Proses perpanjangan diduga tidak pula sesuai aturan. Tidak ada tanda-tanda Porprov dijalankan. Bonus PON belum juga cair.
Seakan pertandingan di ring tinju. Adu cerdik. Adu strategi. Adu kuat. Siapa cerdik, siapa kuat, jadi pemenang. Silang pendapat, adu dan uji argumentasi terjadi antara KONI Sumbar dengan Dispora Sumbar. SK perpanjangan dari KONI Pusat dijawab dengan argumentasi dan langkah telak oleh Dispora. Salah satunya, tidak mencairkan anggaran pascaberakhirnya periode kepengurusan.
Dispora Sumbar membeberkan sejumlah dugaan ketidakberesan perpanjangan masa kepengurusan. KONI Sumbar tetap bersikukuh patuh pada SK perpanjangan. Disaat “pertikaian” KONI Sumbar dan Dispora Sumbar, sejumlah insan olahraga dari berbagai Cabor menggembok kantor KONI Sumbar.
Kurang sebulan diantaranya, KONI Pusat mengeluarkan keputusan mengejutkan. Menunjuk karteker. Menghentikan masa berlalu kepengurusan yang diperpanjang, setelah beberapa hari sebelumnya, Roni Pahlawan menyerahkan kembali mandat penugasan untuknya kepada KONI Pusat.
Artinya, kepengurusan Roni Pahlawan lebih cepat tiga bulan menyelesaikan “mandat” sebelum jatuh tempo perpanjangan yang diperjuangkan sebelumnya.
Tim karteker KONI Sumbar langsung bergerak. Wakil Ketua Karteker KONI Sumbar, Prof.Syahrial Bakhtiar, Wakil Sekretaris Mukti Ali Kusmayadi Putra langsung meninjau kantor KONI di Jln Rasuna Said, Padang, bersama tim Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar serta Kepala sekretariat KONI Sumbar, Al Furqan. Tujuannya memastikan roda organisasi tetap berjalan lancar.
Sabtu (23/8) malam, Ketua Karteker Erizal Chaniago bersama Wakil Ketua Prof. Syahrial Bakhtiar, Wakil Sekretaris Mukti Ali Kusmayadi Putra, dan Pelaksana Tugas (Plt) Kadispora Sumbar, Dedy Diantolani langsung bersilaturrahmi menemui Gubernur Sumbar Mahyeldi. Sejumlah pekerjaan sudah “dicicil” hingga dalam waktu dekat akan dijadwalkan pelaksanaan Rakerda, Musyorprov hingga pelantikan sehingga kepengurusan periode 2025-2029 segera bisa bekerja.
Pekerjaan paling mendasar, laksanakan Porprov agar ritme dua tahunan bisa dilaksanakan pada 2025, 2027, sekaligus jadi persiapan atlet untuk ivent berikutnya. Agenda besar, Porwil dan PON di NTB – NTT sudah menunggu.
Tugas Besar Langsung Menunggu
Memang, tak ada pilihan. Segerakan Raker, laksanakan Musyorprov dan lantik pengurus baru. Semua harus dilakukan dalam rentang waktu singkat. Banyak bengkalaian pekerjaan pengurus terdahulu. Segera dikejar agar tidak terlambat. Memaksimalkan waktu yang tersedia.
Beberapa hal penting, menurut saya, kepengurusan KONI Sumbar ke depan sebaiknya diisi orang-orang yang memiliki latar belakang olahraga, sekaligus paham dengan tugas dan fungsinya mengurus olahraga. Hal yang tak bisa ditawar, Ketua Umum KONI Provinsi adalah sosok yang disukai pemerintah daerah, pengurus Cabor dan komunikatif dengan semua pihak. Peran dan tugasnya tidak hanya mengurus internal, tetapi juga keluar. Beradaptasi dengan semua pihak karena terbatasnya keuangan daerah, harus mampu mencair keluar dalam bentuk sponsor dan pendanaan lain.
Berikutnya, segera cairkan bonus peraih medali PON Aceh – Medan. Sudah terlalu lama mereka menunggu haknya. Atlet dan pelatih tak hanya butuh apresiasi di mulut saja, tetapi realitanya juga butuh materi untuk memenuhi kebutuhan mereka. Apalagi yang ditunggu adalah haknya mereka. Biar mereka bisa lebih fokus untuk langkah berikutnya.
Ketiga, KONI Sumbar harus mendorong Pengprov dan KONI se-Sumbar untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada pelatih dan wasit untuk meningkatkan kapasitasnya. Tingkatkan standar atau sertifikat kepelatihan dan lisensi wasit, sehingga memberikan arti untuk peningkatan kualitas atlet.
Ke-empat, mendorong agar Cabor memperbanyak ivent untuk memberikan jam terbang kepada atlet. Selain Porprov yang dua tahunan, juga Kejurda mau pun mengupayakan agar seri-seri kejuaraan nasional bisa digelar di Sumbar. Diantarkan ke daerah, disesuaikan dengan ketersediaan sarana dan prasarana.
Di Sumbar, selain Padang, sebenarnya sejumlah daerah sudah berbenah. Di Sawahlunto ada sirkuit permanen roadrace, ada lintasan pacuan kuda. Sering jadi tuan rumah bridge. Di Payakumbuh dan Pariaman ada lintasan sepatu roda. Dayung pernah di Danau Maninjau, tahun 1980-an. Bisa juga dibeberapa danau lainnya. Panjat tebing bisa disejumlah tempat di Sumbar.
Begitu pun di Porprov. Sisa waktu yang minim, tetap saja ada momentumnya. Kalau satu atau dua daerah kesulitan melaksanakan, bisa dibagi habis di seluruh daerah di Sumbar, seperti tahun 2010. Porprov dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota (kecuali Mentawai), padahal kala itu, kondisinya sangatlah sulit. Tak lama setelah gempa dahsyat yang melanda Sumbar, September 2009. Tahun 2011, kontingen Sumbar berjaya pada Porwil di Kepri.
Akhirnya, selamat bekerja kepada “cabinet” karteker yang dikomandoi Erizal Chaniago, didukung sejumlah sosok mumpuni di olahraga dan organisasi serta hukum. Semoga pekerjaan yang bertumpuk di depan mata bisa diselesaikan dengan baik, kemudian menghasilkan kepengurusan yang piawai mengurus olahraga Sumatera Barat. (*)






