METRO SUMBAR

Pengabdian kepada Masyarakat; Literasi Berbasis Budaya Lokal dan Agama

0
×

Pengabdian kepada Masyarakat; Literasi Berbasis Budaya Lokal dan Agama

Sebarkan artikel ini
Dosen Prodi Humanitas Universitas PGRI Sumbar Isnaini, M.Si, bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Libra Dwi Putra, S.Pd, Mahasiswa Pascasarjana di UGM. Foto: Dokumentasi Isnaini

PERUBAHAN sosial dan budaya semakin hari semakin terasa di lingkungan kita. Baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat secara umum.

Oleh sebab itu perlu kita membudayakan kembali kegiatan masyarakat Minangkabau, termasuk kembali ke surau. Surau bagi masyarakat Minangkabau tidak hanya sebagai tempat ibadah. Tetapi juga tempat berlangsungnya kegiatan lain seperti musyawarah dan pendidikan.

Salah satu kegiatan yang dilakukan di surau adalah kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan topik literasi berbasis budaya lokal dan agama.

Di Kota Padang ada beberapa surau atau musala dijadikan masyarakat sebagai tempat beribadah dan juga melakukan kegiatan sosial.

Dua di antaranya Surau Rumah Gadang di Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji dan Musala An Nur di Kelurahan Lubuk Minturun.

Tim Pengabdi terdiri dari tiga orang yaitu Isnaini, M.Si, Dosen pada Program Studi (Prodi) Humanitas Universitas PGRI Sumatera Barat (Sumbar), Libra Dwi Putra, S.Pd, Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Gajah Mada (UGM).

Kegiatan diikuti anak anak berusia 8 tahun sampai 13 tahun sebanyak 15 orang. Pada awal kegiatan dilakukan perkenalan dengan menggunakan Bahasa Minang oleh Tim Pengabdi dan juga anak-anak yang hadir di Musala An Nur.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan Tim Pengabdi memberikan beberapa kata yang sering didengar dan diucapkan oleh anak-anak yaitu, Subhanallah, Walhamdulillah, Wa la ilaha ilalllah, Allahuakbar dan mengajar peserta mengucapkan kata tersebut bersama-sama.

Kemudian Tim Pengabdi menanyakan apakah peserta paham arti atau makna dari kata-kata tersebut dalam Bahasa Indonesia. Kemudian meminta anak-anak menerjemahkan artinya ke dalam bahasa lokal atau Bahasa Minang.

Selanjutnya anak-anak dibagi beberapa kelompok yang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan. Di dalam kelompok mereka diberikan kata-kata atau lafaz zikir dan meminta mereka mendiskusikan artinya jika menggunakan Bahasa Minang dan menuliskannya di kertas kemudian menempelkan ke papan tulis.

Selanjutnya Tim Pengabdi mengajak anak-anak tetap bersemangat mengaji dan membaca Al Quran dan melestarikan bahasa daerah. Kegiatan ditutup dengan pembagian cemilan dan foto bersama dengan anak-anak Surau atau Musala An Nur. (Isnaini, M.SI/Dosen Prodi Humanitas Universitas PGRI Sumbar)