BERITA UTAMA

AJI Padang bersama INTERES Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Publik, Aktivis Sumbar Makin Rentan jadi Target Serangan Digital

0
×

AJI Padang bersama INTERES Gelar Nonton Bareng dan Diskusi Publik, Aktivis Sumbar Makin Rentan jadi Target Serangan Digital

Sebarkan artikel ini
NOBAR— Suasana nonton bareng dan diskusi publik yang digelar oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang bersama INTERES.

PADANG, METRO–Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang bersama INTERES menyelenggarakan kegiatan Nonton Bareng dan Diskusi Publik bertajuk “Tetap Kritis dalam Ancaman Serangan Digital” di Kantor AJI Padang.

Kegiatan ini bertujuan untuk membuka ruang dialog terkait meningkatnya ancaman digital terhadap aktivis, jurnalis, dan ma­syarakat sipil.

Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter yang menggambarkan pengalaman serangan digital terhadap dua aktivis, Feri Amsari dan Sarah Az­mi, serta organisasi ma­sya­rakat sipil LBH Padang. Film tersebut diproduseri oleh Aidil Ichlas, jurnalis dan pendiri INTERES.

Aidil menjelaskan, serial konten edukatif “Tetap Kritis dalam Ancaman Serangan Digital” yang telah tayang di kanal YouTube INTERES, merangkum berbagai bentuk serangan, pengalaman para korban, serta strategi mitigasi dan penanganannya.

“Kami ingin tayangan ini tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga ruang belajar bersama untuk memperkuat keamanan digital aktivis dan masya­rakat sipil. Dari diskusi ini kami berharap lahir jaringan pengaman digital yang dapat menjadi rujukan ketika terjadi serangan,” ujarnya.

Aktivis dan Organisasi Masyarakat Sipil Kerap Jadi Target Serangan Digital

Dalam diskusi tersebut, Calvin N Permana, Divisi Kampanye LBH Padang mengungkapkan, serangan digital kerap datang saat isu-isu advokasi men­dapat sorotan publik. Salah satunya pada kasus Afif Maulana, yang meninggal akibat dugaan penyiksaan aparat.

“Saat itu, narasi kami tentang advokasi hukum dipelintir di media sosial. LBH Padang diframing seo­lah-olah mendukung tawuran, padahal kami memperjuangkan hak anak. Polanya sama dengan serangan saat penolakan RUU TNI pada Maret 2025: buzzer bekerja dengan narasi yang sudah disiapkan,” ungkapnya.

Selain framing dan serangan ujaran kebencian, Calvin menyebut LBH juga mengalami upaya peretasan dan percobaan pengambilalihan akun.

Sementara itu, Ilhamdi Putra dari LBH Pers Padang menambahkan, ancaman peretasan tidak hanya me­nyasar aktivis. Masyarakat umum pengguna media sosial saat ini pun tanpa disadari telah disusupi.

“Sadar atau tidak, data digital kita terus disusupi. Ironisnya, potensi pelanggaran hukum justru bisa datang dari penegak hukum itu sendiri,” jelasnya.

Fachri Hamzah, Trainer Keamanan Digital AJI, me­ngingatkan, serangan digital kini tidak hanya berupa doxing atau peretasan akun, tetapi juga berkem­bang ke bentuk yang lebih canggih. (rel)