METRO BISNIS

Banggar DPR Minta Pemerintah Tak Naikkan Tarif Pajak di Tengah Penderitaan Rakyat

0
×

Banggar DPR Minta Pemerintah Tak Naikkan Tarif Pajak di Tengah Penderitaan Rakyat

Sebarkan artikel ini
BERBINCANG—Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (kiri) bersama Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah (kanan).

JAKARTA, METRO–Badan Anggaran (Bang­gar) DPR RI mengi­ngatkan pemerintah agar berhati-hati dalam merumuskan kebijakan penerimaan negara, khususnya di sektor perpajakan. Ketua Banggar DPR, Said Abdullah, menegaskan meskipun pemerintah menargetkan peningkatan penerimaan perpajakan dalam RAPBN 2026, hal itu tidak boleh dilakukan dengan cara me­naikkan tarif pajak.

“Pimpinan Banggar men­dukung kenaikan pe­nerimaan perpajakan. Namun, kami mengingatkan pemerintah agar tidak me­naikkan tarif pajak, apalagi kondisi perekonomian rakyat tidak baik-baik saja. Jangan sampai Ditjen Pajak berburu di kebun binatang, tetapi harus memperluas kebun binatang,” kata Said Abdullah kepada wartawan, Kamis (21/8).

Said menilai, strategi yang tepat adalah memperbesar skala usaha para pelaku usaha dan memperbanyak jumlah pelaku usaha baru. Dengan begitu, basis pajak akan semakin luas tanpa harus menambah beban masya­rakat melalui kenaikan tarif.

Baca Juga  Program Rejeki Isi Ulang 2018 Perbanyak Transaksi, Berkesempatan Dapat Mitsubishi Xpander

Said juga menyoroti rencana pemerintah yang menargetkan pendapatan negara pada RAPBN 2026 sebesar Rp 3.147,7 triliun, naik Rp 282,2 triliun diban­dingkan target tahun 2025. Dari jumlah tersebut, sumbangan terbesar berasal dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan naik dari Rp 2.387,3 triliun pada 2025 menjadi Rp 2.692 triliun di tahun 2026.

Di sisi lain, Said mengingatkan potensi persoalan akibat berkurangnya Dana Transfer ke Daerah dan Desa (TKDD). Menurutnya, penurunan drastis dari Rp 919 triliun pada 2025 menjadi Rp 650 triliun di RAPBN 2026 berpotensi menghambat pelayanan publik di daerah.

“Ini bisa memaksa pemerintah daerah membuat kebijakan baru yang ren­tan menaikkan perpajakan daerah, dan ujungnya mem­bebani rakyat,” tegasnya.

Said juga menekankan pentingnya kebijakan fiskal dan moneter yang terintegrasi sebagai navigasi ekonomi nasional di te­ngah dinamika geopolitik global. Ia menyebut setiap kebijakan harus luwes, cepat, dan mampu menjawab persoalan tanpa menimbulkan keragu-raguan di kalangan pelaku ekonomi.

Baca Juga  Instruktur Safety Riding Honda Siap Unjuk Gigi di Kompetisi Internasional

Selain itu, Banggar meminta pemerintah memperbaharui data kemiskinan seiring dengan perubahan angka Purchasing Power Parity (PPP) sebagaimana dilakukan Bank Dunia. “Pemutakhiran data ini penting untuk menjadi pijakan kebijakan penanggulangan kemiskinan ke depan agar lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Said menegaskan berbagai program besar pemerintah seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat harus menjadi perbaikan perilaku rakyat. “Jangan sampai kita wasting time dan kehilangan sumber daya sia-sia. Kuncinya ada pada tata kelola yang akuntabel, transparan, dan partisipatif,” pungkasnya. (jpg)