BERITA UTAMA

Tren Regresi Demokrasi Indonesia Semakin Signifikan, Andi Widjajanto Imbau Penguasa Tak Alergi Kritik

0
×

Tren Regresi Demokrasi Indonesia Semakin Signifikan, Andi Widjajanto Imbau Penguasa Tak Alergi Kritik

Sebarkan artikel ini
SEMINAR NASIONAL— Penasihat Senior LAB 45, Andi Widjajanto, dalam seminar nasional bertajuk ‘Refeleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045’.

JAKARTA, METRO–Penasihat Senior LAB 45, Andi Widjajan­to, menyoroti tren kemunduran demokrasi di Indonesia yang menurutnya semakin signifikan sejak awal reformasi. Ia menye­but, capaian demokrasi setelah Pemilu 1955 dan Pemilu 1999 sempat menjadi titik cerah, namun justru setelah itu arah demokrasi Indonesia mengalami regresi.

“Tren regresi de­mok­rasi yang terjadi justru sejak awal reformasi 1999. Kita punya dua nilai bagus untuk demokrasi setelah pemilu 55 dan setelah pe­milu 99. Tapi setelah kedua pemilu itu demokrasinya menunjukkan regresi yang signifikan,” kata Andi da­lam seminar nasional ber­tajuk ‘Refeleksi Delapan Dekade dan Proyeksi Indonesia 2045’ di Jakarta, Rabu (20/8).

Menurutnya, hal itu men­jadi perhatian serius karena berkaitan dengan penguatan sistem politik ke depan. Ia menekankan per­lunya perbaikan di berbagai sektor, mulai dari media, partai politik, hing­ga mekanisme pengawa­san terhadap lembaga ek­se­kutif, legislatif, dan yu­dikatif dalam menyikapi setiap kritik publik.

“Nah ini yang membuat kita harus memikirkan ba­gaimana sistem politik yang tadi dibahas mulai dari media, mulai dari partai politik, pengawasan-pengawasan untuk eksekutif legislatif-judikatif itu harus diper­kuat. Karena itu yang men­jadi tren utama temuan seminar hari pertama ini,” jelasnya.

Mantan Gubernur Lem­ha­nas itu juga menying­gung hubungan antara pe­merintah dan media massa yang dinilai harus diletak­kan pada posisi yang seim­bang. Andi menilai, pers yang independen merupa­kan salah satu indikator utama demokrasi, sehing­ga peran media jangan sampai tereduksi menjadi alat propaganda semata.

“Jadi jangan sampai men­jadi terbalik bahwa ko­munikasi yang efektif itu be­rubah menjadi propaganda lalu interaksi yang dilakukan berubah menjadi pemba­tasan media,” ujarnya.

Sementara, terkait ka­sus ancaman teror ter­hadap salah satu media, Andi menekankan kritik publik tidak boleh dipan­dang sebagai ancaman. Menurutnya, kritik yang berbasis data justru dapat memperkuat demokrasi.

“Kalau dilihat apa yang sudah disampaikan oleh Pak Prabowo menjelang 17 Agustus ya, ketika di DPR, kita sekarang menghadapi kritik dalam bentuk baru, mulai dari Indonesia Gelap sampai bendera One Pie­ce, lalu Pak Prabowo juga mengatakan bahwa ya wa­laupun berat, tapi kritik itu harus tetap didengarkan,” tuturnya.

Lebih lanjut, Andi me­ng­apresiasi sikap Presiden Prabowo yang mau me­nerima setiap kritik publik. Hal itu sebagaimana di­sam­paikan dalam Sidang Laporan Tahunan di DPR RI, pada Jumat (15/8).

“Ketika Pak Prabowo bersama Mbak Puan sama-sama mengapresiasi kebe­ra­daan kritik untuk justru mem­bantu pemerintah mem­­per­baiki kualitas kebi­jakannya, saya pikir kita sudah berada di arah yang benar untuk memperkuat bagaimana re­lasi media dengan negara itu seharus­nya dibangun,” pung­kas­nya. (jpg)