JAKARTA, METRO–Ahli klimatologi BRIN Erma Yulihastin merespon anomali cuaca belakangan. Khususnya ketika terjadi hujan cukup lebat beberapa hari terakhir, padahal masih musim kemarau. Dia mengatakan, kondisi musim saat ini sudah tidak pakem lagi. Bahkan dalam satu tahun terakhir, dia mengatakan tidak ada musim kemarau.
Dia menjelaskan kriteria musim kemarau itu ketika curah hujan hanya 50 mm per dasarian (per 10 hari) selama tiga dasarian atau 30 hari berturut-turut. “Kemarin pernah tidak hujan selama 10 hari, tetapi setelah itu hujan deras,” katanya (20/8). Maka tidak bisa disebut musim kemarau.
Erma mengatakan saat ini istilah yang tepat menurut dia adalah kemarau basah. Dari sisi angin, dia mengatakan sudah masuk kategori angin musim kemarau. Tetapi masih terjadi hujan. Jadi dia mengatakan adanya inkonsistensi iklim.
Sementara itu untuk musim hujan sendiri, Erma mengatakan banyak diprediksi September depan. Tetapi sekarang sudah banyak terjadi hujan. Disebut musim pancaroba, saat ini juga masih jauh dari bulan September.
Dia berharap terjadinya inkonsistensi iklim ini jadi perhatian pemerintah. Khususnya terkait dengan program pangan. Dia mengatakan, karena tidak ada musim kemarau tahun ini, petani tidak bisa menanam jagung seperti biasanya. Adanya hujan secara terus menerus ini, juga membuat petani bingung untuk menyusun jadwal pemberian pupuk.
Untuk itu pemerintah harus mulai menerapkan smart farming. Yaitu bertani yang tidak hanya mengandalkan sensor-sensor. Tetapi lebih pada pencocokan dengan kondisi iklim terkini. Prediksi iklim menjadi patokan petani untuk kapan memulai tanam dan pemupukan. Termasuk apakah akan menanam padi terus sepanjang tahun atau tetap disela palawija. (jpg)






