SEBANYAK 22 anggota Paitua Mapala Teknik Universitas Andalas (Unand) bakal menembus hutan yang membentang dari Solok ke Padang. Mereka akan melintasi 4 bukit dan 5 sungai selama empat hari tiga malam, dimulai dari Jumat (19/4) hingga Senin (22/4). Kegiatan ini dalam rangka Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) XXVIII Paitua Mapala Teknik Unand.
Ketua Paitua Mapala Unand, M Aliffion Desyafit mengatakan, dari 22 anggota yang berangkat, 7 di antaranya adalah siswa diklatsar.
“Kemudian 15 anggota lagi adalah panitia,” kata M Aliffion Desyafit yang dilansir dari TribunPadang.com.
Mereka dilepas oleh perwakilan dari Dekanat Fakultas Teknik Unand di halaman Sekretariat Paitua Mapala Teknik Unand, Kamis(18/4) sore. Dijelaskan M Aliffion Desyafit, 22 anggota tersebut akan melintasi 4 bukit. Antara lain, Bukit Bungsu, Bukit Kumayan, Bukit Ngalau, dan Bukit Data Batuang.
“Mereka juga akan melintasi 5 sungai. Yakni Sungai Gagawan Besar, Sungai Padang Janiah, dan tiga lagi adalah anak sungai,” sebutnya.
Perjalanan menembus hutan Solok Padang tersebut, kata dia, memakan waktu selama tiga hari empat malam.
“Mulai dari Jumat pagi, sampai nanti hari Senin. Start-nya di Koto Ilalang Solok, dan finish nanti di Batu Busuk, Padang,” jelasnya.
Mereka akan bermalam di tiga camp yang sudah ditentukan titik kordinatnya.
“Nanti anggota akan melewati pendakian Data Batuang. Lanjut melewati punggungan Bukit Data Batuang,” ujar M Aliffion Desyafit.
Terakhir, kata dia, mereka akan sampai di pertemuan dua sungai, yakni Sungai Padang Karuah dengan Sungai Padang Janiah.
“Orang-orang menyebut ini daerah Patamuan. Ini sudah masuk kawasan Batu Busuak, Kelurahan Lambuang Bukik, Padang,” ujarnya.
Barulah kemudian mengikuti jalan desa, dan sampai lagi di Sekretariat Mapala Teknik Unand. Selama perjalanan, siswa akan diberikan materi oleh panitia. Di antaranya, materi bagaimana cara bertahan di dalam hutan.
“Bisa saja nanti bagaimana mencari makan di dalam hutan. Mungkin makan dari daun-daunan atau umbi-umbian,” sebutnya.
Ada juga materi mendirikan tenda dari jas hujan, materi mencari orang hilang di dalam hutan, dan sejumlah materi lainnya.
“Sebelumnya para siswa juga sudah dijelaskan teorinya. Sekarang mempraktekkan teori tersebut,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan, di trek yang akan mereka lalui, sebagian adalah jalur perlintasan di zaman penjajahan.
“Di dalam itu, ada jalan pribumi zaman Belanda. Jalur transportasi Padang – Solok. Orang menyebutnya Jalur Kudo,” ujar dia.
Dulu, kata M Aliffion Desyafit, di jalur tersebut pernah ditemukan jejak harimau dan tapir.
Sementara, perwakilan dari Dekanat Paitua Mapala Unand, Sri Hastuti SPt berpesan kepada para peserta untuk pandai-pandai menjaga diri.
“Di sana memang banyak rahasia-rahasia alam, jaga diri, dan berserah dirilah kepada Allah,” pesannya.
Dia juga mengingatkan kepada peserta untuk tidak takabur dan sombong.
“Jaga diri baik-baik, karena cuaca kurang bagus. Semoga selamat di perjalanan dan kembali dengan selamat,” tutupnya. (*/heu)



