METRO BISNIS

Penjualan Motor Listrik Anjlok hingga 80 Persen, Stimulus dari Pemerintah Dinantikan lagi

0
×

Penjualan Motor Listrik Anjlok hingga 80 Persen, Stimulus dari Pemerintah Dinantikan lagi

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI—Motor listrik.

JAKARTA, METRO–Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah diketahui memberikan stimulus pada kendaraan listrik atau EV di Indonesia. Baik yang beroda empat, atau hanya dua roda atau sepeda motor, semua kebagian.

Untuk yang sepeda mo­tor, cukup terasa dampaknya. Stimulus berupa keringanan pajak membuat harga jual sepeda motor listrik jadi lebih terjangkau, efeknya, saat ini motor bertenaga setrum mulai banyak seliweran di jalan raya.

Namun belakangan, seiring stimulus yang diku­rangi, hal tersebut membuat pasar sepeda motor listrik anjlok. Terkait hal tersebut, pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai rencana pemerintah untuk kembali mem­berikan stimulus pem­­belian sepeda motor listrik menjadi momentum penting bagi percepatan transisi energi di sektor transportasi Indonesia.

“Insentif jelas akan men­­dorong masyarakat kelas menengah ke bawah untuk beralih dari sepeda motor berbahan bakar fosil ke teknologi listrik. Hal itu bisa mempercepat program transisi energi Indonesia di sektor transportasi,” ujar Yannes dalam keterangannya.

Menurutnya, kebijakan ini tidak sekadar subsidi harga, melainkan katalis transformasi sistemik, mulai dari meningkatkan daya beli, memperkuat industri hijau, hingga membangun fondasi ekonomi rendah karbon di masa depan.

Yannes menegaskan bahwa hambatan terbesar adopsi motor listrik adalah harga awal yang relatif tinggi. Ia menilai stimulus mampu mengatasi ma­salah tersebut sekaligus memberi manfaat eko­no­mi jangka panjang.

“Penjualan motor listrik pada 2025 anjlok 70–80 persen akibat ketidakpastian insentif. Dengan stimulus, harga akan lebih terjangkau dan penjualan bisa bangkit,” jelasnya.

Bahkan, ketidakpastian insentif juga disebut memukul industri lokal. Beberapa startup kendaraan listrik (EV) terpaksa gulung tikar, sementara lainnya melakukan PHK.

“Padahal, startup seperti mereka itu yang bisa menjadi motor pertumbuhan industri kendaraan listrik nasional. Kalau tidak didukung, kita hanya akan menjadi pasar produk impor,” kata Yannes.

Dia menutup, dengan karakter transportasi Indonesia yang didominasi se­peda motor, Yannes menilai transisi ke kendaraan listrik adalah langkah stra­tegis. Stimulus yang tepat tidak hanya mengurangi polusi udara, tetapi juga membuka peluang eko­nomi baru dan memperkuat posisi Indonesia di peta industri kendaraan listrik global. (jpg)