OLAHRAGA

Perlombaan Shalat Jenazah di Solsel, Membangun Mental dan Kepedulian Sejak Dini

0
×

Perlombaan Shalat Jenazah di Solsel, Membangun Mental dan Kepedulian Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
LOMBA SHALAT JENAZAH— Para peserta saat pelaksanaan prosesi jenazah di Kabupaten Solok Selatan.

PADANG ARO, METRO–Pembinaan anak dalam penyelenggaraan jenazah menjadi hal penting untuk dilakukan sejak dini. Ini menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab anak da­lam menjalankan kewajibannya sebagai umat.

Hal ini terungkap dalam wawancara bersama Ali Firman dan Sholihin, dua sosok yang aktif membimbing generasi muda dalam kegiatan keagamaan di Kabupaten Solok Selatan saat ditemui di sela lomba Sholat Jenazah di kawasan Kantor Bupati Solok Selatan, Kamis (7/8).

Ali Firman, seorang pe­nyuluh dari Nagari Dusun Tangah Kecamatan Sangir Batang Hari, menyatakan bahwa pelaksanaan sholat jenazah bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal membentuk kesadaran dan tanggung jawab anak-anak terhadap kewajiban sebagai umat Islam.

“Hal yang paling penting adalah bagaimana anak-anak tampil semaksimal mungkin dan mampu mempraktekkan sholat je­nazah serta mengkafani sesuai ketentuan,” paparnya.

Menurutnya, tidak ada tantangan yang berarti dalam pelaksanaan sholat jenazah jika proses pembelajaran dilakukan dengan tepat. Kunci keberhasilannya adalah pada cara membimbing, mengarahkan, dan memberikan pemahaman sejak dini.

Ali Firman juga menyampaikan harapan kepada para orang tua agar turut berperan aktif dalam menanamkan nilai pentingnya sholat jenazah kepada anak-anak mereka.

“Hal ini harus diajarkan sejak kecil agar menjadi kebiasaan dan kesadaran yang tumbuh dari dalam diri anak-anak, sehingga ketika dewasa mereka akan dengan sukarela menjalankannya,” tambahnya.

Sementara itu, Sholihin, guru pendamping dari Pakan Rabaa Utara Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, menekankan pen­tingnya aspek mental da­lam mempersiapkan anak-anak. Ia menjelaskan bahwa tantangan utama adalah membentuk keberanian dan kekompakan dalam melaksanakan prosesi sholat jenazah. “Tantangan utamanya adalah mental anak-anak. Kami harus membujuk dan merayu agar mereka terus berlatih supaya tidak minder atau takut,” kata Sholihin.

Untuk itu, ia menerapkan metode latihan rutin setiap hari Senin dan Rabu guna membiasakan anak-anak menghadapi situasi nyata di masyarakat. Ia juga berharap agar Pemerintah Kabupaten Solok Selatan dapat mendukung kegiatan ini melalui fasilitasi lomba-lomba penyelenggaraan sholat jenazah.

“Kalau ada lomba, maka anak-anak akan lebih semangat belajar, dan dampaknya juga sangat positif bagi masyarakat. Anak-anak bisa ikut membantu saat ada yang meninggal dunia di lingkungan mereka,” jelasnya.

Kedua tokoh ini menekankan bahwa pembinaan sholat jenazah sejak dini tidak hanya memberikan keterampilan keagamaan, tetapi juga membentuk empati, tanggung jawab sosial, dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Lomba penyelenggaraan Sholat Jenazah ini merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia. Ini sejalan dengan program unggulan Pemerintah Kabupaten Solok Selatan, Satu Jorong Satu Rumah Tahfidz, mengingat penyelenggaraan jenazah juga menjadi salah satu program yang diajarkan di tiap rumah tahfidz. (ped/rel)