BERITA UTAMA

Dari Kongres Dua Parpol, PDIP Pertahankan Tradisi, PSI Coba Gagas Format Baru

0
×

Dari Kongres Dua Parpol, PDIP Pertahankan Tradisi, PSI Coba Gagas Format Baru

Sebarkan artikel ini
Pengamat Politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Agus Riewanto

JAKARTA, METRO–Satu bulan terakhir dua parpol baru saja menggelar kongres. Menariknya hasil dari kongres tidak ada perubahan siginifikan di pucuk pimpinan parpol. Kedua parpol itu adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjua­ngan (PDIP) dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Bedanya, hanya cara dari menca­pai hasil kongres tersebut.

PDIP memutuskan Me­gawati Soekarnoputri kem­bali menjabat sebagai ke­tua umum. Keputusan itu diambil dengan aklamasi. PSI juga kembali dipimpin Kaesang Pangarep. Cuma diputuskan dari hasil pe­milihan raya. One man one vote. Satu kader memiliki hak satu suara untuk memi­lih kandidat ketua umum.

Pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Agus Riewanto me­nu­turkan, cara pemilihan ketua umum dari dua par­pol itu tidak bisa diban­dingkan secara langsung. Langkah PSI yang melibat­kan ribuan anggota dalam pemilihan adalah upaya membangun model baru yang lebih terbuka. “Itu kan cara-cara untuk mengubah tradisi dan mencari bentuk baru, supaya mendapat sim­pati publik,” jelas Agus Riewanto kepada warta­wan pada Senin (4/8) malam.

PDIP sebagai partai lama sudah memiliki akar kuat dan ideologi yang mapan. Oleh karena itu, mekanisme pemilihan ke­tua umum dilakukan ber­dasarkan tradisi yang telah terbangun selama ini. “De­ngan cara aklamasi itu, da­lam bahasa Indonesianya barangkali musyawarah mufakat gitu ya. Sesuai tradisi yang mereka ba­ngun selama ini,” kata Agus.

Baca Juga  Jual Obat tanpa Izin, AW Disidang

Menurut dia, sistem pemilihan langsung mau­pun aklamasi sah-sah saja selama tidak menimbulkan konflik internal. Apalagi PSI dan PDIP memang ber­beda. Keduanya memiliki ciri yang berbeda sepan­jang dilakukan dengan ca­ra-cara yang bisa diterima oleh konstituen masing-masing.

Agus menilai kepu­tu­san PDIP untuk tetap me­ngangkat Megawati Soe­kar­noputri sebagai ketua umum sekaligus merang­kap Sekretaris Jenderal merupakan respons terha­dap situasi yang tengah dihadapi PDIP, khususnya menyangkut kondisi hukum Sekjen sebelumnya, Hasto Kristiyanto.

“Itu bagian dari dina­mika partai. Mungkin PDIP punya pandangan yang lebih jeli melihat kondisi saat ini. Di mana Mas Hasto belum siap secara psiko­logis untuk menjadi Sekjen partai karena masih ber­hadapan dengan hukum ya,” katanya.

Meski amnesti telah dikeluarkan oleh Presiden, tetapi proses hukum terha­dap Hasto belum sepe­nuhnya selesai.

“Kan mes­kipun amnesti sudah dike­luar­kan pr­esi­den, tapi yang bersang­kutan belum ke­luar surat keputusan pre­siden untuk segera bebas. Ini dalam kondisi yang be­lum sepe­nuhnya bebas.”

Baca Juga  Chelsea vs Arsenal, Waspada Kebangkitan The Blues

Hal inilah yang dinilai menjadi pertimbangan PDIP menunjuk Megawati untuk merangkap posisi Sekjen sementara. “Artinya bagi PDIP itu menjadi per­timbangan, sehingga Se­k­jen untuk sementara dipe­gang oleh Ketum. Sehing­ga apakah itu nanti akan terjadi perubahan, itu PDIP lebih tahu soal itu, dan saya rasa apa yang menimpa PDIP itu sudah paling baik menurut PDIP.”

“Ya, pertimbangannya karena posisi Pak Mas Hasto ini kan masih belum selesai secara utuh di am­nestinya, ya karena masih belum dikeluarkan surat keputusannya, sehingga belum Kepres yang belum keluar, ya, sehingga dia belum keluar secara be­bas. Sehingga selesaikan dulu. Maka itu diberi teng­gat waktu, untuk semen­tara Sekjennya dijabat oleh Ibu Ketum,” jelas Agus.

Lebih jauh Agus me­nyebut, posisi Megawati masih sangat penting bagi PDIP, bahkan menjadi ke­kua­tan utama partai. “Be­tul, betul masih dianggap sebagai mesin partai dan partai, sehingga Mbak Me­ga masih diaklamasikan se­bagai Ketum partai,” tu­tupnya. (jpg)