BERITA UTAMA

Karhutla di Sumbar ‘Menggila’, BMKG dan BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca, Semai 3 Ton Garam Per Hari

0
×

Karhutla di Sumbar ‘Menggila’, BMKG dan BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca, Semai 3 Ton Garam Per Hari

Sebarkan artikel ini
OMC— BNPB bersama BMKG melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mempercepat penanganan kebakaran lahan dan hutan di Sumbar.

PADANG, METRO–Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah kabu­paten kota di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) semakin me­luas. Bahkan, hingga Kamis (24/7), total hutan dan lahan yang telah terbakar di Kabupayen Limapuluh Kota mencapai 864 hektare dan di Kabupaten Solok hampir 300 hektare.

Untuk mempercepat pe­nanganan karhutla dan mencegah kebakaran se­ma­kin meluas, pemerintah da­erah telah meminta BMKG dan BNPB untuk me­lakukan melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau rekayasa curah hujan di Sumbar mulai Jumat (25/7) hingga Selasa (29/7).  Wi­layah pertama yang akan dilewati pesawat be­serta 1 ton bahan semai yakni, ka­wasan lembah harau di Kabupaten Limapuluh Kota.

Kepala Pelaksana BP­BD Sumbar, Rudy Rinaldy me­ngatakan, OMC ini sebagai bentuk dukungan BNPB bekerja sama dengan BM­KG dalam rangka pena­nganan besarnya Karhutla yang terjadi. Salah satunya OMC untuk daerah 50 Ko­ta, dan bakal dilanjutkan ke Kabupaten Solok, serta beberapa daerah lainnya.

“Kalau tidak halangan, besok (hari ini-red) Operasi Modifikasi Cuaca ini akan dilaksanakan, karena ada kemungkinan bibit-bibit awan hujan sudah mulai nampak di Kabupaten Li­ma­puluh Kota. Jadi bibit awan muncul di Solok, juga akan dilakukan,” kata Rudy usai Rapat Koordinasi OMC Karhutla di BPBD Sumbar, Kamis (24/7).

Rudy mengungkapkan, setidaknya hingga hari ini BPBD Sumbar telah mene­rima laporan dari tujuh kabupaten dan kota yang dilanda Karhutla selama musim kemarau.  Dari tu­juh daerah tersebut, seti­daknya hampir 500 hektare daerah yang terdampak Karhutla ini, tapi yang paling parah Kabupaten Solok dan Limapuluh Kota.

“Selain OMC, BPBD Sum­bar juga telah mengerahkan armada pengangkut air di daerah terdampak paling parah, seperti di Kabu­paten Limapuluh  Kota. Semua personel gabungan juga telah berusaha keras di lapangan untuk me­la­kukan pemadaman, agar masalah ini cepat teratasi,” ujarnya.

Kepala BMKG Stasiun Bandara Internasional Mi­nangkabau (BIM),  Desin­dra Deddy Kuniawan men­jelaskan, OMC ini sangat penting dilakukan untuk mempercepat turunnya hujan. Terlebih lagi dua daerah di Sumbar sudah menetapkan Tanggap Da­rurat (TD) Karhutla, yakni Solok dan Limapuluh Kota.

Menurutnya, dua da­erah yang telah mene­tapkan TD ini perlu per­hatian khusus untuk per­cepatan penanganan Kar­hutla. Apalagi, sudah lebih 60 hari dua daerah ini tidak pernah diguyur hujan, dan kondisinya sudah benar-benar kering hingga September mendatang.

“Kita dari BMKG me­mang punya tupoksi mela­kukan OMC ini untuk per­ce­patan penanganan kar­hut­la. Apalagi bulan Juli ini puncaknya musim kering, dan sangat mudah terba­kar, jadi wajar banyak ter­ja­dinya Kathutla,” terangnya.

Sementara itu, Koor­dinator Lapangan OMC Sumbar, Candra Fadilah menjelaskan pelaksanaan OMC ini akan dilakukan mulai besok di Kabupaten 50 Kota. Operasi ini atas intsruksi BNPB yang dilak­sanakan hingga 29 Juli 2025 mendatang, masing-ma­sing tiga kali penerbangan per harinya.

“Mulai penerbangan itu sekitar jam sembilan, ter­akhir jam enam sore. Satu kali penerbangan, kita akan menyemai 1 ton garam de­ngan pesawat. Jadi dalam sehari, ada 3 ton garam yang kita semai,” jelasnya.

Menurutnya, OMC ini mampu meningkatkan cu­rah hujan 20% hingga 30%. Sementara untuk tingkat ke­berhasilan OMC men­cip­takan terjadinya hujan sela­ma ini, berdasarkan pene­litian yang dilakukan BMKG bisa mencapai 70% hingga 80%, dari 8-10 kali penye­maian yang dil­a­kukan.

“Makanya kita lakukan semaksimal mungkin, serta melihat bibit-bibit awannya dulu, agar penyemaian kita tidak sia-sia. Nanti setelah lima hari, jika memung­kin­kan OMC ini bisa juga di­per­panjang,” sebutnya. (fan)