JAKARTA, METRO–Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menyoroti semakin besarnya ketimpangan dalam sistem perdagangan global pasca pecahnya perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sejak 2018. Menurutnya, ketegangan dagang ini telah membawa dunia ke arah tatanan internasional yang makin tidak beraturan.
“Sejak perang tarif antara Tiongkok dan Amerika Serikat dimulai pada 2018, lalu melebar ke banyak negara setelah Presiden Trump memberlakukan tarif sepihak, kita menyaksikan dunia bergerak menuju ketidakpastian tatanan global,” ujar Said kepada wartawan, Rabu (23/7).
Said mengingatkan kembali semangat awal pembentukan sistem perdagangan global yang dimulai dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) dan berkembang menjadi World Trade Organization (WTO) pada 1995. Sistem ini awalnya dibangun atas asas non-diskriminasi, transparansi, dan perlakuan setara antar negara.
Namun, dalam praktiknya, Said menilai bahwa prinsip tersebut perlahan terkikis, terlebih ketika negara-negara maju justru mulai memberlakukan kebijakan proteksionis ketika merasa tersaingi di pasar global.
“Negara berkembang seperti Indonesia sempat khawatir saat WTO terbentuk. Barang-barang kita yang belum kompetitif bisa tergerus di pasar sendiri. Tapi karena tuntutan global, kita ikut serta dan beradaptasi,” jelasnya.
Said menyebut bahwa dalam tahap awal keanggotaannya di WTO, negara-negara berkembang menghadapi tantangan berat layaknya pertarungan “Daud vs Goliat” dalam persaingan kualitas produk, harga, dan kapasitas produksi.
Meski demikian, ia mengakui bahwa keberadaan WTO juga membuka peluang baru. Indonesia, bersama negara-negara seperti Vietnam dan Thailand, mampu bertahan dan bersaing di pasar internasional. Bahkan Tiongkok kini menjelma menjadi kekuatan utama baru dalam perdagangan global.
Namun, Said mengkritik keras sikap Amerika Serikat yang dinilainya berbalik arah ketika tak lagi mampu bersaing secara terbuka. Ia menyoroti kebijakan tarif sepihak yang diberlakukan AS tanpa adanya respons dari WTO maupun negara-negara lain.
“Anehnya, saat AS kalah bersaing, mereka justru menetapkan tarif sepihak ke banyak negara. Tapi tidak ada yang menggugat ke WTO. Ini lucu sekaligus menyedihkan,” tegasnya.
Karena itu, Said mendorong semua anggota WTO dan lembaga internasional lainnya untuk tidak lagi bersikap pasif. Ia mengajak negara-negara berkembang untuk bersama-sama mendorong reformasi dan penguatan kelembagaan global.
“Jika dunia masih memerlukan WTO, IMF, dan Bank Dunia, maka mari kita kuatkan dan sempurnakan lembaga-lembaga ini. Tapi kalau hanya jadi alat negara besar, lebih baik dibubarkan saja,” tegasnya.
Menurut Said, dunia kini membutuhkan tatanan internasional baru yang lebih adil, setara, dan berpihak pada pembangunan global yang inklusif. (*/rom)






