JAKARTA, METRO–Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa Indonesia kini siap mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) ke berbagai sektor kehidupan, dengan mengedepankan etika, keadilan, dan keamanan.
Dalam pernyataannya di sebuah forum AI internasional, Nezar menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan 2020–2045 dan Peta Jalan AI Nasional sebagai pedoman utama dalam pengembangan teknologi ini.
“Pemanfaatan AI harus dilakukan secara bertanggung jawab. Etika, transparansi, keadilan, dan akuntabilitas menjadi pilar utama strategi nasional kita,” ujar Nezar, Selasa (22/7).
Pemerintah tidak hanya fokus pada percepatan teknologi, tetapi juga pada dampak sosial yang mungkin muncul, seperti pergeseran lapangan kerja, perlindungan data pribadi, dan penguatan SDM lokal.
“Tata kelola data yang kuat dan prinsip etis harus menjadi fondasi dalam setiap proses adopsi AI,” tegas Nezar.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui forum seperti AI Safety Roundtable, guna membangun ekosistem yang inklusif dalam pengembangan dan pengawasan AI di Indonesia.
“Ini adalah undangan terbuka bagi semua pemangku kepentingan untuk berdialog dan turut serta dalam proses regulasi serta penguatan keamanan AI,” lanjutnya.
Secara global, Indonesia tercatat sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil menyelesaikan Readiness Assessment Methodology for AI (RAM AI) dari UNESCO pada tahun 2024—sebuah pengakuan atas kesiapan Indonesia dalam mengadopsi teknologi AI secara komprehensif.
Namun, Nezar juga mengakui bahwa Indonesia belum masuk dalam AI Risk Repository milik peneliti MIT, yang menghimpun lebih dari 3.000 kasus risiko AI dari seluruh dunia.
“Kami ingin memastikan bahwa suara Indonesia sebagai negara berpenduduk besar ikut diperhitungkan dalam kerangka global mitigasi risiko AI,” ujarnya.
Nezar menyerukan pentingnya kolaborasi konkret antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem AI yang aman dan berkelanjutan.
“Kita harus mendorong pertukaran pengetahuan, berbagi praktik terbaik, serta memperkuat standar teknis dan kapasitas kelembagaan demi masa depan AI yang aman dan adil,” tandasnya.
Dengan pendekatan yang menyeluruh ini, Indonesia bertekad menjadi pemimpin regional dalam transformasi digital yang bertanggung jawab. (*/rom)






