BERITA UTAMA

FGD Nasional Bahas Ikan Bilih sebagai Endemik Danau Singakarak, Pemkab Solok Dorong Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan

0
×

FGD Nasional Bahas Ikan Bilih sebagai Endemik Danau Singakarak, Pemkab Solok Dorong Pelestarian dan Pemanfaatan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
BUPATI Solok, Jon Firman Pandu bersama Ketua TP PKK Kabupaten Solok Ny. Nia Jon Firman Pandu saat melakukan kunjungan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

PEMERINTAH Kabupaten Solok menaruh perhatian serius terhadap ke­lestarian ikan bilih (Mys­tacoleucus padangensis), salah satu spesies ikan endemik Danau Singkarak yang kini menghadapi ancaman kepunahan akibat eksploitasi berlebih dan kerusakan lingkungan.

Bupati Solok Jon Firman Pandu bersama Wa­kil Bupati Candra menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan. Hal ini disampaikan da­lam rangka mendukung pembahasan yang digelar dalam forum Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan ba­nyak pihak nasional dan internasional, termasuk GAIN, KKP-RI, Bappenas, Bapanas, KLHK, BRIN, LSM, perguruan tinggi, serta sektor swasta dan masyarakat.

Kepala Di­nas Perika­nan dan Pangan Kabupaten Solok, Ir. Syoufitri, MM, yang men­jadi na­ra­sumber da­lam FGD ter­sebut, mengangkat tema “Pemanfaatan dan Pelestarian Ikan Bilih Sebagai Sumber Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Solok”.

Menurut Syoufitri, ikan bilih selama ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat sekitar Danau Singkarak dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Namun, peningkatan intensitas penangkapan tan­pa kendali serta perubahan teknologi alat tangkap menjadi ancaman serius bagi populasi ikan tersebut.

“Ikan bilih adalah spesies fototaksis positif, sangat sensitif terhadap caha­ya. Modernisasi alat tang­kap seperti bagan dengan lampu justru memperpa­rah kondisi karena ikan da­lam semua ukuran terta­rik ke satu titik dan ditang­kap sekaligus,” jelasnya.

Syoufitri memaparkan bahwa tren produksi ikan bilih mengalami penurunan signifikan. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2002 hingga 2021, rata-rata produksi lestari menurun sebesar 1,33% per tahun, dan bahkan mencapai 4,74% per tahun sejak 2006. Produksi tertinggi tercatat pada 2013 sebanyak 970,07 ton, namun anjlok menjadi 680,58 ton pada 2015.

Penurunan ini menandakan kondisi overfishing yang serius, diperparah oleh faktor-faktor lain seperti pencemaran perairan, kerusakan habitat akibat pembangunan di sekitar danau, serta meningkatnya volume sampah plastik.

Upaya restocking (pe­nebaran kembali benih ikan bilih) yang telah dilakukan selama ini dinilai belum efektif. Masalah utama adalah benih yang ditebar tidak mampu beradaptasi dengan baik, atau justru langsung tertangkap kem­bali akibat minimnya pengawasan dan pengaturan alat tangkap.

“Restocking tidak bo­leh menjadi program seremoni. Ini harus menjadi gerakan berkelanjutan, terukur, dan berbasis eva­luasi,” tegas Syoufitri.

Ia juga menyoroti belum adanya penetapan zonasi yang jelas di kawasan Danau Singkarak, seperti zona konservasi, transportasi, dan wisata. Padahal zonasi sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian lingkungan dan pemanfaatan ekonomi.

Syoufitri menekankan perlunya pengendalian input produksi, pengaturan musim dan alat tang­kap, serta peningkatan pe­ngayaan stok melalui pen­dekatan berbasis sains. Dukungan kebijakan dari tingkat daerah hingga nasional, serta keterlibatan aktif masyarakat, menjadi kunci keberhasilan program pelestarian ini.

“Ikan bilih bukan sekadar soal stok, tapi juga soal sumber protein ma­syarakat. Kita harus siapkan intervensi nyata agar warisan alam ini tidak tinggal nama,” ujarnya.

Dengan dukungan pe­nuh dari Bupati dan Wakil Bupati Solok, Kabupaten Solok berharap mampu menjadi contoh daerah yang sukses menjaga kelestarian sumber daya alam sekaligus mening­katkan kesejahteraan ma­syarakatnya secara berkelanjutan. (***)