BERITA UTAMA

Sumbar masih Lumbung Prabowo, 12 Kepala Daerah belum Menangkan Jokowi

0
×

Sumbar masih Lumbung Prabowo, 12 Kepala Daerah belum Menangkan Jokowi

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Pasangan Capres-Cawapres RI Nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih berpeluang mendapatkan limpahan suara di Sumbar. Pasalnya, Ranah Minang salah satu lumbung suara Prabowo pada Pemilu 2019 yang digelar Rabu (17/4) besok. Meskipun Jokowi menggandeng KH Ma’ruf Amin, tidak akan berpengaruh terhadap pemilih di provinsi ini.
Hal itu diungkapkan pengamat politik dari Universitas Andalas (Unand), Dr Asrinaldi kepada POSMETRO, Senin (15/4). Asrinaldi memprediksi, pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 ini Prabowo masih unggul di Sumbar. Mengingat Pilpres 2014 silam, Prabowo menang besar di Sumbar.
”Saya pikir masih Prabowo ya karena trennya itu sejak 2014 lalu. Kalau perubahan pasti ada. Prabowo memang masih di atas, namun akan ada pergeseran dan penambahan suara bagi Jokowi,” ujar Asrinaldi.
Asrinaldi, mengatakan 12 dukungan kepala daerah memang akan berpengaruh. Tapi belum membuat Jokowi menang. Karena setiap kepala daerah memiliki pendukung. Sehingga dukungan kepala daerah itu akan memengaruhi pilihan pendukungnya di daerah.
”Bagaimana pun kepala daerah tentu punya pendukung ketika mereka ikut Pilkada. Massa ini sedikit banyaknya juga akan ikut kepala daerah yang mereka dukung. Sehingga dukungan kepala daerah tersebut diprediksi menggerus suara Prabowo di Sumbar. Sebaliknya, suara Jokowi akan meningkat,” katanya.
Sebagaimana diketahui, 12 kepala daerah sudah terang-terangan mendukung Jokowi-Ma’ruf. Mereka adalah Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni, Bupati Dharmasraya Sutan Riska, Bupati Pasaman Yusuf Lubis, Bupati Tanahdatar Irdinansyah Tarmizi, Bupati Sijunjung Yuswir Arifin, Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet, Bupati 50 Kota Irfendi Arbi, Bupati Solok Gusmal, Wali Kota Padangpanjang Fadly Amran, Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, Wali Kota Solok Zul Elfian dan Wali Kota Pariaman Genius Umar.
Sementara yang terang-terangan menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi hanya beberapa orang saja. Mereka hadir dalam kampanye akbar Prabowo di Padang. Seperti Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit, Wali Kota Padang Mahyeldi, Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi dan Bupati Padangpariaman Ali Mukhni.
Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno meski kader PKS, tidak pernah secara gamblang menyatakan dukungan. Begitu juga dengan Bupati Solsel Muzni Zakaria yang juga ketua DPC Partai Gerindra Solsel. Dia memilih tenang, mungkin karena sang istri Suriati Muzi Caleg DPR RI dari NasDem.
Meski suara bertambah, Asrinaldi memandang, Jokowi yang berpasangan dengan Kiai Ma’aruf Amin sebagai ulama besar diprediksi akan tetap kesulitan di Sumbar. Menurut dia, ketertarikan masyarakat Sumbar kepada Jokowi karena sangat familiar dengan figur beliau yang humble, serta dekat dengan masyarakat.
”Persoalan dengan Ma’ruf Amin saya pikir karena memang beliau kiai lebih dekat dengan kalangan tradisional NU. Nah, di Sumbar kan tidak banyak berkolaborasi dengan NU tapi dengan Muhammadiyah. Jadi kalau pun ada faktor Ma’ruf Amin tapi saya rasa tidak signifikan,” ujar Asrinaldi.
Kemungkinan yang dilihat, Asrinaldi menjelaskan, ada penambahan suara untuk Jokowi sekitar 5 sampai 7 persen. Seperti diketahui, pada Pilpres 2014, Prabowo-Hatta memperoleh 1.797.505 suara di Sumbar, 76 persen, sementara Jokowi-Jusuf Kalla hanya kebagian 539.308 suara atau sekitar 23 persen.
“Tapi walaupun begitu saya melihat pencapaian angka elekstabilitas Jokowi dengan melihat perkembangan kampanye terakhir dan ada relawan-relawan Jokowi di Sumbar paling tidak akan bertambah sekitar 5 sampai 7 persen,” ucap Asrinaldi.
Di samping itu, menurut Asrinaldi, ada sejumlah faktor Sumbar tetap mendukung Prabowo. Pertama, pemilih yang tidak mengenal calonnya dengan baik melihat dari impresi politik yang muncul dari calon tersebut. Ketika impresi (kesan) politik ini maka tidak dipungkiri akan lebih menarik Prabowo dibandingkan Jokowi.
”Barangkali di Minangkabau karena ada kriteria tahta itu, sehingga Prabowo lebih mendapatkan tempat, maka dari segi fisikal Prabowo lebih disukai masyarakat di Sumbar,” sebut Asrinaldi.
Kedua menurut Asrinaldi lagi, bahwa masyarakat di Minangkabau lebih mengedepankan aspek Adat Basandi Syarak, Syarak Bansandi Kitabullah (ABS-SBK). Sehingga mereka lebih mengedepankan aspek keberagamaan dan rasa sebagai seorang muslim. Sementara, kebijakan-kebijakan Jokowi selama ini barangkali dirasa tidak terlalu pro kepada umat Islam.
”Isu yang memang menjadi perhatian masyarakat Sumbar yang hidup dengan nilai-nilai ABS SBK dengan rasa seorang muslim. Nah, kebijakan pemerintahan Jokowi yang dirasa tidak pro kepada umat Islam terutama Sumbar sehingga masyarakat kecendrungan ke Prabowo,” tutur Asrinaldi.
Kemudian ketiga, sebut Asrinaldi, terkait dengan passion Prabowo. Maksudnya, semangat untuk berubah Prabowo terhadap masyarakat Sumbar ini yang selalu dinamis, dan ingin mendapat pemimpin yang mengayomi, serta ada harapan yang meledak-meledaknya Prabowo maka mereka cenderung ke Prabowo.
Adanya peningkatan suara Jokowi juga disampaikan Direktur Lembaga Survei Spektrum Politika Institute, Andri Rusta. Jika melihat kondisi saat ini, ada peningkatan suara Jokowi dibandingkan Pemilu 2014 lalu. Tetapi suaranya tidak akan melebihi 35 persen. Namun untuk menang tidak mungkin.
”Peningkatan suara itu terjadi pada daerah-daerah yang telah dikunjungi Jokowi. Selain daerah yang pernah dikunjungi, Jokowi juga mendapatkan suara pada daerah-daerah transmigrasi seperti Dharmasraya dan Pasaman Barat,” kata Andri.
Terkait kondisi politik Sumbar saat ini, Andri menyatakan, Sumbar masih kondusif dan aman, walaupun di media sosial agak memanas, itu hanya bagi masyarakat menengah ke atas, yang memiliki akses internet.
”Kalau di media sosial memang sedikit panas, itu hanya di dunia maya. Lagi pula kalau dilihat di Sumbar ini pendukung Jokowi pun tak begitu menonjolkan sosok Jokowi. Dengan demikian peluang potensi konflik itu sangat kecil,” ujar Andri.
Selanjutnya, Pengamat Politik dari Universitas Negeri Padang (UNP), Eka Vidia Putra malah menilai, dari sisi sosiologis kecenderungan memilih masyarakat di Sumbar tidak akan jauh berbeda dengan sebelumnya. Sehingga tidak akan ada perpindahan suara secara signifikan.
”Karena ini pemilu serentak di Sumbar, jadi posisinya tidak jauh berbeda dengan hasil Pilpres 2014, tentunya partai Gerindra yang paling diuntungkan dapat meraup suara,” kata Eka.
Sekadar diketahui, pada pemilu presiden 2014 pasangan Jokowi-Jusuf Kalla berhasil memenangkan pertarungan dengan perolehan suara 53,15 persen mengalahkan Prabowo-Hatta Rajasa yang hanya meraih 46,85 persen suara namun di Ranah Minang Jokowi-JK kalah cukup telak. (mil)

Baca Juga  Rumah Semi Pemanen Ludes Terbakar di Kabupaten Dharmasraya