METRO PADANG

Andre Rosiade Bantu Biaya Pengobatan Pemuda Buta Diduga usai Cabut Gigi di Klinik Pariaman

0
×

Andre Rosiade Bantu Biaya Pengobatan Pemuda Buta Diduga usai Cabut Gigi di Klinik Pariaman

Sebarkan artikel ini
SERAHKAN BANTUAN— Tim Andre Rosiade mendatangi rumah Hengki Syaputra (30), di Korong Koto Tabang, Nagari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Kamis (10/7). Andre Rosiade menyerahkan bantuan senilai Rp10 juta.

PDG.PARIAMAN, METRO–Sekitar 4 tahun silam tepat­nya pada 4 Oktober 2021 menja­di awal petaka bagi Hengki Sya­putra (30). Bermula dari proses mencabut gigi yang dilaku­kannya di ASIR Dental Care di Kelurahan Jawi-jawi II, Keca­matan Pariaman Tengah, Kota Pa­riaman, Hengki akhirnya men­­­derita kebutaan diduga aki­bat malpraktik.

“Hengki tulang punggung keluarga, dulu kerja buka beng­kel, sekarang tidak bisa lagi ka­rena sakit,” kata ibunda Hengki, Nurhasni (51) kepada tim Andre Rosiade yang da­tang ke ru­mah­nya di Ko­rong Koto Tabang, Na­gari Lurah Ampalu, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabu­paten Padang Paria­man, Kamis (10/7).

Tim Andre Rosiade yang terdiri dari Wakil Sekretaris DPD Gerindra Sumbar Zulkifli, serta Rina Shintya Ningsih dan Felda Yurnawati (wakil bendahara) dan Syabri Yulizar sengaja datang ke rumah ini untuk mengantarkan bantuan kepada Hengki yang kasusnya kini menjadi perhatian publik.

Andre Rosiade mengatakan, dia memberikan bantuan untuk meringankan beban keluarga. Dia juga sudah langsung menghubungi Kapolres Pariaman meminta penjelasan kasus ini dan tidak lanjutnya. “Kami minta tim antar bantuan. Nanti masalah di Polres juga akan kami pantau dan cek lagi. Soal pengobatan lanjutan nanti kita akan coba bantu lagi untuk Hengki,” kata Andre Rosiade.

Nurhasni hanya ibu rumah tangga. Sejak sang suami meninggal dunia, ditambah Hengki tak bisa lagi bekerja, Nurhasni me­nga­ku beban hidupnya ber­­tambah berat. “Sejak Hengki sakit, beban keluarga jadi tambah berat,” tuturnya.

Bantuan dari Andre Rosiade, kata Nurhasni se­tidak­nya sedikit mengu­rangi beban keluarganya. Ia mengapresiasi kepe­dulian Andre Rosiade terhadap anaknya. “Terima kasih banyak pak atas bantuan bapak Andre Rosiade. Semoga bapak sehat dan panjang umur,” tuturnya.

Nurhasni berharap, anak­­­nya bisa sembuh kem­bali, penglihatannya bisa kem­bali seperti sedia kala. Ia tak menyangka, tindakan me­dis men­cabut gigi yang di­la­kukan terhadap anaknya pada sekitar 4 tahun silam akan berakhir tragis se­perti ini.

Nurhasni bercerita, Heng­ki awalnya merasakan tumbuhnya gigi di langit-langit mulut bagian kanan. Gigi itu semula hanya terasa mengganggu, tetapi lambat laun menimbulkan rasa sakit. Ia kemudian memutuskan untuk memeriksakannya ke salah satu klinik bernama ASIR Dental Care. Setelah diperiksa oleh dokter gigi di klinik tersebut, dokter memutuskan untuk mencabut gigi tersebut.

“Pihak klinik bilang aman, tidak akan berdampak apa-apa. Tapi, setelah dicabut, darah keluar banyak,” tutur Nurhasni.

Pascacabut gigi itu, Heng­ki menderita demam. Setelah dicek, ternyata syaraf mata Hengki mengalami permasalahan. Se­iring berjalannya waktu, perlahan-lahan ada yang be­rubah dengan kondisi peng­lihatan anaknya. Heng­ki mulai mengalami gangguan pada matanya. Penglihatannya sedikit-sedikit mengalami penurunan hingga menderita kebutaan.

“Sejak cabut gigi itu, anak saya tidak langsung buta. Tapi bertahap, perlahan-lahan hingga matanya buta total,” kata Nurhasni.

Ia mengaku sempat meminta pertanggung ja­wa­ban dari klinik terkait kon­disi anaknya. Namun, tanggapan dari klinik tak seperti yang dia harapkan. Upaya mediasi beberapa kali dilakukan, tetapi tak menghasilkan titik temu.

“Saya sudah coba minta pertanggung jawaban ke klinik dan sudah tiga kali bertemu. Saya hanya dika­sih uang Rp300 ribu pertamanya. Kemudian, setiap sebulan juga dikasih Rp200 ribu,” sebut Nurhasni.

Tak puas dengan apa yang telah diderita anaknya, Nurhasni kembali memintai pertanggung jawaban kepada klinik, tapi di tengah jalan klinik justru memutus hubungan komunikasi dengannya. “Di tengah jalan nomor saya ma­lah diblokir. Sejak saat itu klinik tidak pernah lagi kasih uang,” tuturnya.

Nurhasni lalu memutuskan untuk melaporkan kejadian itu ke Polres Pariaman. Ia berharap kasus itu menemukan titik terang. Tapi tanpa disangka, proses pe­nye­lidikannya malah di­hen­ti­kan oleh kepolisian. Dalam Surat Pemberita­huan Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) tanggal 28 Mei 2025 yang diterima Nurhasni, disebutkan penyelidikan kasus tersebut dihentikan karena tidak ditemukan unsur pidana.

Nurhasni menegaskan hanya menuntut keadilan bagi anaknya. Dan mendorong agar penyelidikan kasus ini kembali dilanjutkan. “Saya berdoa, cukup sehatkan saja anak kami ini. Hidup saya serasa hampa, anak cuma seorang, tapi kondisinya seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, Hengki hanya berharap bisa melihat kembali agar dia bisa membantu ibunya untuk meringankan beban keluarga. “Saya hanya punya satu harapan, bahagiakan ibu saya. Tapi mata kini tidak melihat lagi,” katanya.

Wakil Sekretaris DPD Gerindra Sumbar Zulkifli mengatakan, Andre Rosiade sengaja meminta timnya untuk menyerahkan santunan kepada Hengki ka­rena peduli dengan kasus yang menimpanya saat ini. Ia berharap, bantuan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, terutama untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. “Pak Andre menyuruh kami me­ngi­rimkan santunan untuk Hengki sebesar Rp10 juta. Semoga dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk ke­perluan pengobatan Heng­­ki,” kata Zulkifli.

Terpisah, drg. Rini Susilawati Risman yang merupakan dokter ASIR Dental Care membantah melakukan mal praktik yang membuat mata pasiennya buta. Me­nurutnya prosedur yang dilakukan sudah sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedure) kedokteran gigi.

“Kasus ini sebenarnya sudah digelar di Polres Pariaman di bulan Februari 2025. Perkaranya sudah selesai di bulan kemarin. Saya dinyatakan Alhamdulillah tidak bersalah dan tidak malpraktik dan tidak menyebabkan mata saudara Hengki ini buta,” katanya di Kabar Utama Pagi TVOne, Kamis (10/7).

Drg. Rini juga menyampaikan proses penca­butan gigi yang menye­bab­kan pasien buta belum pernah terjadi. Ia menegaskan, itu cuma merupakan mitos karena dalam ilmu kedokteran gigi tidak ada kaitan saraf gigi dengan saraf mata. (*)