AGAM/BUKITTINGGI

Aristo Munandar Sandang Gelar Adat Datuak Bagindo Kayo, Bangkitkan Kembali Tradisi Batagak Pangulu di Nagari Lambah

0
×

Aristo Munandar Sandang Gelar Adat Datuak Bagindo Kayo, Bangkitkan Kembali Tradisi Batagak Pangulu di Nagari Lambah

Sebarkan artikel ini
GELAR ADAT— Mantan Bupati Agam dua periode, Aristo Munandar, resmi menyandang gelar adat Datuak Bagindo Kayo dari Kaum Suku Koto, Nagari Lambah, Kecamatan Ampek Angkek, dalam prosesi sakral malewakan gala yang digelar di Medan Nan Bapaneh, Jorong Koto Hilalang, Minggu (6/7).

AGAM, METRO–Mantan Bupati Agam dua periode, Aristo Munandar, resmi menyandang gelar adat Datuak Bagindo Kayo dari Kaum Suku Koto, Nagari Lambah, Kecamatan Ampek Angkek, dalam prosesi sakral malewakan gala yang digelar di Medan Nan Bapaneh, Jorong Koto Hilalang, Minggu (6/7).

Prosesi adat tersebut menjadi momen penting dalam pelestarian budaya Minangkabau, karena menjadi ajang kebangkitan tradisi batagak pangulu yang sudah lama tidak dilaksanakan di Nagari Lambah. Acara ini juga dihadiri oleh berbagai tokoh penting, baik dari tingkat nasional maupun daerah, sebagai bentuk penghormatan terhadap Aristo Munandar atas pengangkatannya sebagai pangulu.

Bupati Agam, Benni Warlis Dt Tan Batuah, yang hadir dalam kesempatan tersebut, menyampaikan apresiasinya. Ia menyebutkan bahwa pengangkatan pangulu oleh Kaum Suku Koto ini merupakan langkah besar dalam meng­hidupkan kembali nilai-nilai adat yang mulai memudar.

“Ini merupakan kegiatan akbar dalam rangka mambangkik batang tarandam. Sudah lama Nagari Lambah tidak melaksanakan batagak pangulu, dan kali ini dipelopori oleh Bapak Aristo Munandar Dt Bagindo Kayo,” ujar Benni.

Bupati Benni berharap momentum ini dapat menjadi inspirasi bagi nagari-nagari lain di Kabupaten Agam untuk kembali menggairahkan tradisi batagak pangulu sebagai bagian dari pelestarian adat dan budaya Minangkabau.

“Selamat kepada Bapak Aristo Munandar. Semoga beliau menjadi suri tauladan dan pemimpin yang membimbing anak kemenakan serta membawa manfaat bagi masya­rakat luas,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan bahwa gelar pangulu bukanlah sekadar simbol, melainkan sebuah bentuk kepercayaan dan tanggung jawab besar untuk membina kaum serta menjaga marwah adat Minang­kabau.

“Gelar ini sarat makna, berasal dari kearifan budaya lokal yang sakral. Para pangulu diharapkan mampu berperan aktif ti­dak hanya di ranah adat, tetapi juga di tingkat nasional,” tutupnya.

Dengan resmi menyandang gelar Datuak Bagindo Kayo, Aristo Munandar diharapkan menjadi figur yang mampu menjemba­tani nilai-nilai adat dengan dinamika zaman, serta menginspirasi generasi muda dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Minangkabau. (pry)