AGAM/BUKITTINGGI

Enam Hari Setelah Lahir di TMSBK, Anak Yani dan Bujang Mati karena Kelainan Genetik

0
×

Enam Hari Setelah Lahir di TMSBK, Anak Yani dan Bujang Mati karena Kelainan Genetik

Sebarkan artikel ini
JELASKAN— Kadispar Kota Bukittinggi sekaligus Ketua Tim Dokter TMSBK, Rofie Hendria saat menjelaskan penyebab kematian anak Harimau Sumatera yang baru berumur 6 hari di TMSBK Bukittinggi, Selasa (1/7) yang lalu.

BUKITTINGGI, METRO–Seekor anak Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae) jantan yang baru berusia enam hari dilaporkan mati di Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi, Selasa (1/7) lalu. Anak harimau tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk harimau bernama Yani dan pejantan Bujang Mandeh itu menjadi perhatian karena kematiannya diduga berkaitan dengan faktor genetik dan kurangnya nutrisi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Bukittinggi sekaligus Ketua Tim Dokter TM­SBK, Rofie Hendria, menjelaskan bahwa bayi harimau itu meninggal karena tidak mendapatkan asupan air susu induk, yang meng­akibatkan kekurangan nutrisi. Selain itu, pihaknya juga menduga ada­nya kelainan genetik sebagai penyebab utama.

“Benar, anak dari Yani mati karena kurangnya nutrisi akibat tidak ada air susu. Selain itu, faktor genetik juga dicurigai karena Yani telah tiga kali melahirkan, namun seluruh anaknya tidak ada yang bertahan hidup,” ungkap Rofie.

Rofie memaparkan, kasus serupa sudah pernah terjadi sebelumnya. Pada kelahiran pertama, Yani melahirkan dalam kondisi stillbirth (lahir mati), dan pada Agustus 2024, anak harimau yang dilahirkannya hanya bertahan tiga hari.

Hasil kajian se­men­tara bersama Ba­lai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengung­kap bahwa garis keturu­nan Yani sulit ditelusuri hingga ke induk pertamanya (generasi F0). Penelusuran hanya sampai generasi F4, yang menimbulkan dugaan terjadinya inbreeding atau perkawinan sedarah, yang kemudian berdampak pada keberlangsungan keturunannya.

“Induk dari Yani bernama Sean juga mengalami hal serupa. Seluruh anak dari Sean tidak bertahan hidup, hanya Yani yang berhasil lahir selamat,” jelas Rofie.

Berbeda dengan Yani, induk harimau lain di TMSBK bernama Bancah justru berhasil melahirkan dua anak harimau yang sehat dan kini tumbuh dengan baik. Kedua anak tersebut bahkan diberi nama secara langsung oleh Menteri Kehutanan dan Ketua Komisi IV DPR RI dalam kunjungan beberapa waktu lalu.

Rofie menegaskan bahwa seluruh prosedur standar perawatan (SOP) telah dilaksanakan secara maksimal oleh pihak TMSBK. Saat ini, TMSBK tercatat memiliki 13 ekor harimau Sumatra, termasuk satu ekor harimau titipan dari BKSDA yang sebelumnya terjerat di wilayah Agam.

Jumlah ini menjadikan TMSBK sebagai salah satu lembaga konservasi dengan jumlah harimau Su­matra terbanyak di Indonesia yang dikelola dalam satu kawasan. “TMSBK juga telah memiliki Rencana Kerja Pengelolaan (RKP) nasional, yang memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk memproses tukar-ganti hewan antar kebun binatang secara legal,” tutup Rofie. (pry)