BERITA UTAMA

Alek Nagari Dibatalkan Bupati Secara Mendadak, Niniak Mamak: Ndak Kayu Janjang Dikapiang

0
×

Alek Nagari Dibatalkan Bupati Secara Mendadak, Niniak Mamak: Ndak Kayu Janjang Dikapiang

Sebarkan artikel ini

BERBAGAI komponen masyarakat di Kenagarian Ketaping mengaku kecewa dan merasa dipermainkan Bupati Padangpariaman. Iven Pekan Kebudayaan Padangpariaman yang di­rencanakan di Pantai Keta­ping dibatalkan mendadak, hanya beberapa hari je­lang hari pelaksanaan.

Tak ingin menanggung malu atas pembatalan ter­sebut, komponen masya­rakat setempat yang terdiri dari berbagai unsur me­lakukan musyawarah mu­fakat. Hasilnya, secara man­diri kegiatan tetap di­lak­sanakan sesuai jadwal. Hanya saja perhelatan ini tak lagi menjadi ranahnya Pemkab, tetapi menjadi kegiatan nagari.

Niniak Mamak Keta­ping, B Dt Rajo Sampono mengaku sangat kecewa atas keputusan sepihak dan mendadak tersebut. Apalagi perhelatan bukan permintaan dirinya, tetapi berawal dari rencana Pem­kab melalui Dinas Kebu­dayaan. Entah apa sebab­nya, setelah sosialisasi melalui spanduk dan pe­ngumuman media sosial sudah masif, tiba-tiba saja dibatalkan.

“Saya dan masyarakat sangat kecewa. Nasi sudah menjadi bubur, tak mung­kin bupati manarik kembali pembatalan ini. Atas per­lakuan tersebut kami se­gera musyawarah, dan tetap lanjut. Ndak kayu jen­jang dikeping. Apapun ca­ranya, acara tetap kita lak­sanakan,” ujar Rajo Sam­pono yang dihubungi Rak­yat Sumbar, kemaren.

Rajo Sampono yang dikenal dekat dengan Jhon Kenedy Azis mengaku ka­get dengan sikap plin plan bupati. Menurutnya, JKA masih adaptasi sebagai bupati, karena selama ini hanya berpengalaman se­bagai legislatif. Justru itu ia mengingatkan, berpikir du­lu sebelum berucap apa­lagi sebagai pimpin. Bahwa raso dibawa naik, pareso dibawa turun. Jangan mem­per­malukan masyarakat dan diri sendiri.

Pembatalan

karena Anggaran

Bupati Padang Paria­man H John Kenedy Azis menjelaskan mengenai pem­batalan acara Pekan kebu­dayaan I yang direnc­a­nakan akan dilaksanakan di Nagari Katapiang, Keca­matan Batang Anai awal Juli ini. Pembatalan terse­but kata Bupati, dilandas­kan pada 2 pertimbangan utama. “Pertimbangan per­tama terkait Inpres No 1 tahun 2025 tentang efi­siensi anggaran. Disini jelas, persoalan efisiensi ini dilaksanakan oleh semua daerah di Indonesia. Untuk itu, Pemkab Padang Paria­man juga harus mengacu pada apa yang sudah di­tetapkan oleh presiden ini,” katanya.

Besarnya anggaran yang akan dipakai lebih dari 200 juta. Hal ini tidak sesuai dengan tuntutan efisiensi pada Inpres di­mak­sud. “Kami tidak mau ada pandangan bahwa di­tengah efisiensi ini kita masih juga menghambur-hamburkan anggaran se­besar ini,” sebutnya.

Persoalan ini terjadi, kata Bupati karena kurang koordinasinya antara pihak Bidang Kebudayaan di Di­nas Pendidikan dan Kebu­dayaan Padang Pariaman dengan pimpinan. “Acara ini sedianya dikelola oleh Bidang Kebudayaan di Di­nas Pendidikan. Namun, pihak tersebut tidak ber­koordinasi dengan pimpi­nan­nya. Ini yang sedang kita benahi,” sebutnya.

“Selain itu, dalam pe­nyelenggaraan Festival yang sudah-sudah s itu tidak menyertakan APBD yang ada di Pemda. Dana Festival itu didapatkan dari dukungan para sponsor, perantau dan masyarakat, serta dari nagari” sebut JKA. Jangan sampai, kata JKA nagari-nagari lain men­jadi cemburu karena ada kegiatan yang meng­ge­lontornkan APBD sede­mi­kian besar di salah satu nagari saja. “Kita punya 103 nagari. Semua harus kita perlakukan sama,” katanya.

Di sisi lain, JKA mene­kankan bahwa apa yang sudah dipersiapkan oleh para seniman yang sedia­nya akan tampil pada Pe­kan Kebudayaan Daerah 1 ini akan tetap diberi wadah.

“Kami akan alihkan ke format yang lain, dan lang­sung dikoordinir bersama pemerintah nagari tanpa melibatkan dinas. Ada aca­ra baru nanti yang akan mengakomodir persiapan penampilan yang sudah dilaksanakan sekarang oleh para seniman kita,” katanya.

“Dinas akan kita eva­luasi dulu. Sementara, se­mangat berkesenian juga tak boleh padam. Karena kita sudah berkomitmen untuk mendukung kese­nian,” katanya.

Tentang kapan acara baru yang dimaksud, se­lan­jutnya akan tergantung pada stake holder kegiatan nantinya di tingkat nagari. “Kami yakin, nagari (Kata­piang) bisa, karena duku­ngan dari berbagai tokoh sudah jelas untuk kema­juan kesenian di Kata­piang,” tutup Bupati. (*)