PAYAKUMBUH/50 KOTA

Musim Kemarau di Limapuluh Kota, Kekeringan Sawah dan Ladang Jagung Terancam Gagal Panen

5
×

Musim Kemarau di Limapuluh Kota, Kekeringan Sawah dan Ladang Jagung Terancam Gagal Panen

Sebarkan artikel ini
ilustrasi

LIMAPULUH KOTA, METRO–Musim kemarau panjang sejak beberapa pekan terakhir di Kabupaten Lima Puluh Kota telah membuat ratusan hektarea sawah dan ladang Jagung milik masyarakat di Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Halaban, terancam gagal panen.  Petani di berbagai jorong di nagari tersebut kini dihadapkan pada risiko gagal panen akibat minimnya pasokan air untuk irigasi.

Hingga akhir Juni 2025, lalu ltercatat sekitar 165 hektare lahan sawah dan ladang jagung terdampak langsung kekeringan dari total luas 448 hektare lahan pertanian di Nagari Balai Panjang. Tanaman padi dan jagung yang menjadi andalan masyarakat kini mengalami pertumbuhan tidak normal, dengan ciri daun menguning dan tanah yang mulai menge­ring serta retak-retak.

“Dampak kemarau panjang ini sangat terasa. Tanaman padi dan jagung mengalami hambatan per­tumbuhan, dan sebagian besar lahan pertanian kini terancam gagal pa­nen,” ujar Walinagari Ba­lai Panjang, Idris, saat meninjau langsung kondisi lahan pertanian warga di Jorong Kubang Rasau, Nagari Balai Panjang, Kecamatan Lareh Sago Ha­laban, Kabupaten Limapuluh Kota.

Dalam tinjauan yang didampingi Bhabinkamtibmas Bripka Supra­yetno dan Babinsa Kopda Doni Eka Putra tersebut, Idris menyebut Jorong Ku­bang Rasau sebagai wilayah yang mengalami dampak paling parah. Namun, kekeringan juga terjadi hampir di seluruh jorong di Nagari Balai Panjang.

Menurut Idris, mayoritas petani selama ini mengandalkan pengairan dari saluran irigasi bandar dan curah hujan. Namun, mu­sim kemarau yang ber­kepanjangan telah me­nyebabkan debit air irigasi menyusut drastis hingga kering sama sekali. “Selama ini masyarakat bergantung pada aliran irigasi untuk pengairan sawah. Tapi sekarang de­bit air sangat kecil, bahkan tidak mengalir lagi. Ditambah curah hujan yang tak kunjung turun, kondisi ini sangat memprihatinkan,” jelasnya.

Sebagai bentuk ikhtiar, masyarakat setempat telah menggelar salat Istisqa atau salat minta hujan di beberapa jorong. Namun, hujan yang turun beberapa waktu lalu belum cukup untuk menga­tasi kekeringan yang terjadi. “Untuk menyelamatkan lahan dari gagal pa­nen, kami bersama ma­syarakat terus berdoa agar hujan segera turun. Kami telah melaksanakan salat minta hujan dan akan kembali melaksanakannya dalam waktu dekat,” tutup Idris. Kondisi ini menambah daftar panjang dampak perubahan iklim yang kini kian nyata dirasakan di sektor pertanian. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk membantu petani menghadapi kondisi darurat ini. (uus)