AGAM/BUKITTINGGI

Titiek Soeharto: SPM Layak jadi Program Nasional Ketahanan Pangan

0
×

Titiek Soeharto: SPM Layak jadi Program Nasional Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
PANEN RAYA— Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto SE, saat menghadiri panen raya padi di Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Ampek Angkek, Sabtu (21/6).

AGAM, METRO–Program Sawah Pokok Murah (SPM) yang dikembangkan di Kabupaten Agam, mendapat sorotan positif dari Komisi IV DPR RI. Ketua Komisi IV, Siti Hediati Soeharto, SE atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, menyatakan bahwa program ini layak dijadikan model nasional dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan saat panen raya padi di Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Ampek Angkek, Sabtu (21/6), yang turut dihadiri oleh Bupati Agam, Ir. H. Benni Warlis, MM, Dt. Tan Batuah, Wakil Gubernur Sumbar Vasco Ruseimy, sejumlah anggota Komisi IV DPR RI, dan jajaran stakeholder pertanian nasional.

Menurut Titiek Soeharto, program SPM tidak hanya mampu menghasilkan padi murah berkualitas tinggi, tetapi juga dinilai efektif dalam menekan biaya pro­duksi dan meningkatkan produktivitas petani.

“SPM merupakan inovasi luar biasa dari putra daerah Agam yang patut dibanggakan. Ini adalah solusi nyata menuju swa­sembada pangan nasional. Program ini layak diangkat ke tingkat nasional,” ujar Titiek.

Ia menekankan pentingnya memaksimalkan penerapan SPM di Sumatera Barat sebelum diadopsi secara luas di daerah lain. Komisi IV juga mendorong Kementerian Pertanian untuk segera mela­kukan kajian cepat agar program ini bisa segera diimplementasikan secara berkelanjutan dan terukur.

“Penelitian lanjut sangat penting agar manfaat SPM bisa segera dirasakan langsung oleh para petani. Jangan sampai potensi besar ini terhambat oleh bi­rokrasi,” tegasnya.

Komisi IV turut me­nyoroti kebutuhan mendesak terhadap bibit lokal unggul, sistem irigasi yang memadai, dan dukungan infrastruktur pertanian lain­nya demi menunjang keberhasilan program ini di lapangan.

Program SPM dinilai memiliki potensi sebagai solusi jangka panjang meng­hadapi ancaman krisis pangan global, sekaligus sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal. (pry)