AGAM/BUKITTINGGI

Bukittinggi jadi Kota Percontohan Nasional dalam Program Perencanaan Kota Terpadu

0
×

Bukittinggi jadi Kota Percontohan Nasional dalam Program Perencanaan Kota Terpadu

Sebarkan artikel ini
PEMAPARAN— Pemaparan oleh Wako Bukittingi, Ramlan Nurmatias terkait terpilihnya Bukittinggi menjadi salah satu dari 10 kota di Indonesia yang menjadi percontohan program ICP, sebuah inisiatif strategis dari Kementerian PUPR melalui BPIW.

BUKITTINGGI, METRO–Kota Bukittinggi resmi terpilih sebagai satu dari 10 kota di Indonesia yang menjadi percontohan (pilot project) Program Integrated City Planning (ICP), sebuah inisiatif strategis dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Ba­dan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW).

Program ini dipaparkan secara daring dalam pertemuan yang digelar di Bukittinggi Command Center (BCC), Senin (2/6). Acara tersebut dihadiri oleh jajaran BPIW, Kepala SKPD, serta tim perencanaan ICP Kota Bukittinggi.

Kapuswil I BPIW Kementerian PUPR, Boby Ali Azhari, menjelaskan bahwa ICP merupakan instrumen pembangunan permukiman perkotaan yang berbasis New Urban Agenda dan selaras dengan arah kebijakan nasional. Untuk Bukittinggi, pendekatan yang digunakan adalah konsep Urban Catalyst.

“Kita arahkan Bukittinggi sebagai kota dengan kekuatan pariwisata berbasis budaya. ICP bertujuan meningkatkan daya saing, keberlanjutan, dan peluang investasi. Bukittinggi memiliki keunggulan dalam pelestarian warisan budaya,” terang Boby.

Dalam kerangka Skenario Transformasi Perkotaan Nasional 2045, Bukittinggi masuk sebagai kota yang akan difokuskan pe­ngembangannya melalui sektor pariwisata.

Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyambut baik langkah strategis ini. Ia menilai keterlibatan Bukittinggi dalam ICP sebagai peluang besar untuk merancang kota yang modern tanpa kehilangan jati diri budaya.

“Kita sangat berterima kasih kepada Kementerian PUPR. Bukittinggi kaya dengan peradaban dan sejarah. Melalui program ini, kita bisa membangun kota dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan identitas lokal,” ujar Ramlan.

Dalam paparan awal, terdapat 10 lokasi strategis di Bukittinggi yang dirancang sebagai urban catalyst untuk pembangunan jangka panjang (2025–2045). Ke-10 lokasi tersebut terbagi dalam empat jenis katalis pengembangan: Cultural Catalyst – sebagai identitas kota dan sarana ekspresi budaya ma­sya­rakat, Transport Catalyst – untuk peningkatan akse­ sibilitas antar kawasan, Heritage Catalyst – mendukung diversifikasi objek wisata, Institutional Catalyst – untuk pengembangan sektor pendidikan

Lokasi-lokasi tersebut masih akan dikaji lebih lanjut bersama pemangku kepentingan daerah untuk menyempurnakan rencana pembangunan terintegrasi. (pry)