OLAHRAGA

Insiden dengan George Russell di GP Spanyol, Max Verstappen Terancam Hukuman Larangan Balapan

0
×

Insiden dengan George Russell di GP Spanyol, Max Verstappen Terancam Hukuman Larangan Balapan

Sebarkan artikel ini
INSIDEN BALAPAN— Max Verstappen (kiri) yang mengalami insiden dengan George Russell (kanan) di Balapan F1 GP Spanyol.

JAKARTA, METRO–Max Verstappen berada di ambang hukuman larangan balapan usai insiden dengan George Russell di Grand Prix (GP) Spa­nyol. Pembalap Red Bull itu kini hanya berjarak satu poin penalti dari total 12 poin yang bisa membuatnya terkena larangan ba­lapan satu seri.

Dilansir dari ESPN, insiden yang terjadi pada hari Minggu (1/6) itu membuat Verstappen dihukum penalti waktu 10 detik dan tambahan tiga poin penalti di lisensi supernya. Akibat penalti tersebut, Verstappen harus puas finis di posisi ke-10.

Total poin penalti Verstappen kini mencapai 11. Sesuai regulasi Formula 1, pebalap akan dikenai la­rangan satu balapan jika mengumpulkan 12 poin dalam kurun 12 bulan.

Dua dari 11 poin penalti Verstappen akan kadaluarsa pada 30 Juni mendatang. Artinya, ia harus menghindari pelanggaran di dua balapan berikutnya di Kanada dan Austria jika ingin menurunkan risikonya.

Meski berhasil lolos tanpa poin tambahan hingga akhir Juni, Verstappen tetap harus berhati-hati. Dua poin lainnya baru akan hilang pada 27 Oktober, sehingga ia masih berada tiga poin dari batas maksimal hingga setelah GP Meksiko.

Insiden di Spanyol ini terjadi saat pembalap asal Belanda itu kehilangan peluang podium akibat masuknya safety car di akhir balapan. Saat itu, Verstappen berada di posisi ketiga sebelum masuk pit.

Namun, karena sudah menggunakan semua ban soft dan medium dalam strategi tiga pit stop, ia hanya punya ban hard tersisa. Ini membuatnya kehilangan keunggulan saat balapan kembali dimulai.

Sementara itu, Charles Leclerc dan George Russell, yang ada di belakangnya, mengganti ban ke soft saat safety car. Hal ini memberi mereka keunggulan saat restart.

Leclerc langsung me­nyalip Verstappen sesaat setelah restart, sedangkan Russell mencoba manuver di Tikungan 1. Tapi aksinya berujung tabrakan dengan Verstappen.

Tabrakan tersebut membuat Verstappen keluar lintasan. Red Bull pun sempat khawatir sang pebalap akan kena penalti karena dianggap mengambil keuntungan dari insiden itu.

Insinyur Red Bull, Gianpiero Lambiase, sempat memberi instruksi kepada Verstappen untuk me­ngembalikan posisi ke Russell. Tujuannya agar terhindar dari hukuman tambahan.

Namun Verstappen tampak tak senang dengan perintah tersebut. Ia terlihat memperlambat laju mobil di Tikungan 5 untuk membiarkan Russell melewati.

Anehnya, sesaat setelah Russell mulai menyalip, Verstappen kembali tancap gas dan terjadilah tabrakan. Aksi ini membuat para steward menyalahkan Verstappen sepenuhnya.

“Dari komunikasi radio, jelas bahwa Car 1 (Verstappen) diminta untuk ‘me­ngembalikan posisi’ ke Car 63 (Russell),” bunyi per­nyataan steward.

“Car 1 tampak tidak senang dengan permin­taan tersebut. Ia memperlambat mobil di Tikungan 5 namun tiba-tiba mempercepat lagi dan menabrak Car 63,” tambahnya.

“Tabrakan tersebut je­las disebabkan oleh tindakan Car 1. Maka kami menjatuhkan penalti 10 detik dan tiga poin penalti tambahan,” ujarnya kembali.

Di sisi lain, soal insiden awal di Tikungan 1, steward menyatakan tidak akan memberikan hukuman karena Russell kehilangan kendali dan menabrak le­bih dulu. Verstappen dinilai tidak dengan sengaja keluar lintasan.

Pembalap terakhir yang terkena larangan balapan akibat akumulasi 12 poin penalti adalah Kevin Magnussen tahun lalu. Ia absen di GP Azerbaijan setelah mencapai batas saat balapan di Monza.

Poin penalti bisa dida­pat dari pelanggaran kecil, seperti terlalu lambat di lap pendinginan, tidak menjaga jarak 10 mobil di belakang safety car, atau pe­langgaran kecepatan saat VSC. Kini, peluang gelar Verstappen pun makin berat setelah hanya finis ke-10 dan tertinggal 49 poin dari Oscar Piastri.

Meski enggan membahas insiden tersebut usai balapan, George Russell menyindir Verstappen. Ia menyebut tindakan sang juara dunia memberi contoh buruk bagi generasi muda. (*)