METRO PESISIR

Jangan Malu Perhatikan Anak Berkebutuhan Khusus

0
×

Jangan Malu Perhatikan Anak Berkebutuhan Khusus

Sebarkan artikel ini
pendidikan Inklusif— Bunda PAUD Kota Pariaman,Yosnelli Balad menyalami sejumlah anak berkebutuhan khusus saat penandatanganan MoU pendidikan inklusif antara Pemko Pariaman dengan UNP .

PARIAMAN, MERO— Bunda PAUD Kota Pariaman,Yosnelli Balad mengungkapkan jika Pemkab Padangpariaman komit untuk tidak meninggalkan satu anak pun dalam haknya untuk memperoleh pendidikan yang layak.

“PAUD harus diselenggarakan secara nondiskrimi­na­tif dan menjamin akses yang adil bagi seluruh anak, termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus,” ungkap Bunda PAUD Yosnelli Balad, saat penan­da­tanganan MoU pendidikan inklusif antara Pemko Pa­riaman Dengan UNP serta launching penyelenggaraan pendidikan Inklusif di Kota Pariaman.

Yosnelli Balad menghimbau kepada para orang tua dan guru untuk tidak membeda-bedakan kasih sayang kepada anak-anak, apalagi anak-anak yang mempu­nyai kebutuhan khusus tersebut. “Jangan malu jika kita mempunyai anak-anak berkebutuhan khusus, jangan disembunyikan atau dikurung di rumah saja. Jangan bedakan kasih sayang kita kepada mereka. Mereka berhak bahagia, berhak beradaptasi dengan ling­kungan dan berhak mendapatkan pendidikan yang baik sesuai dengan kondisi mereka,” ujarnya.

Baca Juga  Program Pamsimas Sangat Ditunggu Masyarakat

Yosnelli menjelaskan, pendidikan inklusif adalah bentuk keberpihakan. Ia lahir dari kesadaran bahwa setiap anak adalah unik, istimewa, dan berhak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang ramah dan mendukung.

Dalam usia emas anak, khususnya anak usia dini,ia tidak hanya bicara tentang kemampuan membaca, berhitung, atau menulis, ia berbicara tentang nilai-nilai dasar kehidupan, cinta, penerimaan, keberagaman, dan empati.  “Dalam kapasitas saya sebagai Bunda PAUD, ada dua hal yang menjadi catatan bagi kita semua yaitu pertama, saya mengajak seluruh pengelola satuan PAUD, baik formal maupun nonfor­mal, untuk mulai memahami, mempersiapkan, dan melaksanakan pendekatan inklusif dalam kegiatan pembelajaran. Pendidikan anak usia dini bukan hanya untuk anak yang “mudah diajar”, tetapi juga untuk mereka yang membutuhkan sentuhan lebih sabar, lebih lembut, dan lebih mendalam,” ujarnya.

Baca Juga  Jumat Lusa, Shalat Perdana Berjamaah di Masjid Raya

“Kedua, saya mengimbau kepada seluruh orang tua, agar turut membangun lingkungan yang inklusif di rumah. Jangan ada lagi anak yang disembunyikan karena berbeda. Jangan ada lagi anak yang dikucilkan karena dianggap tidak “normal”. Mari kita tanamkan dalam hati bahwa perbedaan bukan alasan untuk memisahkan, tetapi jembatan untuk saling memaha­mi,” ujarnya. (efa)