METRO SUMBAR

Tanahdatar Siapkan Langkah Strategis Pengendalian Inflasi

0
×

Tanahdatar Siapkan Langkah Strategis Pengendalian Inflasi

Sebarkan artikel ini
IKUTI RAKOR INFLASI— Bupati Tanahdatar Eka Putra mengikuti secara daring Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Senin (26/5).

TANAHDATAR, METRO –Pemerintah Kabupaten Tanah Datar terus berupaya melakukan berbagai langkah strategis untuk pengendalian inflasi di da­erah yang dikenal sebagai luhak nan tuo ini. Salah satunya, dengan mendirikan Pabrik Saus Tomat dan Cabai yang berada di da­lam gedung sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Pengolahan Produk Holtikultura di Kecamatan Sa­limpaung, Kabupaten Tanah Datar.

“Telah diresmikannya Pabrik Saus dan Cabai di sentra IKM Pengolahan Produk Holtikultura sebagai peran Pemerintah Daerah Tanah Datar untuk pengendalian inflasi di daerah ini,” ujar Bupati Eka Putra selepas mengikuti secara da­ring Rapat Koordinasi Pe­ngendalian Inflasi bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Gubernur dan Bupati/Walikota se Indonesia, di Aula Eksekutif, Kantor Bupati setempat, Senin (26/5).

Bupati Eka Putra menambahkan, Kabupaten Tanah Datar sebagai daerah Produsen berusaha untuk berkontribusi dalam mengendalikan inflasi baik di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) maupun di wila­yah Sumatera.

Tidak hanya itu, Bupati Eka Putra menyebutkan pada momentum kegiatan rapat Inflasi tersebut, adanya pembahasan tentang Koperasi Merah Putih yang diharuskan Pemerintah Kabupaten Tanah Datar untuk menyelesaikan segala sesuatunya.

“Terkait Koperasi Me­rah Putih, Kabupaten Tanah Datar diberi waktu beberapa bulan kedepan, untuk menyelesaikan semua pengurus Koperasi yang ada di daerah ini. Tadi juga dihadiri Menteri Bappenas,” ujarnya.

Sementara itu, Mendagri RI Tito Karvian langsung dari Sasana Bhakti Praja Kemendagri mengatakan kegiatan ini, diadakan dalam pembahasan langkah konkret pengendalian inflasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

“Kita mengetahui angka inflasi tahun ke tahun relatif baik, diangka 1,95 persen. Maka kita harus menjaga keseimbangan, harus menyenangkan produsen dan konsumen, angka 1,95 persen di konsumen karena barangnya ada harganya terjangkau, tapi menyenangkan produsen karena adanya keuntungan,” ujarnya. (ant)