DHARMASRAYA, METRO–Didera konflik panjang selama puluhan tahun dengan PT. Bukit Raya Medusa (BRM), masyarakat Nagari Koto Nan Ampek Dibawuah kini hanya berharap kepada Annisa Suci Ramadhani sebagai Kepala Daerah untuk dapat menyelesaikan konflik yang tidak jua menemukan titik terang tersebut.
Hal itu disampaikan oleh Pemangku Adat Kenagarian Koto Nan Ampek Dibawuah, Aidil Datuak Pangulu Bosau kepada Posmetro, Minggu (25/5).
Aidil khawatir, bahwa konflik masyarakatnya dengan pihak perusahaan kian hari kian memanas, sehingga menemukan jalan buntu yang dapat membawa kepada hal-hal yang tidak diinginkan.
“Untuk itu, kami masyarakat Nagari Koto Nan Ampek Dibawuah sangat berharap kepada Pemerintah Daerah, yang mana saat ini dipimpin oleh Bupati Annisa Suci Ramadhani agar dapat menjadi penengah dan menyelesaikan konflik ini,” ungkapnya.
Aidil menjabarkan, bahwa tuntutan masyarakat kepada perusahaan tidak banyak, yang pertama kembalikan kepada masyarakat sisa kompensasi lahan yang telah dijanjikan PT BRM saat penyerahan pertama kali dahulu, yaitu sebanyak 550 hektar lagi.
“Kedua, keluarkan lahan yang berstatus HPL (Hutan Penggunaan Lainnya) dari area kelola PT BRM, dan ketiga, segara tentukan dan keluarkan tata batas sesuai dengan aturan yang berlaku,” Ungkap Aidil.
Selanjutnya, ditambah dia, masyarakat Nagari Koto nan Ampek Dibawuah meminta pihak perusahaan agar segera mencabut pelaporan yang dilayangkan atas nama ninik mamak dan penguasa ulayat Kenagarian Koto nan Ampek Dibawuah.
“Terakhir, kami meminta pihak perusahaan untuk segera mengganti manajer PT BRM area Sijunjung yang saat ini menjabat, karena dinilai tidak memiliki etika komunikasi yang bagus dengan masyarakat,” sebutnya. (cr1)






