METRO SUMBAR

Peluang dan Tantangan Geoekonomi, Pasca Indonesia Melangkah ke dalam BRICS

1
×

Peluang dan Tantangan Geoekonomi, Pasca Indonesia Melangkah ke dalam BRICS

Sebarkan artikel ini
Aditya Rifan Romadhoni

Oleh: Aditya Rifan Romadhoni
Universitas Brawijaya
Jurusan : Pendidikan Bahasa Inggris
No BP: 245110500111049

“Kami ingin memba­ngun negara modern dan maju yang didukung oleh aset terbesar kami ma­syarakat dan sumber daya alam yang melimpah”, begitu ucap presiden Prabowo sebagai pembicara kunci di forum Internasional World Government Summit 2025 ketika ditanya mengenai partisipasi Indonesia setelah resmi bergabung dalam organisasi BRICS pada 6 Januari lalu.

Langkah ini mencerminkan ambisi Indonesia untuk memperluas jejaring diplomatik dan menyongsong pertumbuhan eko­nomi di tengah dinamika internasional yang kian rumit. Indonesia melihat peluang memadai di sela-sela dominasi negara ba­rat untuk menjalin relasi antar negara selatan-selatan yang menjanjikan stablitas ekonomi, keuangan, dan pembangunan berkelanjutan.

Namun, bergabung de­ngan BRICS bukan langkah tanpa risiko. Di balik potensi ekonomi yang terbuka lebar, Indonesia juga harus siap untuk menghadapi problematika geopolitik yang multi-dimensi. Rivalitas antara negara-negara berkekuatan besar, pertimbangan mitra-mitra lokal, dan dinamika internal antarnegara anggota BRICS menjadi faktor-faktor yang perlu dicermati dengan menyeluruh. Oleh karena itu, penting bagi Indonesia untuk dengan seksama mengukur perannya dan bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa dihadapi.

BRICS sendiri merupakan sebuah kelompok aliansi ekonomi lima negara besar seperti Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan yang dicetuskan oleh Rusia pada tahun 2006 di sela-sela sidang Majelis Umum PBB. Didirikan de­ngan tujuan menciptakan tatanan ekonomi dan posisi memadai bagi negara-negara berkembang, BRICS telah berupaya untuk menyeimbangi dominasi barat dalam lembaga global dan pasar internasional.

Dalam perjalanannya, BRICS sampai saat ini semakin aktif mendorong kerja sama dengan membawa inovasi badan inter-grup seperti New Development Bank yang berfungsi sebagai alternatif pendanaan bagi negara-negaranya. Peluang Baik Untuk Indonesia. Masuknya Indonesia ke dalam BRICS, terdapat beberapa peluang yang dapat dimaksimalkan. Dengan masuknya Indonesia ke aliansi BRICS menambah peluang Indonesia untuk membuka investasi kepada yang lain. Selain itu negara-negara yang tergabung dalam BRICS memiliki kualitas terbaik dalam teknologi, salah satu negara yang memiliki teknologi maju dan tergabung dalam BRICS adalah China.

Dengan ini sangat di­sayangkan apabila Indonesia tidak memanfaatkan peluang-peluang yang hadir sebagai langkah baru dalam memajukan tek­no­logi yang ada di Indonesia guna menunjang kemajuan IPTEK yang berdampak besar pada segala bidang.

Tantangan Geopolitik Di Balik Peluang-Peluang Menguntungkan Indonesia tidak boleh naif atas risiko yang akan dihadapi. Dari banyaknya peluang, terdapat tantangan geopolitik yang tersembunyi. Dibalik peluang yang menguntungkan Indonesia, terdapat dominasi China dalam BRICS memberikan kekhawatiran atas agenda geopolitik Beijing yang bisa saja tidak selaras dengan kebijakan nasional Indonesia. Selain itu terdapat pula persaingan dari negara-negara anggota BRICS itu sendiri yang perlu diantisipasi.

Ketidakstabilan geopolitik yang melekat pada dinamika BRICS patut dijadikan faktor yang dipertimbangkan. BRICS yang dianggap sebagai lembaga yang menentang tatanan dunia yang ada, bisa me­ningkatkan ketegangan internasional yang memung­kinkan Indonesia rentan akan tekanan eksternal.

Indonesia adalah negara yang bebas aktif dalam menjalankan politik. Radityo kepada CNN Indonesia mengatakan bahwa bebas aktif tanpa tujuan yang jelas membuat Indonesia menyinggung semua pihak. Dengan mengikuti BRICS Indonesia menjadi negara yang menerapkan politik bebas aktif tetapi, jika tanpa tujuan yang jelas maka bisa saja Indonesia menyinggung salah satu pihak.

Mengingat Indonesia adalah negara netral yang memiliki prinsip nonblok, bergabung dengan BRICS bukanlah solusi yang se­penuhnya baik untuk eko­nomi. Dianggapnya BRICS sebagai forum yang melemahkan pengaruh Amerika Serikat, bisa saja menyeret Indonesia ke ranah konflik geopolitik yang panjang.

Diplomasi yang cakap dan cerdas sangat diperlukan Indonesia demi kepentingan nasional dan menghindari bergantung­nya Indonesia kepada satu negara dalam keanggo­taan BRICS. Menjalin hubungan yang kuat serta seimbang sangat diperlukan. Agar Indonesia tidak dianggap condong ke salah satu blok, maka Indonesia harus seimbang menjalin hubungan dengan negara BRICS dan negara-negara di luar BRICS. Indonesia perlu memaksimalkan man­faat dan meminimalisir risikonya.

Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS merupakan langkah awal untuk meningkatkan perekonomian, dan pasar yang mam­­pu bersaing di pasar global. Bergabungnya Indonesia menjadi bagian dari BRICS memberikan manfaat yang sangat besar. Kemudahan transfer teknologi, dan energi, menjadi manfaat yang nyata bagi Indonesia. Tak hanya itu BRICS juga bisa menjadi wadah bagi Indonesia untuk mempromosikan, dan mengenalkan sumber dayanya.

Namun, bergabung­nya Indonesia dalam BRICS tidak lepas dari dam­pak negatif.Adanya perang pasar global membuat ada­nya antara blok barat dan timur. Konflik geopolitik  menjadi salah satu dampak negatif bergabung dalam BRICS.   Konflik internasional seperti memansnya pasar global, hingga masalah geopolitik, bisa kita hindari dengan beberapa cara se­perti, kebijakan diplomasi yang membawa perdamaian, dan juga proses pengambilan keputusan yang transparan bisa diikuti oleh seluruh anggota. (**)