METRO SUMBAR

Seminar Diplomasi Ekonomi, Gubernur Mahyeldi Dukung Hilirisasi dan Ekspor Sawit Sumbar

0
×

Seminar Diplomasi Ekonomi, Gubernur Mahyeldi Dukung Hilirisasi dan Ekspor Sawit Sumbar

Sebarkan artikel ini
IKUTI—Gubernur Mahyeldi saat mengikuti kegiatan seminar tentang kebijakan luar negeri dan pembangunan nasional.

PADANG, METRO–Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah mengapresiasi kegiatan seminar tentang kebijakan luar negeri dan pembangunan nasio­nal yang diinisiasi oleh Kakanwil DJPb Sumbar, Ibu Syukriah HG secara hybrid, Rabu (23/4). Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menguatkan literasi pemerintah daerah, pe­ngu­saha dan pelaku UMKM akan pentingnya hilirisasi dan ekspor untuk pening­katan nilai tambah komoditas dan fiskal dae­rah.

“Ini kegiatan yang sangat positif untuk kita bisa memahami pentingnya hilirisasi dan ekspor komoditas unggulan daerah. Apa yang disampaikan oleh para narasumber sejalan dengan apa yang kita inginkan,” ucap Gubernur Mah­yeldi.

Hal itu disampaikannya usai mengikuti kegiatan seminar tentang kebijakan luar negeri dan pemba­ngunan nasional yang di­beri tema “Membangun Diplomasi Sawit Indonesia yang Berdampak terhadap Peningkatan Fiskal Dae­rah” yang dilaksanakan Kemenlu di Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Sumatera Barat secara Hybrid.

Diketahui berdasarkan data tahun 2024, Sumbar merupakan salah satu peng­hasil sawit terbesar di Indonesia, dengan jumlah produksi sekitar 699,39 ribu ton. Ekspor CPO Sumbar mendominasi sekitar 79,65% dari total ekspor secara nasional.

Dari 19 kota dan kabupaten yang ada di Sumbar, hanya sebagian kecil saja wilayah Sumbar yang bukan merupakan daerah perkebunan sawit, seperti Bukittingi, Padang Panjang, Payukumbuh, dan Mentawai. Itulah yang membuat Sumbar menjadi dae­rah penghasil sawit terbesar di Indonesia.

Baca Juga  Genius Umar: Bersinergi Demi Kemajuan Sumbar

Sedangkan pabrik pe­ngolahan kelapa sawit baru ada sebanyak 38 unit yang tersebar dibeberapa kabupaten/kota. 14 unit di Pasaman Barat, 7 unit di Dharmasraya, 5 unit di Solok Selatan, 4 unit di Pesisir Selatan, 4 unit di Agam, dan 4 unit di Sijunjung. “Itu kurang dan perlu ditambah, agar kedepannya hilirisasi bisa menjadi lebih optimal. Bahkan jika memungkinkan hilirisasi harus mulai kita lakukan sampai ke tingkat produk jadi,” kata Mahyeldi.

Agar bisa sampai ketahap tersebut, tentu tidak mudah. Menurut Mahyeldi itu memerlukan komitmen dan kolaborasi banyak pihak.

Sementara itu, Fungsional Diplomat Ahli Ma­dya Pusat Strategi Kebijakan Multilateral BSKLN – Kementerian Luar Negeri, Drs. Freddy M. Panggabean, M.A mengatakan u­paya menuju optimalisasi hilirisasi dan ekspor komoditas tentu tidak mudah, terlebih di tengah eskalasi perang dagang dan tren retaliasi dalam ekonomi global. Kendati demikian, tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. “Namun tidak ada yang tidak mungkin, jika seluruh kekuatan bisa bersinergi itulah tujuan dari diskusi ini,” ujar Freddy M. Panggabean.

Menurutnya, Selama 5 tahun terakhir, devisa dari ekspor minyak sawit ber­kisar antara US$ 22 M hingga US$ 39,07 M. Meskipun tren ekspor sawit tetap positif, namun produksi minyak sawit relatif stagnan sekitar 51,2 – 54,8 juta ton. Penurunan ekspor sawit perlu diantisipasi di tengah situasi global yang terus memanas. “Selain meningkatkan pendapatan daerah, potensi sawit Sumbar diharapkan juga dapat berkontribusi menjaga ran­tai pasok dan hilirisasi sawit nasional,” harapnya. Informasi mengenai potensi Sumbar saat ini, dikatakannya, sangat dibutuhkan Kemlu dan Perwakilan RI di Luar Negeri.

Baca Juga  Kejati Sumbar Sembelih Lima Sapi Kurban

Sebab, itulah yang nanti akan dipresentasikan, di­promosikan pihak Kemenlu kepada mitra luar ne­geri. “Kita berharap, Pemerintah Daerah dapat segera menyiapkan paket regulasi dan sistem yang tegas dan berpihak kepada kemudahan berusaha. Dengan demikian diharapkan minat para pelaku akan semakin mening­kat, ”pungkasnya.

Selain Gubernur Mah­yeldi dan Freddy M. Panggabean, tampak sejumlah tokoh nasional menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut. Diantaranya, Dir­jen Perbendaharaan Kementerian Keuangan, As­tera Primanto Bhakti; Kepala Kanwil DJPb, Syukriah HG; Direktur Kerjasama Intra Kawasan dan Antar Kawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri.

Selain itu juga ada, Di­rektur Perencanaan dan Pengelolaan Dana-BPDP, Kabul Wijayanto, Ketua Jurusan Hubungan Internasional Unand, Apriwan; Direktur Perdagangan, Pe­rindustrian, Komoditas dan Kekayaan Intelektual Kemenlu, Ditua Agung Nurdianto; Direktur Kerjasama dan Hilirisasi Riset Unand, Eng Muhammad Makky. (fan)