BUKITTINGGI, METRO–Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias, menyoroti persoalan pembayaran parkir yang masih menerapkan sistem manual di kawasan Pasa Ateh Bukittinggi.
Hal itu diungkap wako saat melakukan peninjauan Pasa Ateh bersama Wawako Bukititnggi Ibnu Asis, Senin (21/4). Dalam peninjauan tersebut, Ramlan mendapati sistem pembayaran parkir masih dijalankan secara manual.
Temuan ini memicu perhatian serius dari pemerintah kota, mengingat sistem manual dinilai rawan penyalahgunaan dan tidak transparan.
Ramlan mempertanyakan pengelolaan parkir di gedung yang dibangun menggunakan dana publik itu.
Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada pihak luar yang mengambil keuntungan dari fasilitas milik pemerintah tersebut.
“Saya ingatkan betul kepada kadis, namanya gedung yang dibangun oleh pemerintah tidak ada pihak lain yang memungut parkir di Pasa Ateh,” tegas Ramlan di hadapan sejumlah awak media dan pejabat yang turut mendampingi dalam kunjungan tersebut.
Ramlan bahkan mencurigai adanya praktik pungutan liar (pungli) yang terjadi di lokasi tersebut.
Kecurigaan itu diperkuat dengan masih digunakannya sistem pembayaran tunai yang membuka celah manipulasi pendapatan parkir.
“Itu Pungli namanya. Saya sudah bicara dengan pihak kepolisian. Ini barang dibangun oleh uang rakyat, tidak ada pihak-pihak macam-macam yang akan mengambil uang di sini. Uang itu masuk kas daerah semua,” katanya.
Pemerintah Kota Bukittinggi, lanjut Ramlan, tengah berupaya memperbarui sistem pembayaran parkir agar lebih modern dan transparan.
Ia menyebutkan bahwa pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Bank Nagari untuk mengmplementasikan sistem berbasis teknologi.
“Itu aturannya, dan kami juga sedang berbicara dengan Bank Nagari, nanti akan kita bikin teknologi baru supaya nanti semua yang berparkir itu bisa langsung tap dan nanti otomatis uangnya akan masuk,” ucap Ramlan.
Rencana penerapan sistem elektronik ini bertujuan untuk memastikan seluruh pendapatan dari sektor parkir langsung tercatat dalam kas daerah tanpa celah untuk penyalahgunaan.
Ramlan menekankan bahwa teknologi serupa sebelumnya pernah digunakan dan terbukti lebih efektif dalam mendongkrak pendapatan daerah.
“Teknologi kita kembalikan seperti yang dulu-dulu. Kira-kira dengan e-money. Tidak ada yang sistem manual dengan uang-uang seperti ini. Kalau manual ini bermasalah masalah,” lanjutnya.
Sebagai perbandingan, Ramlan mengungkapkan hasil pendapatan dari sektor pariwisata yang telah menerapkan sistem pembayaran elektronik.
Ia menyebut peningkatan signifikan terjadi setelah sistem manual digantikan oleh sistem digital.
“Contohnya, kita yang pariwisata berbayar, satu minggu saja kebun binatang, Benteng Fort de Kock, sama Panorama sudah bisa menghasilkan 3 miliar rupiah. Kalau tahun lalu (dengan sistem manual) hanya 1,8 miliar satu minggu. Ini buktinya ya,” sebutnya.
Terkait hasil temuan ini, Ramlan menginstruksikan kepada Dinas Perhubungan dan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bukittinggi untuk segera mengevaluasi pihak-pihak yang selama ini mengelola parkir di Gedung Pasa Ateh.
Ia menekankan pentingnya penertiban agar keuangan daerah tidak bocor akibat praktik ilegal. (brm)






