METRO PADANG

Andre Rosiade: Prabowo tak Rela ada Anak Indonesia Kelaparan

0
×

Andre Rosiade: Prabowo tak Rela ada Anak Indonesia Kelaparan

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, METRO–Anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra Andre Rosiade mengatakan, program makanan bergizi gratis (MBG) adalah program unggulan dari Presiden Pra­bowo Subianto. Sejak kampanye, bahkan sejak dalam masa per­juangan, Prabowo selalu menge­de­pankan pentingnya makan bergizi, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kurang gizi atau stunting.

“Pak Prabowo Subianto tidak rela ada anak di Indonesia yang kelaparan. Beliau adalah patriot sejati yang sekarang menjadi pemimpin Indonesia. In­sya Allah, bersama Pra­bowo, tidak akan ada anak-anak Indonesia lagi yang kelaparan. Mari kita semua saling mendukung program MBG ini,” kata Andre Rosiade yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI.

Andre mengatakan, mes­ki baru dilantik 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo sudah memastikan program MBG ini berjalan dengan baik di seluruh Indonesia. Perangkatnya juga terus dibangun secara berhatap untuk memastikan program paling unggulan ini berjalan dengan baik.

“Pak Prabowo memastikan, program ini dirancang untuk memastikan anak-anak, terutama yang kurang mampu, mendapatkan akses ke makanan sehat dan bergizi, sehingga berdampak positif pada kesehatan. Dengan memberikan akses makanan bergizi, program ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, yang dapat berdampak pada kemajuan bangsa di masa depan,” kata Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR RI.

Seperti diketahui, Pra­bowo Subianto merespons kritik yang masih bermunculan terhadap program MBG. Dia mempertanyakan alasan sejumlah pihak yang meragukan pelaksanaan salah satu program prioritas pemerintahannya tersebut.

“Kalau saya mau kasih makan ke anak yang lapar, what’s wrong with that (apa salahnya dengan itu)?” ujar Prabowo dalam wa­wancara bersama enam pemimpin redaksi media massa di Hambalang, Bo­gor, Jabar, Selasa (8/4).

Prabowo menjelaskan bahwa program makan ber­gizi gratis lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi nyata anak-anak di berbagai daerah. Dia lantas mengungkapkan pengalamannya saat turun lang­sung ke desa dan men­­jumpai anak berusia 10 tahun dengan tubuh seukuran anak lima tahun akibat stunting. “Saya kan tanya ke desa-desa, saya lihat ini anak umur 5 tahun? Di jawab enggak, dia 10 tahun. Ba­dan­nya (ukuran) 5 tahun, kecil. Stunting,” kata Prabowo.

“Stunting kita ini sekian puluh persen. What we do? Saya enggak teoritis, ya kan. Saya mau intervensi,” ujarnya lagi. Menurut Pra­bowo, masyarakat yang merasa tak memerlukan MBG atau sudah berkecukupan bisa memilih untuk tidak mengambil jatah makan.

Dengan demikian, alo­kasi jatah makanan bergizi bisa diberikan kepada yang lebih membutuhkan. “Yang sudah kaya, yang sudah lumayan, tidak mau makan enggak apa-apa. Jatah ma­kan­mu kasih ke yang (lebih membutuhkan),” kata Prabowo. (*)