PADANG, METRO–Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Keluarga Alumni Alumni SMPN 1 (Ikaspensa) Padang yang berlangsung Minggu (6/4) di Hotel Pangeran Beach Padang diwarnai kekisruhan. Sejumlah angkatan menyatakan penolakan hasil mubes yang menetapkan Laksamana Madya Edwin Latief SH, M.Han MH sebagai Ketua Ikaspensa Padang periode 2025-2030.
Ketua Angkatan 1992 Ikaspensa Padang, Budi Syahrial mengungkapkan, Mubes Alumni SMPN 1 Padang diwarnai aksi walk out (WO) Angkatan 1992 dan tujuh angkatan lainnya.
Dalam kronologisnya, Budi mengungkapkan, awalnya alumni menghadiri acara reuni lintas angkatan di dua lokasi. Yakni, di SMPN 1 Padang dan di Hotel Pangeran Beach Padang.
“Angkatan 1992 ikut berkontribusi pada kegiatan reuni di dua lokasi tersebut. Kami juga ikut merangkul angkatan lain menghadiri kegiatan reuni di dua lokasi berbeda tersebut. Semua demi kebersamaan alumni. Ternyata selain reuni, juga ada mubes saat reuni di Hotel Pangeran Beach Padang,” ungkap Budi didampingi Pengurus Angkatan 1992 Ikaspensa Padang, Selasa (8/4) di Padang.
Budi mengungkapkan, yang menjadi masalah sebelum mubes, seringnya terjadi pergantian tata tertib (tatib). “Seperti, awalnya delegasi diminta tiga orang. Di mana, delegasi memiliki tiga hak bicara dan satu hak suara. Ketika sudah datang dan mendaftar dengan baik, kemudian mendadak panitia hanya membolehkan delegasi itu hanya satu, yang memiliki satu hak bicara dan satu hak suara. Perubahan ini tanpa sosialisasi sebelumnya. Hal ini menimbulkan keributan di luar ruangan,” ungkap Mantan Anggota DPRD Kota Padang Periode 2019-2024 itu
Dengan perubahan jumlah delegasi ini menurut Budi, menimbulkan kecurigaan adanya pengkondisian. Bahkan ada juga yang sudah mendaftar menjadi delegasi dan membayar tanggal 3 April 2025 pukul 16.00 WIB, didiskualifikasi, karena mendaftar melewati batas akhir pendaftaran pukul 15.00 WIB.
“Padahal perubahan jadwal batas akhir mendaftar ini tidak ada pemberitahuan. Hal ini menimbulkan protes, karena mereka yang mendaftar itu membawa mandat. Tidak hanya angkatan 1992 saja yang mempertanyakan perubahan-perubahan ini, tetapi juga angkatan yang lain,” terangnya.
Budi juga mempertanyakan keputusan panitia yang seharusnya fasilitator lewat pimpinan sidang pendahulu, mengklaim empat suara untuk mereka dan formatur lima suara. Sementara mereka sudah ada delegasi angkatannya masing masing. “Hal ini pengkondisian sembilan suara kepada seseorang dan melanggar demokrasi yang jujur dan adil,” terangnya.
Bahkan, juga ditemukan delegasi Angkatan 1987 yang mengirimkan peserta mubes justru bukan Alumni SMPN 1 Padang, tetapi tamatan SMPN 8 Padang. “Ini juga akhirnya kami persoalkan diminta diganti dengan yang lulusan SMPN 1 Padang dari ruang sidang,” terangnya.
“Juga ada tindakan diskriminatif dan diskualifikasi terhadap calon ketua umum lain yang dilakukan, sehingga terlihat hanya pengkondisian kepada aklamasi ke satu calon ketua umum saja. Kalau sudah begitu untuk apa diadakan mubes,” tegasnya.
Budi juga mengungkapkan, yang paling mengecewakan dari mubes tersebut, ada tindakan Sekretaris Panitia Reuni dan Mubes Ikaspensa Padang Roza dari Angkatan 1989 melalui pesan yang disampaikan lewat WhatsApp (WA) melakukan dugaan tindakan pelecehan terhadap angkatan lain dengan menyatakan angkatan lain hanyalah tim sorak semata.
Karena kondisi mubes yang carut marut, awalnya ada empat angkatan langsung WO. Yaitu Angkatan 1989 diwakili Adib Al Fikri, Angkatan 1991 diwakili Khalid Nizar, Angkatan 1992 diwakili Budi Syahrial dan Angkatan 1983. Kemudian menyusul dua angkatan lagi. “Bahkan informasi terakhir sudah ada delapan angkatan yang mengirimkan surat menyatakan menolak hasil mubes. Ini akan terus bertambah nantinya,” terang Budi.
Budi menyatakan, setelah adanya keputusan penolakan mubes ini, kemudian alumni lintas angkatan yang menolak mubes tersebut menggelar rapat darurat di SMPN 1 Padang. Rapat darurat yang dihadiri 12 angkatan alumni tersebut, memutuskan membentuk Lintas Angkatan Peduli Spensa Padang.
“Kami memandatkan ke mereka yang tergabung Lintas Angkatan Peduli Ikaspensa Padang ini mengumpulkan yang menolak mubes dan memutuskan beberapa hal yang perlu dilakukan. Hasilnya nanti sampai kepada keputusan menggelar mubes yang representatif dan legitimate nanti. Yang penting demokrasi berjalan dengan kekeluargaan,” tegasnya.
Budi menegaskan, penolakan yang dilakukan Angkatan 1992 Ikaspensa Padang ini bukan menolak ataupun berpihak terhadap calon manapun. Bahkan dari Angkatan 1992 tidak ada yang maju menjadi Calon Ketua Umum Ikaspensa Padang.
“Bagi kami, siapapun yang terpilih apapun latar belakangnya akan didukung, selama proses pemilihannya benar-benar demokratis sesuai semangat demokrasi Bung Hatta Proklamator RI yang juga lulusan SMP N 1 Padang pada zaman Belanda disebut MULO,” harapnya.
Sebelumnya diberitakan, Laksamana Madya Edwin Latief SH, M.Han MH., terpilih sebagai Ketua Umum Ikaspensa Padang periode 2025-2030 dalam mubes tersebut. Edwin Latief yang juga Wakil Gubernur (Wagub) Lemhannas RI tersebut, Alumni SMP 1 Padang Angkatan 1985.
Salah seorang Pimpinan Sidang Mubes Meitofano didampingi Ketua Tim Formatur Thamrin Aslir mengatakan, Laksamana Madya Edwin Latief SH, M.Han MH terpilih menggantikan Ketua Ikaspensa sebelumnya Hardizon Bahar (periode 2011 – 2025).(fan)






