BERITA UTAMA

Rayakan Idhul Fitri Secara Syar’i

0
×

Rayakan Idhul Fitri Secara Syar’i

Sebarkan artikel ini
Bagindo Yohanes Wempi (Ketua PII Kota Padang)

OLEH: Bagindo Yohanes Wempi (Ketua PII Kota Padang)

KITA ingat ceramah Almarhum KH Zainudin MZ yang mengatakan semua orang boleh lebaran, yang puasa boleh lebaran, yang ungkang-ungkang gak puasa juga boleh le­baran, bahkan yang bukan non muslim pun boleh lebaran, itulah dinamakan budaya ke­biasaan.

Jadi bisa disim­pul­kan budaya lebaran menurut penulis adalah perayaan kemeriahan hedonis setelah puasa Ramadan. Perayaan lebih secara fisik dan sosial dari turun te­murun di Ranah Minang seperti dengan mudik, bermaaf-maafan, hi­bu­ran, berpakaian baru dan tradisi lainnya.

Nah, dengan kondisi Indonesia atau Minangkabau yang saat ini sedang dalam kondisi ekonomi gelap maka perlu lebaran tersebut dilakukan efesiensi atau disederhana perayaanya, mari kembali ke kaedah lebaran yang sesuai dengan tuntunan Agama Islam atau budaya Idhul Fitri sesuai Syar’i.

Lebaran atau dalam bahasa Indonesianya adalah Hari Raya, hari yang ditunggu-tunggu oleh setiap umat Muslim yang ada di seluruh negara. Dari berbagai hari raya besar yang ada di dalam kalender Hijriah, hari raya idul fitri dan idul adha adalah hari yang paling dinanti oleh setiap umat Muslim.

Di sini kita akan mengulas tradisi yang harus disederhana atau jangan berlebihan-lebihan yang membuat beban ekonomi semakin berat. Saatnya peringatan hari raya atau lebaran itu perlu dilakukan kontruksi ulang yang se­suai dengan adab dan pe­lak­sanaan secara agama Islam, tidak berlebih-lebi­han yang menyebabkan secara pesta tidak memis­kinkan orang secara eko­nomi atau material.

Hari raya Idhul Fitri itu sangat sederhana prosesi yang dilakukan dan sudah ada adabnya misal men­jelang hari raya Idul Fitri, umat Islam dianjurkan menghidupkan suasana di malam hari sebelumnya. Artinya umat Islam tidak sebaiknya tidur awal, te­tapi menyibukkan diri ter-­lebih dahulu dengan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan pelaksanaan Shalat Id di pagi harinya.

Sebelum Shalat Id di­sunahkan mandi di pagi hari dengan mengguyur selu­ruh tubuh dan anggota ba­dan, yakni dari rambut di kepala hingga telapak kaki dengan air. Adapun bacaan niatnya sebagai beri­kut:”Aku niat mandi untuk merayakan Idul Adha/Idul Fitri sebagai sunah karena Allah Taála”.

Setelah berpakaian ber­sih dan suci, jangan pakaian baru yang dipakai karena baju baru tersebut belum tentu suci dan ber­sih disaat pembuatan, pen­jualan dan penyimpanan sebelum Kita membelinya, baiknya baju baru itu dicuci terlebih dahulu agar diya­kini ini bersih dan suci.

Sesampai di tempat ibadah, semua melaksana­kan shalat Idhul Fitri berja­maah, serta dianjurkan dilapangan, disini Kita me­laksanakan sholat dengan tingkat kekhusyukan iba­dah harus prima karena pahalanya besar.

Setelah itu, selama da­lam perjalanan pulang me­nuju rumah hendaknya kita bertegur sapa dengan ra­mah. Hal ini pertanda se­bagai kegembiraan umat Islam di hari raya sekaligus untuk menghindari gun­jingan, misalnya karena dianggap bersikap som­bong dan sebagainya. Se­sampai di rumah saling maaf memaafkan dan diu­sahakan dilakukan silatu­rahmi ketempat saudara untuk mengokohkan uku­wah islamiah dan kebersa­maan pasca-Shalat Idhul Fitri tersebut.

Dari uraian pelaksa­naan Hari Raya Idhul Fitri tidak ada tradisi membo­ros­kan material secara eko­nomi, tidak ada uang keluar, semua proses sa­ngat efe­sien sekali, tampa adanya dengan proses lebaran ini ummat akan miskin dalam situasi peme­rintah sedang melakukan efesiensi atau mengurangi anggaran yang tidak ber­guna.

Himbawan mari Kita lakukan efesiensi lebaran secara ketat namun laku­kanlah peringatan Idhul Fitri sesuai dengan ajaran agama Islam yang tidak membebani umat. (*)