OLEH: Rusmatul Amri, S.Pd, M.Pd (Kepala MIN 6 Kota Padang)
RAMADHAN mengajarkan akhlak yang mulia. Pada bulan yang mulia tersebut kita diajarkan tidak melakukan perbuatan tercela seperti dusta dan banyak mencela. Saat puasa, kita diwajibkan meninggalkan dusta, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang artinya : “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta bahkan malah melontarkannya, Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus yang ditahannya.” ( HR. Bukhari, no. 1903 )
Lihatlah akibat dusta ketika berpuasa, orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa. Akhlak buruk yang juga wajib ditinggalkan adalah suka mencela atau menghina orang lain. Lihatlah ancamannya dalam ayat yang artinya: “ Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela “. ( QS. Al- Humazah:1 )
Kata Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah mencela dan menjelekan . Adapun “ wail “ dalam ayat diatas bisa berarti ancaman celaka atau bisa berarti nama lembah dineraka. Ini menunjukkan bahaya bagi orang yang banyak mencela saat berpuasa. Termasuk bentuk mencela adalah mencela saudaranya yang telah bertaubat dari dosa.
Dari Mu’adz bin jabal: ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda yang artinya “ siapa saja yang menjelek jelekan saudaranya karena suatu dosa, maka sebelum ia mati pasti ia akan melakukan dosa yang sama. “ ( HR. Tirmidzi, No 2505. ) walaupun hadist ini sebagian ulama mengatakan sebagai hadist maudhu’ akan tetapi bisa dijadikan sebagai motivasi dalam menjalankan agama. Imam Ahmad juga menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa yang telah ditaubati.
Hadist di atas bukan bermaksud terlarangnya mengingkari kemungkaran. Akan tetapi, Ta’yir ( menjelek jelekan ) yang disebutkan dalam hadist diatas berbeda dengan mengingkari kemungkaran. “Menjelek-jelekan” mengandung kesombongan ( meremehkan orang lain ) dan merasa diri telah bersih dari dosa. Adapun mengingkari kemungkaran dilakukan lillahi. Ikhlas karena Allah SWT. Bukan karena kesombongan.
Intinya secara umum, puasa mengajarkan akhlak yang mulia. Jangan sampai puasa kita sia-sia karena sikap atau tingkah laku kita yang jelek kepada orang lain. Hikmah Ramadhan juga mengajarkan kepada kita untuk bersikap lemah lembut dan tidak lekas marah jika ada orang yang mengagngu kita.
Dari Abu Hurairah: Nabi Bersabda yang artinya: “ Jika salah seorang diantara kalian sedang berpuasa, janganlah berkata kata kotor dan bertindak bodoh. Jika ada orang yang mencelanya atau menganggunya, hendaklah dia mengucapkan, “ sesungguhnya aku sedang berpuasa “ ( HR. Bukhari, no 1904 dan muslim, no 1151 )
Imam Nawawi mengatakan “termasuk perkara yang dianjurkan adalah jika seseorang dicela oleh orang lain atau diajak berkelahi ketika dia sedang berpuasa. Maka hendak dia berkata “saya sedang berpuasa, aku sedang berpuasa ) sebanyak dua kali atau lebih”. ( Al- Adzkar, hlm. 365 )
Penjelasan hadist di atas menunjukan bahwa puasa ramadhan mengajarkan setiap muslim untuk bersikap lembut. Sungguh, ini benar benar akhlak yang luhur. Lemah lembut adalah akhlak para nabi, prilaku orang yang terterhormat dan mulia.
Bahkan dengan kelembutan, seseorang akan semakin mulia. Ketika Urwah bin Zubair dicela, ia cukup berkata: Aku membiarkanmu hanya untuk membuat diriku lebih mulia.
Sahabat yang mulia, Ibnu Abbas RA mengatakan, “ Allah memerintahkan orang yang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuatnya marah, membalas dengan kebaikan jika ada orang yang berbuat jahil, dan memaafkan ketika ada buat jelek.
Jia setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh musuhnya. Bahkan, yang semula bermusuhan bisa berbalik menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik ini. Semoga dengan akhlak mulia, timbangan amal kebaikan kita akan semakin berat pada hari kiamat kelak. (*)






