BERITA UTAMA

Catatan LSI Denny JA untuk Prabowo, Bisa Jadi Bapak Pemberantasan Korupsi Indonesia

0
×

Catatan LSI Denny JA untuk Prabowo, Bisa Jadi Bapak Pemberantasan Korupsi Indonesia

Sebarkan artikel ini
Prabowo Subianto politik
Presiden RI, Prabowo Subianto

JAKARTA, METRO–LSI Denny JA memberikan catatan ke­pada Presiden Prabowo Subianto agar dike­nang sebagai Bapak Pemberantasan Ko­rupsi Indonesia. Menurut dia, Presiden Pra­bowo berulang kali berjanji akan menge­jar koruptor hingga ke Antartika hingga membangun penjara di pulau terpencil.

Tentunya, Denny JA mengatakan publik akan menunggu langkah nyata Presiden Prabowo untuk menjalankan komitmennya itu dalam menindak tegas para koruptor. Adapun, Denny JA menyebut ada beberapa catatan yang ha­rus dilakukan Presiden Pra­bowo untuk mewu­jud­kan komitmennya tersebut.

Pertama, kata dia, me­revisi Undang-undangn agar hukuman koruptor lebih berat yakni minimal 20 tahun penjara tanpa remisi hingga penjara seu­mur hidup. Kedua, menyita se­luruh aset hasil korupsi, mengembalikannya kepa­da rakyat melalui disah­kan­nya UU Perampasan Aset.

Ketiga, membangun sis­tem digitalisasi penuh dalam birokrasi, menutup celah suap dan permainan proyek. Keempat, memulai dengan kasus korupsi yang kini sedang nampak di de­pan mata seperti Perta­mina. Tentu saja, kata dia, mafia minyak harus dibe­rantas hingga ke akarnya, termasuk politik oligarki yang selama ini ikut me­nerima keuntungan dan melindungi mereka.

“Korupsi bukan seka­dar kejahatan finansial, ia mencuri masa depan bang­sa. Jika Prabowo ingin dike­nang sebagai presiden yang membawa Indonesia melompat ke negara maju, maka Prabowo disyaratkan juga menjadi Bapak Pem­berantas Korupsi Indonesia,” kata Denny JA di Ja­karta pada Senin (17/3).

Denny JA mengatakan ada beberapa hal yang menghambat Indonesia, sehingga ada sejumlah catatan utama yang harus diperbaiki dalam indeks tata kelola pemerintahan. Menurut dia, Prabowo akan berhasil membawa Indonesia menjadi negara maju jika dalam 5 tahun ini (2025-2029) dapat menjadi Bapak Pemberantas Korupsi Indonesia, dan menaikkan indeks tata kelola peme­rintahan (GGI) dari 53,17 ke 70,00.

Baca Juga  Kabar Gembira dan Membanggakan, Bahasa Indonesia jadi Bahasa Resmi Sidang Umum UNESCO

Pertama, korupsi me­rupakan luka yang tak kun­jung sembuh. Sebab, kata dia, korupsi bukan sekedar kejahatan finansial tapi penyakit kronis yang meru­sak moral birokrasi dan perekonomian. Saat ini, Indeks Persepsi Korupsi (CPI) Indonesia hanya 34, tertinggal dari Singapura (83), Jepang (73), dan Korea Selatan (63).

“Dari kasus mafia mi­gas di Pertamina, suap dalam proyek infras­truk­tur, hingga skandal impor, korupsi telah merugikan negara triliunan rupiah setiap tahun. Jika masalah ini tidak ditangani dengan serius, Indonesia akan te­rus kehilangan keperca­yaan investor, pertum­buhan ekonomi akan ter­sen­dat, dan kesejahteraan rakyat akan tergadaikan,” jelas dia.

Kedua, efektivitas pe­me­rintahan antara kebija­kan dan realita. Saat ini, kata dia, efektivitas Peme­rintahan Indonesia hanya 0,58, jauh tertinggal dari Singapura (2,32), Jepang (1,63), dan Korea Selatan (1,4). Kata dia, banyak kebi­jakan pemerintah yang disusun dengan baik di atas kertas, tetapi gagal diim­ple­mentasikan karena bi­rok­r­asi yang tidak efisien, regulasi yang berbelit, ser­ta minimnya akuntabilitas.

“Tanpa reformasi da­lam efektivitas birokrasi, pembangunan akan selalu tertinggal dari rencana. Rakyat yang seharusnya mendapatkan manfaat akan terus terjebak dalam sistem yang berbelit-belit,” kata­nya lagi. Ketiga, Demok­rasi sebagai pilar trans­paransi dan akuntabilitas. Meskipun demokrasi di Indonesia telah berkembang sejak era Reformasi, lanjut dia, masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Saat ini, Indeks Demokrasi Indonesia berada di angka 6,53, lebih rendah diban­ding Korea Selatan (8,4) dan Jepang (8,09).

Baca Juga  Wujudkan Kota Padang Lebih Bersih dan Sehat PT KAI Divre II, Sumbar Serahkan Bantuan 2 Unit Container Sampah

Sistem demokrasi yang sehat seharusnya mencip­takan kontrol atas kekua­saan, keseimbangan anta­ra eksekutif dan legislatif, serta kebebasan pers dan civil society yang kuat. Namun, kata Denny JA, tantangan yang masih di­ha­dapi adalah politik uang masih mengakar dalam pemilihan umum, minim­nya transparansi dalam pengambilan kebijakan, dan politik tanpa oposisi yang berimbang.

“Jika demokrasi hanya sekadar prosedural tanpa transparansi dan akun­tabilitas, maka kekuasaan akan terus berputar di ta­ngan oligarki, tanpa mem­berikan dampak nyata bagi rakyat,” ujarnya lagi.

Keempat, pembangu­nan manusia dengan men­sejahterakan rakyat. Ne­gara yang kuat tidak hanya dinilai dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga da­ri seberapa baik ia mem­bangun kualitas hidup war­ganya. Saat ini, indeks pem­bangunan manusia (HDI) indonesia hanya 0,713, ter­tinggal jauh dari Singapura (0,949), Korea Selatan (0,929), dan Jepang (0,920).

Kata dia, ketimpangan dalam akses pendidikan dan layanan kesehatan masih menjadi masalah serius, di mana anggaran pendidikan masih belum mampu mengejar kualitas negara-negara Asia yang maju.

“Jaminan kesehatan be­lum merata untuk se­mua warga. Disparitas eko­­nomi antara kota dan desa masih sangat besar. Jika pembangunan man­u­sia tidak menjadi prioritas, pertumbuhan ekonomi ha­nya akan dinikmati oleh segelintir elit, sementara mayoritas rakyat tetap ter­tinggal,” kata Denny JA. (*)