BERITA UTAMA

Ramadhan sebagai Refleksi Diri, Menemukan Makna di Bulan Suci

0
×

Ramadhan sebagai Refleksi Diri, Menemukan Makna di Bulan Suci

Sebarkan artikel ini
Drs. H. Muhidi, MM (Ketua DPRD Sumbar)

OLEH: Drs. H. Muhidi, MM (Ketua DPRD Sumbar)

BULAN RAMA­DHAN bukan sekadar ritual tahunan bagi umat Islam, tetapi ju­ga momentum ber­harga untuk mela­ku­kan refleksi diri. Da­lam hiruk-pikuk kehi­dupan, sering kali kita larut dalam rutinitas tanpa sempat mere­nungkan hakikat kebe­radaan kita di dunia.

Ramadhan hadir sebagai pengingat bah­wa hidup bukan sekadar mengejar materi, tetapi juga membangun spiritualitas dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqa­rah: 183).

Ayat ini menegaskan bahwa esensi utama dari puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, te­tapi juga membangun ketakwaan. Ketakwaan ini terwujud dalam bentuk pengendalian diri, kejujuran, kesabaran, serta ke­pe­dulian terhadap mereka yang kurang beruntung. Dengan menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan pada hari biasa, kita belajar untuk lebih menghargai nikmat dan lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Ramadhan juga menjadi saat yang tepat untuk mengevaluasi diri. Sejauh mana kita telah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya? Apakah kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya?

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bu­khari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri, memohon ampunan, dan kembali ke jalan yang benar.

Lebih dari sekadar me­nahan diri dari makan dan minum, Ramadhan mengajarkan pentingnya me­na­han amarah, mengendalikan hawa nafsu, serta memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Ketika seseorang mampu menginternalisasi nilai-ni­lai ini dalam keseharian, maka ia tidak hanya menjadikan Ramadhan sebagai momen sesaat, tetapi juga sebagai titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Pada akhirnya, Rama­dhan adalah waktu terbaik untuk kembali kepada Allah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta menata ulang prioritas hidup. Jika refleksi yang kita lakukan selama Ramadhan mampu mengantarkan kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih sabar, dan lebih peduli terhadap sesama, maka kita telah meraih kemenangan sejati di bulan penuh berkah ini. (*)