METRO SUMBAR

Bung Hatta, ” Sebuah Persahabatan yang Mengundang Kontroversi”

1
×

Bung Hatta, ” Sebuah Persahabatan yang Mengundang Kontroversi”

Sebarkan artikel ini
Bung Hatta

Penulis: Seri Wahyuni (Mahasiswa PGSD FKIP Univ Bung Hatta) Dosen: Heri Effendi S.Pdi M.Pd

Bung Hatta, salah seorang  tokoh proklamator Kemerdekaan Indonesia, memiliki sejarah yang kompleks dan menarik. Salah satu aspek yang sering dibicarakan adalah hubungannya dengan

Tan Malaka, seorang komunis yang terkenal.  Hubungan ini seringkali dianggap kontroversial, karena Bung Hatta sendiri tidak pernah secara terbuka menyatakan dirinya sebagai komunis.

Namun, jika kita melihat lebih dekat, hubungan Bung Hatta dengan Tan Malaka sebenarnya lebih kompleks daripada sekadar label komunis. Keduanya bertemu pada tahun 1920-an, ketika

Bung Hatta masih berada di Belanda untuk melanjutkan pendidikannya.

Tan Malaka, yang saat itu sudah menjadi tokoh komunis yang terkenal, menjadi salah satu mentor Bung Hatta dalam hal politik dan ideologi. Bung Hatta sendiri pernah menyatakan bahwa ia sangat ter­pengaruh oleh pemikiran Tan Malaka tentang komunisme dan perjuangan kemerdekaan.

Namun, ia juga menyatakan bahwa ia tidak pernah menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tidak pernah secara terbuka menyatakan dirinya sebagai komunis. Inilah beberapa bukti-bukti hubu­ngan Bung Hatta dengan Tan Malaka:  1. Surat-surat Bung Hatta Bung Hatta pernah menulis surat kepada Tan Malaka pada tahun 1920-an, dimana ia menyatakan bahwa ia sangat terpengaruh oleh pemikiran Tan Malaka tentang komunisme dan perjuangan kemer­dekaan. 2. Buku “Indonesia Vrij . Bung Hatta pernah menulis buku “Indonesia Vrij” pada tahun 1928, dimana ia menyatakan bahwa ia ingin membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat, sesuai dengan pemikiran Tan Malaka. Bung Hatta dan Tan Malaka pernah berjuang bersama-sama untuk kemerdekaan Indonesia, meskipun dengan cara yang berbeda. Bung Hatta lebih fokus pada perjuangan diplomatik.

Sedangkan Tan Malaka lebih fokus pada per­juangan revolusioner. Bahkan mereka juga sama-sama memiliki pemikiran tentang demokrasi, mes­kipun dengan interpretasi yang berbeda. Bung Hatta lebih fokus pada demokrasi parlementer, sedangkan Tan Malaka fokus pada demokrasi rakyat. Hubungan Bung Hatta dengan Tan Malaka merupakan contoh dari kompleksitas sejarah dan ideologi. Walaupun keduanya memiliki perbedaan dalam hal ideologi dan cara perjuangan, namun mereka sama-sama memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun Indonesia yang merdeka dan berdaulat. (***)