METRO SUMBAR

”Hatta Tidak Mudah Tergoda Harta, Bung… ”

1
×

”Hatta Tidak Mudah Tergoda Harta, Bung… ”

Sebarkan artikel ini
Bung Hatta

Oleh: Sahara (Mahasiswa PGSD Univ Bunghatta) Dosen: Heri Effendi, S.Pd.i.,M.Pd

Bung Hatta dikenal sebagai salah satu to­koh proklamator yang memiliki kejujuran dan integritas tinggi. Beliau tidak pernah mengam­bil apa yang bukan

haknya, bahkan saat mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Papua sebagai pejabat negara.

Kisah ini terjadi pa­da tahun 1970, saat Bung Hatta sudah tidak lagi menjabat sebagai wakil presiden. Beliau men­dapat undangan untuk mengunjungi Papua yang saat itu masih bernama Irian.

Kunjungan ini di­anggap penting karena Bung Hatta belum pernah menginjakkan kaki di tanah Papua setelah kemer­dekaan Indonesia.

Padahal, dulu di zaman penjajahan Belanda, Bun Hatta pernah dibuang ke Tanah Merah, Boven Digul.

Bung Hatta awalnya menolak undangan tersebut karena khawatir biaya perjalanan yang besar.Namun setelah diyakinkan bahwa semua ongkos akan ditanggung pemerintah, Bung Hatta pun bersedia untuk terbang ke Papua. Beliau juga akan melakukan kunjungan dengan kapasitas sebagai pejabat negara.

Singkat cerita, rombongan Bung Hatta tiba di Jayapura setelah transit di Ujung Pandang. Di sana, seorang pejabat di Departemen

Penerangan bernama Soemarmo menghampiri Bung Hatta sambil membawa amplop. “Surat apa

ini?” tanya Bung Hatta spontan saat melihat amplop itu. “Bukan surat Bung. Uang. Uang saku untuk Bung

Hatta selama perjalanan di sini,” jawab Soemarmo. “Uang apa lagi? Bukankah semua ongkos perjalanan saya sudah ditanggung pemerintah?

Dapat mengunjungi daerah Irian ini saja saya sudah bersyukur. Saya benar-benar tidak mengerti, uang apa lagi ini?” balas Bung Hatta.

“Uang ini pun dari pemerintah, termasuk dalam biaya perjalanan Bung Hatta dan rombongan ini,” Soemarmo mencoba meyakinkan Bung Hatta.Tidak, itu uang rakyat. Saya tidak mau terima, kembalikan,” kata Bung Hatta tegas.

Soemarmo menjelaskan panjang lebar bahwa kunjungan pejabat ke daerah memang selalu termasuk uang saku. Uang tersebut sah karena sudah dianggarkan dalam APBN. Namun Bung Hatta tetap pada pendiriannya. “Maaf saudara, saya tetap tidak mau menerima uang itu. Sekali lagi saya tegaskan, bagaimana

pun uang itu harus dikembalikan pada rakyat,” kata Bung Hatta. Soemarmo menyadari bahwa percuma berdebat dengan Bung Hatta soal prinsip tersebut. Tak ada gunanya memaksa Bung Hatta. Dia pun kemudian menyimpan kembali amplop itu. (***)