LIMAPULUH KOTA, METRO–Bertahun tahun masyarakat harus menikmati jalan rusak di ruas Payakumbuh-Lintau. Parah, itulah ucapan dari pengguna jalan yang lewat. Laju kendaraan beringsut, akibat lubang yang dalam. Semua badan jalan berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan. Lengah sedikit nyawa bisa melayang.
Kondisi jalan milik Provinsi itu rusak makin mengkhawatirkan saat musim hujan, sebab selain terdapat genangan air di ratusan titik jalan berlobang, juga kerap terjadi kecelakaan karena pengendara kerap terperosok masuk kedalam jalan berlobang. Mobil bermuatan terbalik, pengguna motor jatuh, nampaknya sudah menjadi pemandangan biasa.
Antisipasi dampak yang lebih besar dari jalan rusak itu, masyarakat berharap perbaikan bisa segera dilakukan Pemerintah Provinsi maupun pihak lainnya pada tahun ini. Hal tersebut diungkapkan masyarakat Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota.
“Kami masyarakat Kecamatan Lareh Sago Halaban, sangat prihatin dengan kondisi jalan Payakumbuh-Lintau, karena kondisi jalan sangat parah, apalagi pengguna jalan sangat ramai. Dampaknya tidak saja terhadap kesehatan karena debu, juga dampak kecelakaan akibat jalan rusak itu,” ucap Yuswardi, baru-baru ini.
Lebih jauh ia berharap agar perbaikan bisa segera dilakukan oleh Pemerintah Provinsi maupun pihak terkait, sehingga tidak ada lagi korban kecelakaan akibat jalan rusak. “Kedepannya tentu kita berharap perbaikan bisa segera dilakukan pada tahun ini oleh Pemerintah Provinsi maupun pihak terkait,” ulasnya.
Hal senada juga disampaikan pengguna jalan lainnya, Rama, ikut sedih melihat kondisi jalan Payakumbuh-Lintau yang benar-benar rusak parah. Bahkan sudah ada yang ambruk dan hanya bisa dilalui satu kendaraan, karena polongan pecah. “Memang kita berharap sekali jalan lintas Payakumbuh-Lintau ini jadi prioritas bagi pemerintah untuk diperbaiki. Karena saat melintasi jalan rusak itu, butuh waktu lama, yang biasanya bisa ditempuh hitungan menit,” harapnya.
Sebelumnya berbagai aksi dilakukan masyarakat di Jalan itu sebagai bentuk protes karena jalan utama tersebut tak kunjung diperbaiki, diantaranya menanam pohon pisang, memancing di genangan air atau jalan berlobang serta memasang spanduk yang bertuliskan sendiran kepada Pemerintah.
Tidak itu saja, upaya perbaikan juga dilakukan secara swadaya, bahkan mantan Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi juga pernah melakukan perbaikan, namun karena jalan kerap dilalui kendaraan besar pengangkut hasil tambang dengan muatan melebihi kapasitas, sehingga jalan kembali hancur. (uus)






