METRO PADANG

Suara Prabowo-Sandi Ditargetkan 80 Persen

0
×

Suara Prabowo-Sandi Ditargetkan 80 Persen

Sebarkan artikel ini

PADANG, METRO – Sumbar sebagai salah satu lumbung suara menjadi medan pertarungan sengit kubu pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Sebab itu, tak heran jika para calon dan tim sukses bergerak masif ke Ranah Minang untuk mendongkrak perolehan suara.
”Semua partai koalisi memiliki target minimal 80 persen suara untuk Prabowo-Sandi,” ujar Sekretaris Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Gerindra Sumbar, Desrio Putra, kemarin.
Desrio mengatakan, partai pengusung sepakat berjuang sekuat tenaga dalam memenangkan Prabowo-Sandi di Sumbar dengan melibatkan semua kader partai dan semua caleg, dari provinsi hingga kabupaten dan kota. Karena, tim pemenang tidak hanya diisi kader partai, tapi juga tokoh-tokoh masyarakat Sumbar.
“Semua partai pengusung harus bergerak, dan berjuang mati-matian. Kita gerakkan semua untuk kemenangan 02,” ucap Desrio.
Sebagai gambaran, pada Pilpres 2014 silam, pasangan Prabowo-Hatta unggul di Sumbar dengan perolehan suara 76,9 persen atau 1.797.505 suara. Sedangkan Jokowi-Jusuf Kalla hanya meraih 539.308 suara atau 23,1 persen.
Untuk terus mendongkrak suara pemilih di Sumbar, Desrio membeberkan, Prabowo Subianto dijadwalkan akan melaksanakan kampanye akbar pada 2 April nanti. Lokasi kampanye di Kota Padang (Danau Cimpago) dan Bukitinggi. Dia memprediksi kampanye tersebut akan dibanjiri pendukungnya.
”Semula jadwalnya pada 9-10 April, namun dipercepat jadi tanggal 2 April dengan dua lokasi di Bukitinggi pagi harinya dan di Danau Cimpago Padang pada siang jarinya. Kita optimis menang, karena Sumbar merupakan basis pendukung Prabowo-Sandi,” kata Desrio.
Sementara, Ketua Forum Relawan Komunikasi Pemenangan Jokowi (RKPJ) 2019, Mayjen (purn) Hartind Astrin menargetkan, pasangan Jokowi-Ma’ruf mendapatkan 35 persen suara dalam pemilu presiden 17 April 2019 di Sumbar. Pada Pilpres 2014, Jokowi kalah dari Prabowo. “Jumlah tersebut cukup logis karena pada Pemilu 2014 capaian suara Jokowi paling rendah se-Indonesia dan kami terus berupaya mendongrak dalam masa kampanye ini,” kata Hartind.
Menurut Hartind, Sumbar merupakan wilayah paling difokuskan Jokowi karena pencapaian suara pada 2014 hanya sekitar 23 persen. Sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi mereka. Dia mengatakan, dalam memenangkan Jokowi di Sumbar dirinya menggunakan dua strategi.
Pertama sebutnya, strategi statis dengan cara menyebarkan pamflet, atribut kampanye kepada masyarakat. Kedua, ada juga strategi dinamis dengan melakukan pelatihan, pembekalan, ceramah kepada masyarakat.
“Kegiatan itu bertujuan untuk mengetuk hati masyarakat semakin yakin memberi kesempatan Jokowi melanjutkan pemerintahannya,” ujar Hartind.
Dalam melakukan pemenangan ini, pihaknya melakukan pemetaan dengan membagi enam rayon pemenangan. Untuk rayon pertama di Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat dan Agam, rayon kedua, Payakumbuh dan Limapuluh Kota. Selanjutnya, wilayah tiga, Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai dan Padangpariaman.
Wilayah keempat sebutnya, meliputi Bukittinggi dan Padangpanjang, setelah itu Kota Solok, Solok Selatan dan Kabupaten Solok. Wilayah keenam yakni Dharmasraya, Sijunjung, dan Sawahlunto.
“Di setiap wilayah itu nantinya kita akan melakukan deklarasi dengan mengerahkan massa dalam jumlah besar untuk menyatakan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf Amin,” tutup Hartind.
Selanjutnya, Pengamat Politik dari Unand, Asrinaldi menilai, potensi kenaikan suara Jokowi di Sumbar 2019 sangat terbuka. Menurut dia, rentetan kunjungan Jokowi ke Sumbar justru akan berdampak positif untuk mendongrak anjloknya perolehan suara Jokowi empat tahun silam.
“Masyarakat Sumbar tentu punya pertimbangan dalam memilih Presiden dan Wapres. Memang, tahun 2014 lalu, Jokowi mendapat dukungan rendah. Tapi, perhatian Jokowi akhir-akhir ini pada masyarakat Sumbar akan mempengaruhi pilihan masyarakat,” terang Asrinaldi.
Apalagi, pelaksaan Pilpres 2019 jauh berbeda dengan 2014 lalu. Yakni, dilakukan serentak dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) pusat hingga daerah. Kondisi ini menuntut tim pemenangan bekerja ekstra. Sebab, selain untuk memenangkan Capres dan Cawapres yang diusung, politisi parpol juga berjuang mendapatkan kursi di parlemen. (mil)