METRO SUMBAR

Sesalkan Pemberedelan Lukisan Yos Suprapto, Usman Hamid: Hanya Terjadi di Negara Otoriter

0
×

Sesalkan Pemberedelan Lukisan Yos Suprapto, Usman Hamid: Hanya Terjadi di Negara Otoriter

Sebarkan artikel ini
Aktivis HAM sekaligus Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid.

JAKARTA, METRO–Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid menyesalkan peristiwa pemberedelan pameran lukisan karya Yos Suprapto bertajuk ‘Kebangkitan Tanah Untuk Kedaulatan Pangan’ yang sedianya digelar pada Kamis (19/12).

Usman menegaskan, setiap orang di semua ne­gara, wajib dilindungi haknya untuk mencari informasi, menyebar informasi, dan gagasan-gagasannya lewat berbagai medium, baik secara visual, verbal atau medium lainnya, termasuk karya seni.

“Khusus untuk karya seni, di dalam literatur hak asasi manusia itu disebut kebebasan artistik, kebebasan berkesenian. Karena dia kebebasan artistik, ma­ka dia sebenarnya jauh dari ranah yang dibayangkan bagai alasan-alasan pembredelan,” kata Usman dalam diskusi bertajuk ‘Seni Sebagai Medium Kritik Ke­kuasaan’ yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (22/12).

Aktivis hak asasi manusia (HAM) itu menyebut, pada umumnya di dunia, pemberedelan karya seni sebagai ekspresi artistik terjadi di negara-negara totaliter, setidak-tidaknya di negara otoriter.

“Ada tiga penyebab biasanya kenapa lukisan misalnya disensor di negara-negara otoriter. Yang pertama, itu karena mengganggu stabilitas politik. Yang kedua, karena mengganggu norma agama. Dan yang ketiga, karena mengganggu norma sosial,” ujarnya.

Dalam banyak kasus, seperti di Indonesia pada masa Orde Baru, Usman menyatakan bahwa kebanyakan penyensoran karya seni terjadi karena alasan-alasan norma politik atau stabilitas politik. “Jadi ketika kabar lu­kisan Mas Yos Suprapto diminta dicabut, ma­ka sa­ya langsung terbayang jangan-jangan ada kritik politik di dalamnya,” tuturnya.

Dalam kasus Yos Suprapto, Usman menduga, masalah pembatalan pameran itu terjadi berkaitan dengan tema sentral yang diangkat, yakni tanah dan kedaulatan pangan.

Ia melihat, lukisan milik Yos Suprapto ini menjadi semacam penjembatan atau lidah dari masyarakat yang hak-haknya terpinggirkan oleh pembangunan yang haus dengan tanah, lapar tanah, dan tidak ramah lingkungan.

“Nah sampai di titik ini, sebenarnya ekspresi artistiknya Yos bukan sekadar ekspresi keindahan seni, tapi sesuatu yang bersifat etik. Jadi bukan lagi artistik, bukan lagi estetik, tapi sudah masuk dalam dimensi etik dalam bernegara, berbangsa, dan berma­syarakat,” ujar Usman.

Usman menyebut, ada kritik dari Yos Suprapto tentang negara yang tidak beretika di dalam mengelola tanah untuk masyarakat. Sehingga, banyak masya­rakat tidak mempunyai ke­daulatan atas tanahnya itu.

“Saya kira ini peringatan buat masyarakat kita, bahwa kebebasan berekspresi di Indonesia saat ini memang sedang dalam keadaan bahaya,” pungkas Usman. (jpg)