PADANG, METRO – Harapan keluarga Zulfirman Syah (41) warga Padang yang menjadi korban penembakan di Christchurch, Selandia Baru bersama anaknya Overeos Oemar Syah (2), agar bisa diberangkatkan untuk menjenguk langsung kesana akhirnya terwujud. Keinginan itu difasilitasi oleh Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Empat keluarga korban, Alhamdani, Yulierma, Handra Yaspita dan Nurhamidah bertolak ke Selandia Baru, Kamis (21/3). Mereka diberangkatkan dari Kota Padang ke Jakarta dan kemudian langsung ke Selandia Baru. Nantinya, pihak keluarga juga akan didampingi oleh pihak ACT Pusat.
Pelepasan keberangkatan keluarga Zulfirman Syah ke Selandia Baru, dilaksanakan di Kantor ACT Padang Jalan S Parman, Ulak Karang Selatan, Padang Utara yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah. Direncanakan, pihak keluarga akan berada di sana selama 14 hari,
Markom ACT Sumatera Barat, Dana Kurnia mengatakan untuk keberangkatan pihak keluarga, juga akan didampingi oleh anggota ACT pusat hingga ke Selandia Baru. Nantinya, pihak ACT pusat akan menunggu pihak keluarga di Jakarta setelah diberangkatkan dari Padang.
“Dari ACT Pusat ikut mendampingi memastikan apakah ada trauma healing bagi korban atau tidak, dan mengurus segala urusan disana sampai keluarga bertemu dengan Zulfirman Syah. Dijadwalkan berangkat ke Jakarta pukul 12.50 WIB, dan dari Jakarta ke Selandia Baru berangkat pada pukul 22.00 WIB,” kata Dana.
Kakak kelima Zulfirman Syah, Hendra Yaspita mengatakan pihaknya berterima kasih kepada ACT yang telah memberikan fasilitas agar keluarga bisa berangkat. Dengan keberanhkatan ini, menjadi obat bagi adik dan keponakannya yang saat ini tengah menjalani masa pemulihan pasca tragedi penembakan.
“Keluarga berangkat pukul 20.50 WIB ke Selandia Baru. Saya mohin doa seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat Ranah Minang agar Zulfiman Syah dan anaknya segera pulih, sehingga bisa beraktifitas kembali,” kata Hendra.
Hendra mengatakan keempat anggota keluarga yang berangkat yaitu tiga kakak kandung Zulfirman Syah dan seorang kakak iparnya. Keluarga akan menemani Zulfirman Syah selama proses pemulihan hingga dua pekan ke depan dan Zulfirman Syah tidak menyangka kalau anggota keluarganya akan datang kesana.
“Zulfirman Syah sudah kita kasih tahu apalagi kepada kakaknya yang Alhamdani. Dia merasa tidak percaya dan yakin bisa berangkat ke sana. Kayak mustahil ya. Jadi InsyaAllah dengan kedatangan kakaknya, Alhamdhani ini, jadi penghibur bagi Zulfirman Syah sehingga bisa puliha kembali,” ujar Hendra.
Hendra menjelaskan kondisi Zulfirman Syah sudah sangat membaik hingga saat ini. Bahkan setiap melakukan komunikasi melalui telepon maupun videocall dengan keluarga, Zulfirman Syah selalu tertawa dan melempar senyumnya, terlebih saat videocall dengan kakaknya, Alhamdani.
“Komunikasi dengan kakak-kakaknya selalu tertawa. Kondisi alhamdulillah semakin baik begitu juga anaknya. Sudah bisa komunikasi dan suaranya masih yang suara yang saya kenal dulu. Bicaranya happy ya, mudah-mudahan tidak ada trauma,” ujar Hendra.
Hendra mengungkapkan keluarga memang kerap melakukan komunikasi dengan Zul untuk memantau sejauh mana kondisi sang adik dan keponakannya. Selain itu, Zulfirman Syah juga menitip masakan ibunya untuk dibawa ke Selandia Baru, yaitu rendang, sala lauak, dan gulai pangek yang menjadi makanan kesukaannya.
“Zulfirman Syah sempat menitip sesuatu dari Indonesia. Katanya rindu merasakan masakan mama. Ada makanan yang kami bawa tapi takut bermasalah di keimigrasian nantinya, makanya enggak bisa kami bawa banyak. Mohon doanya keluarga yang berangkat juga baik-baik saja disana,” ungkap Hendra.
Hendra yang juga ikut ke Selandia Baru menambahkan, Zulfirman Syah telah menjalani operasi sebanyak 2 kali, dan berharap tidak ada operasi lagi. Untuk itu, ia tidak akan menyinggung persoalan tersebut akan berupaya mengajak mereka untuk bercerita membahas yang lain, supaya tidak ada trauma yang timbul pasca kejadian itu.
“Kita akan terus memberikan dukungan kepada Zulfirman Syah untuk pulih lagi. Mudah-mudahan tidak ada trauma. Kita berbicaranya juga dengan happy, dengan kita tidak menyinggung masalah. Kita cuma cerita masa kecil gimana masa kita bersama-sama,” ungkapnya.
Sementara itu, Branch Manager ACT Sumbar, Zeng Zellf mengatakan sejak terjadinya penembakan teroris di Selandia Baru, ACT Sumbar diperintahkan ACT Pusat untuk mengurus dokumen untuk memberangkatkan keluarga di Padang.
“Senin sudah keluar pasportnya, pagi tadi (kemarin) sudah keluar visanya, langsung dibelikan tiket untuk berangkat menuju Selandia Baru. Jam 12.50 berangkat dari BIM sampai di Jakarta, malamnya baru ke Selandia Baru,” kata Zeng.
Zeng menyebutkan, ACT Sumbar mengurus administrasi keberangkatan kepada pihak Imigrasi agar smeua dokumen bisa segera diselesaikan. Biasanya pengurusan pembuatan visa selama 6 hari. Tapi, karena ini saang mendesak, bisa selesai dalam satu harix
“Dari Jakarta ada perwakilan ACT Pusat sebanyak 4 orang. ACT Sumbar tidak ada yang berangkat, kita lebih memfasilitasi bagaimana proses pembuatan pasport visa dan lain sebagainya,” ungkap Zeng.
Wako Mahyeldi mengatakan, keberangkatan keluarga ke Selandia Baru mudah-mudahan ini menjadi proses percepatan penyembuhan terhadap korban dan anaknya dan ia juga selalu mendoakan agar segera diberikan kesembuhan.
“Pemko Padang juga sudah berkomunikasi dengan duta besar Selandia Baru yang ada di Jakarta, Roy Ferguson. Beliau sudah menyampaikan kepada kita bagaimana usaha-usaha pemerintah Selandia Baru terhadap korban,” pungkas Mahyeldi.
Seperti yang diketahui, Zulfirman Syah dan anaknya yang berusia 2 tahun, Overeos Oemar Syah, mengalami luka tembak ketika tragedi penembakan di 2 masjid di Christchurch, Selandia Baru, yakni Masjid Al-Noor dan Masjid Linwood Ave. Namun, Zulfirmas Syah sempat koma akibat terjangan peluru di tubuhnya, sedangkan anaknya mengalami luka tembak di bagian tangan dan kaki. (rgr)





