METRO SUMBAR

Lomba Bertutur se-Solsel, Gali Cerita Rakyat dan Tingkatkan Literasi

0
×

Lomba Bertutur se-Solsel, Gali Cerita Rakyat dan Tingkatkan Literasi

Sebarkan artikel ini
LOMBA BERTUTUR—Pjs Bupati Solok Selatan Adib Alfikri, pasangakan tanda peserta lomba bertutur, di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip, Senin (4/11).

PADANG ARO, METRO–Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Solok Selatan menggelar Lomba Bertutur tingkat kabupaten. Kegiatan ini adalah upaya menggali kembali kekayaan cerita rakyat dan legenda lokal di Solok Selatan dan menumbuhkan kecintaan para pelajar terhadap budaya daerah.  Acara ini dilangsungkan di halaman kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip, pada Senin (4/11).

Pjs. Bupati Solok Selatan, Adib Alfikri dalam sambutannya menyoroti pentingnya lomba bertutur sebagai wadah untuk mengembangkan keterampilan literasi dan wawasan budaya bagi pelajar.

“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi merupakan media yang sangat penting dan ber­manfaat untuk melatih keterampilan literasi serta memperkenalkan anak-anak pada budaya lokal. Mereka perlu tahu cerita rakyat kita, sebab dari sana kecintaan pada budaya akan tumbuh,” katanya.

Adib juga mengusulkan agar lomba serupa diadakan untuk kalangan pejabat di tingkat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai upaya memperkuat nilai budaya di lingkungan pemerintahan.

Selain peserta, lomba ini juga menghadirkan juri-juri berpengalaman yang siap menilai setiap penam­pilan. Juri utama adalah Taufik Efendi, atau akrab disapa Pak TE, yang merupakan Plh. Kepala Perpustakaan dan Arsip Solok Selatan. Ia didampingi oleh dua juri lain yang berasal dari kalangan pegiat literasi Sumatera Barat.

Kombinasi juri ini dipilih untuk menjamin penilaian yang objektif dan sesuai dengan kriteria penguasaan cerita, ekspresi, serta kekuatan bertutur yang dimiliki oleh masing-masing peserta.

Para peserta tampil penuh semangat, me­nyam­paikan cerita rakyat dan legenda dari berbagai daerah di Solok Selatan. Setiap penampilan membawa warna yang berbeda, dari cerita tentang kepahlawanan, dongeng-dongeng, hingga kisah kehidupan ma­syarakat tradisional.

Salah satu cerita yang dituturkan adalah Banca Tikuluak, cerita rakyat Lubuk Malako tentang seorang gadis yang durhaka kepada ibunya dan akhirnya mati tenggelam di sebuah rawa yang berada di Nagari Lubuk Malako.  Para peserta menunjukkan kebang­gaan pada warisan budaya mereka, sementara para hadirin terlihat terhibur dan terpukau dengan kisah-kisah yang jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. (ped/rel