PDG.PARIAMAN, METRO–Tewasnya Nia Kurnia Sari (18), gadis penjual gorengan keliling yang jasadnya ditemukan terkubur tak jauh dari rumahnya tanpa busana dan tangan terikat, membawa duka mendalam bagi keluarga. Apalagi, gadis cantik yang menjadi tulang punggu keluarganya itu diduga diperkosa dan dibunuh.
Hingga Selasa (10/9), suasana duka masih menyelimuti rumah almarhumah Nia. Isak tangis masih terdengar dari rumah duka yang berlokasi di Korong Pasa Surau, Nagari Guguak, Kecamatan 2X11 Kayu Tanam, Kabupaten Padangpariaman.
Melihat sadisnya dan kejinya perbuatan pelaku, keluarga Nia pun meminta agar Polisi menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku. Hal itu diungkap ibu kandung Nia, Eli Marlina. Ia menilai tindakan pelaku sangat keji dan tidak manusiawi sehingga pantas pelaku juga harus mati.
“Tangkap pelakunya, kalau nyawa, dibalas nyawa. Tembak mati saja pelakunya. Tak pantas pelakunya itu hidup,” kata Eli Marlina saat ditemui wartawan di rumahnya, Selasa (10/9).
Hal senada juga diutarakan Rini Mahyuni (19), kakak kandung korban. Ia juga meminta kepolisian untuk segera menangkap dan menghukum mati pelaku. Keluarga kata Srini, sangat merasa kehilangan atas peristiwa yang menimpa adiknya itu.
“Nia ini orangnya baik. Sering membantu orangtua. Orangnya ceria, kami pihak keluarga ingin pelaku pembunuhan segera ditemukan dan dihukum seberatnya. Kami tidak terima, Hukum mati,” kata Rini.
Rini pun masih mengingat sebelum adiknya ditemukan tewas. Saat itu Jumat (6/9), adiknya pamit untuk berjualan gorengan keliling. Namun hingga pukul 22.00 WIB, Nia tak kunjung pulang. Padahal biasanya setelah Magrib Nia sudah kembali ke rumah.
“Jam 10 malam, saat ibu pulang ngantar jemput adik ngaji, Nia belum juga pulang, ibu minta aku nyari Nia ke tempat biasanya dia berjualan. Malam itu cuaca tidak baik. Aku bersama keluarga mencoba mencari dan memanggil manggil Nia di lokasi TKP, karena di situ gelap tanpa penerangan,” kata Rini.
Di saat bersamaan informasi soal hilangnya Nia menyebar dari mulut ke mulut warga kampung, dan warga pun berduyun-duyun ikut mencari hingga tengah malam. Namun, Nia tetap tidak ketemu. Hingga esok harinya, Sabtu (7/9), warga dibantu juga oleh Tim SAR gabungan semakin masif melakukan pencarian di berbagai titik.
Barulah pada Minggu (8/9), keberadaan Nia mendapat titik terang. Nia dilaporkan ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dikubur di dalam lubang sempit tanpa busana. Keluarga begitu terpukul dengan musibah ini.
“Sangat terpukul kami keluarga dengan musibah ini. Nia itu beda dari kami yang bertiga, dia pintar, rajin, serta gigih dalam menggapai mimpi dan harapannya. Sekarang semua tinggal kenangan,” ucap Rini.
Menurut Rini, adiknya selama ini dikenal baik, rajin dan gigih membantu ekonomi keluarga tidak pernah memiliki musuh ataupun bersikap aneh yang dapat menyinggung perasaan orang lain. Nia juga dikenal ramah dan supel dalam bergaul. Di sekolah, dia juga berprestasi di bidang akademik maupun ekstrakurikuler bela diri. Bahkan rencananya bulan ini Nia akan mulai kuliah.
“Padahal rencananya bulan ini dia mulai masuk kuliah, semua tes dan persyaratannya juga sudah selesai, sekarang Nia hanya mencari tambahan uang untuk beli laptop. Tapi takdir berkata lain, adik saya sudah meninggal. Hanya doa yang bisa dipanjatkan oleh keluarga agar Nia tenang dan dapat diterima di sisiNya. Kami hanya berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi semua, dan pelaku dihukum seberat-beratnya,” ujar Rini.
Ayah Nia, Asril, mengungkapkan bahwa anaknya merupakan sosok yang baik dan pekerja keras. Nia ingin kuliah dan bercita-cita ingin jadi pekerja kantoran. Saat mendengar anaknya hilang, Asril langsung pulang ke rumah. Sehari-hari Asril berdakwah ke luar kota, sehingga jarang di rumah.
“Saat peristiwa itu terjadi, saya sedang tidak berada di rumah, saya di Medan. Mendengar Nia hilang saya langsung berangkat menuju rumah,” kata Asril saat ditemui di rumahnya yang sederhana.
Begitu dia sampai rumah, justru kabar duka yang diterima. Asril begitu sedih, apalagi Nia meninggal dalam kondisi tak wajar. Asril mengenang sosok anak keduanya itu sebagai pekerja keras. Nia banting tulang menjual gorengan untuk biaya masuk perguruan tinggi. Nia ingin menjadi pekerja kantoran.
“Kepada saya, Nia mengatakan ingin jadi pekerja kantoran. Nia baru saja tamat sekolah di Institut National Safi’i (INS) Kayu Tanam dan ingin kuliah,” kata Asril.
Keinginan itulah, lanjut Asril, yang membuat Nia sangat bersemangat menjajakan gorengan dari rumah ke rumah. Gorengan yang dia jual itu bukan dibuat sendiri melainkan gorengan yang dibuat oleh orang lain dan Nia yang menjajakan.
“Hasil jualan gorengan dibagi dengan orang yang punya. Demi cita-cita meskipun sedikit hasil ia kumpulkan dan ia tabung,” ucap Asril.
Menurutnya, hal yang membuat Nia tambah semangat mengumpulkan receh-receh adalah adanya bantuan Rp 1,5 juta untuk biaya masuk kuliah.
“Ada yang membantu Nia sebanyak Rp 1,5 juta untuk biaya masuk kuliah. Iya bertambah semangat dengan bantuan itu, kumpulkan receh-receh,” ungkap Asril.
Nia juga merupakan anak yang pintar. Selama sekolah, Nia selalu mendapat peringkat sehingga pihak sekolah juga menawarkan beasiswa untuk biaya perkuliahan.
“Namun ini takdir Allah, Nia telah wafat terlebih dahulu sebelum cita-citanya untuk jadi pekerja kantoran itu tercapai,” kata Asril sembari berusaha menahan tangis.
Polisi Buru Pelakunya
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Padangpariaman AKP Reggy mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tewasnya Nia. Bahkan, pihaknya sudah memeriksa sejumlah saksi, keluarga, tetangga hingga tiga pemuda. Anjing pelacak juga diterjunkan untuk membantu penyelidikan.
“Kami telah periksa beberapa saksi. Di antaranya adalah satu orang yang terakhir melihat korban, keluarganya yaitu ibu dan kakak perempuannya, dan tiga orang pemuda di Nagari tersebut,” kata AKP Reggy kepada wartawan, Selasa (10/9).
Dijelasan AKP Reggy, sebenarnya ada satu lagi pemuda yang dijadwalkan untuk dilakukan pemeriksaan. Namun pemuda tersebut kabur, tidak ada di rumahnya.
“Dari empat pemuda tersebut satu di antaranya belum ditemukan sampai saat ini, kita masih melakukan pengejaran,” kata Reggy.
AKP Reggy memastikan hingga saat ini polisi belum menentukan tersangka. Semua pihak yang diperiksa masih berstatus saksi. Selain itu, pelaku juga masih diburu dan pihaknya masih terus berupaya sekuat tenaga atau menggerakkan sumber daya untuk mengungkap kasus ini,
“Anjing pelacak dikerahkan menyusuri lokasi kejadian pada pukul 17.00 WIB, Selasa (10/9), untuk mencari barang bukti. Pakaian yang dikenakan korban belum didapatkan. Mudahan-mudahan kasus ini segera kami tuntaskan dan pelakunya bisa ditangkap,” ulas AKP Reggy. (*)






