PADANG, METRO–Sektor pertanian tanaman pangan dan hortikultura menjadi prioritas pembangunan di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) selama kepemimpinan Gubernur, Mahyeldi Ansharullah dan Wakil Gubernur (Wagub) Audy Joinaldy.
Berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar dalam empat tahun terakhir, membuat produksi komoditi tiga sektor tersebut semakin melimpah sehingga berdampak terhadap pertumbuhan perekonomian di Sumbar.
“Kemajuan pesat sektor pertanian dan perkebunan di Sumatra Barat kontribusinya sangat signifikan bagi perekonomian daerah,” sebut Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah.
Sebelumnya hal ini juga sudah ditegaskan Mahyeldi dalam Seminar Internasional yang menghadirkan pakar pertanian di Indonesia bahkan dari luar negeri akhir pekan lalu. Seminar itu digelar karena keberhasilan Pemprov Sumbar dalam mendorong sektor pertanian dan perkebunan di Sumbar.
Mahyeldi menyampaikan pentingnya sektor pertanian dalam mendukung perekonomian Sumbar dan berkontribusi terhadap Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah ini.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar tahun 2023, sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan menyumbang 21,20% terhadap PDRB.
Mahyeldi menggarisbawahi terjadi peningkatan kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni naik dari 2,18% pada tahun 2021 menjadi 3,52% pada tahun 2022 dan 3,54% pada tahun 2023. “Tentunya peningkatan ini didorong oleh peningkatan produksi pertanian di Sumatera Barat,” tegas Mahyeldi.
Mahyeldi menambahkan, laporan kemajuan produksi pertanian tahun 2023 menunjukkan peningkatan rata-rata 11,45% dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi padi, misalnya, meningkat dari 1,37 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada tahun 2022 menjadi 1,47 juta ton pada tahun 2023.
Selain itu, produksi cabai dan bawang juga naik rata-rata 10,2% pada tahun 2023. Pada 2023 produksi cabai Sumbar mencapai 127, 620 ton per tahun. Untuk bawang merah jumlah produksi pada 2023 berjumlah 233.915 ton. Di sisi lain produksi jagung pada 2023 juga mengalami kenaikan signifikan yakni 800,953 ton.
Sementara itu, komoditi perkebunan lainnya seperti kelapa sawit produksi 668.605 ton di 2023. Untuk kopi produksinya 14.053 ton, kakao 42,840 ton, gambir 13,970 ton, dan kelapa 79,361 ton sedangkan untuk karet produksinya sebanyak 145,585 ton.
Menurut Mahyeldi, peningkatan produksi pertanian ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani di Sumbar. Peningkatan produksi itu turut berpengaruh pada peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP).
Data terbaru BPS Sumbar menunjukkan adanya peningkatan NTP yang signifikan. Pada bulan Januari 2024, rata-rata NTP mencapai 116,49, lebih tinggi dari rata-rata NTP tahun 2023 sebesar 110,78. Peningkatan yang luar biasa malah terjadi pada bulan Juni 2024 ini dengan rata-rata NTP mencapai 125,33 atau naik 1,30 persen dari NTP pada bulan sebelumnya di tahun yang sama.
Mahyeldi menambahkan peningkatan pendapatan petani juga tercermin dalam hasil survei yang dilakukan oleh Balitbang Provinsi Sumbar bekerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand) beberapa waktu lalu.
“Pendapatan petani tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan meningkat rata-rata 14,22% dibandingkan tahun 2022 dan 2023,” ungkapnya.
Keberhasilan sektor pertanian ini tidak lepas dari kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan Pemprov Sumbar dibawah kepemimpinan Gubernur Mahyeldi.
“Kebijakan-kebijakan yang dilahirkan ini bermuara pada kesejahteraan petani dan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumbar 2021-2026. Dalam RPJMD itu sektor pertanian mendapatkan alokasi anggaran sebesar 10% dari APBD.
Pemprov Sumbar juga mengusung Program Unggulan (Progul) Sumbar Sejahtera untuk mendukung pembangunan pertanian. Program ini mencakup penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian, modernisasi dan hilirisasi pertanian, perlindungan dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan, serta pengembangan kelembagaan petani.
Selain itu, untuk mendukung konsep pertanian berkelanjutan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menerapkan berbagai inovasi seperti Good Agricultural Practices (GAPs), pembentukan Lembaga Sertifikasi Organik (LSO), dan pengembangan sekolah lapang pertanian rendah emisi.
“Kami juga mengembangkan smart farming dan membangun fasilitas pascapanen untuk mendukung Unit Pelayanan Pengembangan Pengolahan Hasil Pertanian (UP3HP),” jelas Mahyeldi.
Mahyeldi berharap inisiatif-inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dan mendapatkan masukan kritis dari para pakar untuk kemajuan pertanian Sumbar di masa mendatang.
“Menumbuhkan ketahanan, memanfaatkan kekuatan pertanian untuk masa depan berkelanjutan. Hal ini sangat relevan dengan dinamika pembangunan di Sumatera Barat saat ini dan tantangan di masa depan, termasuk di Sumatera Barat,” tutup Mahyeldi.(AD.ADPSB)






