METRO SUMBAR

Bupati Sabar AS Akui Hingga Kini Belum Ada Investasi Besar Masuk di Pasaman 

0
×

Bupati Sabar AS Akui Hingga Kini Belum Ada Investasi Besar Masuk di Pasaman 

Sebarkan artikel ini
ARAHAN—Bupati Pasaman Sabar AS bnerikan arahan saat rapat di ruangannya kemarin.

PASAMAN, METRO–Bupati Pasaman,Sabar AS mengatakan bahwa hingga saat ini belum ada investasi besar yang ma­suk ke Pasaman. ”Sekali lagi saya mohon, mari du­kung secara total, demi kepentingan bersama. Ti­dak hanya Bonjol, tapi Pa­saman secara umum. Mak­simalkan sosialisasinya. Ingat, kuncinya diso­sia­lisasi, agar informasi yang benar bisa sampai secara utuh kepada masyarakat,” kata Sabar AS, dalam rapat percepatan rencana in­vestasi energi panas bumi Bonjol di ruang rapat Bu­pati Pasaman.

Prinsipnya kata Sabar AS investasi ini harus jalan, kalaupun ada masalah, mari kita atasi bersama. Ini kepentingan bersama. Ke­pentingan daerah dan ke­pentingan masyarakat. Jangan gara-gara hal kecil, investasi harus tertunda. Muaranya, masyarakat juga yang akan rugi.

Kepada stake holder yang terlibat, mulai OPD terkait, camat dan forko­pimca Bonjol, Wali Nagari serta ninik mamak, diha­rapkan Bupati untuk mam­pu merangkul semua pihak yang berkepentingan dan bisa memfasilitasi suara-suara yang muncul di ma­syarakat.

”Ini proyek besar dan berdampak luas, baik un­tuk daerah maupun masya­rakat. Sama sekali bukan untuk kepentingan orang per-o­rang, apalagi bupati atau yang lainnya,” tegas bupati.

Kepada tim sosialisasi yang telah ditunjuk, di­harapkan maksimal be­kerja. Jangan sampai isu-isu yang kini bersileweran di medsos, bisa menga­lahkan kebenaran yang ada, lantaran informasi yang benar tidak sampai ke masyarakat. ”Saya minta Pak Camat Bonjol ‘all out’ di lapangan, kalau perlu 24 jam non stop. Ajak rekan-rekan Forkopimca, Ka­pol­sek juga Danramil. Rangkul semua pihak yang ber­kepentingan. Gunakan se­mua media yang ada, ter­masuk di masjid-masjid dalam setiap kesem­pa­tan,” pesan Bupati Sabar AS.

Dijelaskan bupati, ter­laksanannya proyek pem­bangkit listrik geothermal Bonjol, merupakan kebutu­han dan kebanggan bagi Pasaman. Kapan lagi inves­tasi swasta skala besar masuk ke Pasaman. Dan tolong dicatat, kalaupun bukan saya bupatinya nan­ti, saya harap Geothermal Bonjol tetap jalan, agar ekonomi masyarakat Pa­saman bisa lebih baik lagi,” tegas bupati Sabar AS.

Hal senada juga disam­paikan Sigit ST., Site Manager PT Medco Geothermal Sumatera selaku peru­sa­ha­an yang mendapatkan penugasan eksplorasi e­nergi panas bumi dari pe­merintah. ”Siapapun bu­patinya, siapapun camat­nya, Kami akan tetap jalan. Kami tahu sekarang lagi masa pilkada di Pasaman, tapi mohon kami jangan diseret seret ke ranah po­litik,” tegas Sigit.

Dikatakan, semula di­ren­canakan proses kon­struksi mulai diakukan bu­lan Juli sekarang. Namun karena kondisi yang ku­rang baik, progres itu ter­paksa dibatalkan dulu.

Diakui Sigit, dalam ta­hap pelaksanaan kegiatan, sejauh ini hampir tidak ditemukan kendala yang berarti. Kalau pun ada kendala-kendala, diyakini bisa diatasi, termasuk per­soalan harga ganti rugi tanah yang muncul saat ini.

Sementara itu, Dt. Mang­kuto Alam, ninik ma­mak Kenagarian Ga­nggo Mudiak, Kecamatan Bonjol, menyatakan dukungan pe­nuhnya atas rencana in­vestasi tambang energi panas bumi yang akan dilakukan di daerahnya. ”Kalau kurang tapak ta­ngan, jo nyiru kami tam­puangkan,” ujar Dt. Mang­kuto Alam usai pertemuan antara investor PT Medco Geothermal Sumatera (MGSu) dengan para ninik mamak yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Pasaman.

Menurut Dt. Mangkuto Alam, sebagai ninik ma­mak pemangku adat Sa­lareh Aia Bonjol, orien­tasinya tidak lain adalah bagaimana setiap kebi­jakan dan keputusan yang dikeluarkan men­datang­kan kemaslahatan bagi anak kemenakan.

”Masalah yang ada sa­at ini, merupakan hal biasa. Kalau soal ganti rugi tanah, bisa didudukan kembali. Tapi masyarakat sedikit terprovokasi akibat ‘di­goreng’ oleh oknum pe­rantau melalui media so­sial, yang padahal mereka sendiri tidak tahu duduk persoalannya,” ucap Dt. Mangkuto.

Diungkapkannya, soal ganti rugi tanah itu mun­cuat, lantaran ada yang menyebutkan nominal har­ga Rp.300 rb sampai Rp.400.000,- permeternya. Padahal standar harga ta­nah itu sudah ada dasar­nya, sesuai NJOP yang ditetapkan pemerintah. Namun, Datuak Mangkuto optimis, pembangunan pem­bangkit listrik energi panas bumi Bonjol, akan berjalan sebagaimana di­harapkan. (mir)